Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
92. Ini hanya salah paham


__ADS_3

"Astaga, apa yang kalian lakukan?! Kenapa berciuman?!" seru salah satu polisi yang tampak terkejut.


Wajar dia berekspresi demikian sebab Gugun dan Tuti bisa diibaratkan sebagai musuh. Tapi anehnya malah melakukan tindakan nyeleneh seperti itu.


Lantas dia dan temannya itu membungkuk, lalu menarik tubuh Gugun hingga membuatnya berdiri.


Barulah sekarang Gugun bisa melepaskan pagutan bibir Tuti dan tak menimpa tubuhnya.


Cepat-cepat dia mengusap sisa saliva dibibir, rasanya begitu jijik sekali. Akan tetapi anehnya dia tak merasa ingin muntah, tidak seperti saat dicium Mbah Yahya. Malah bekas ciuman tadi terasa ada manis-manisnya.


"Dasar gila kamu, Tut! Berani sekali mencium bibirku!" murka Gugun marah. Dia berlari masuk ke dalam apartemennya.


Seluruh wajah dia basuh dengan air yang mengalir, Gugun juga berkumur-kumur untuk menghilangkan bekas ciuman Tuti yang masih dia yakini adalah seorang laki-laki.


'Ya Allah, kenapa aku bisa bertemu mahluk seperti Tuti?! Ampuni aku ya Allah,' batin Gugun. Napasnya terdengar terengah-engah, dia menatap wajahnya yang memerah dari pantulan cermin besar di depan wastafel.


"Bapak-bapak lihat tadi, kan, apa yang dilakukan Gugun barusan?!" Mbah Yahya berucap kepada kedua polisi sembari menarik tangan Tuti. Gadis itu masih berbaring di bawah sana sambil terbengong, dia masih membayangkan adegan tadi dan wajah Gugun yang berada di atasnya. "Bukan Tuti yang mencium Gugun, tapi Gugun yang mencium Tuti!"

__ADS_1


Selanjutnya, Mbah Yahya akan menjadi provokator demi menyelamatkan Tuti. Sebab rasa-rasanya Gugun tidak berhasil dia pelet. Otomatis masalah ini tidak akan cepat selesai.


Ada beberapa faktor ilmu pelet itu tidak mampu bereaksi. Mungkin salah satunya adalah tingginya iman seseorang kepada Tuhan-Nya, apalagi jika orang tersebut rajin ibadah.


Itulah istimewanya mengapa kita semua dianjurkan untuk tidak meninggalkan sholat, karena supaya terhindar dari gangguan jin dan ilmu ghaib.


Mau sehebat dan sesakti apapun orang tersebut, tapi tetap kekuatan Allah lah yang nomor satu.


"Bapak ini siapanya Astuti?" tanya salah satu polisi menatap Mbah Yahya.


"Aku Daddynya Rama. Astuti ini bekerja sebagai asisten pribadinya Rama dan aku cukup mengenal dia." Mbah Yahya merangkul bahu Tuti lalu mengusap wajahnya. Sebab sejak tadi gadis itu masih bengong.


"Aku nggak mau tau, pokoknya Bapak harus penjarakan dia!" Gugun menuding wajah Tuti dengan jari telunjuknya. Tatapannya penuh kebencian.


"Sebaiknya kita semua pergi ke kantor polisi. Kita bereskan semuanya dan ada yang perlu kami periksa, Pak," ucap rekan polisi.


Melihat apa yang terjadi barusan dan mendengar apa yang diucapkan Mbah Yahya, membuatnya ingin mempertimbangkan kasus ini. Selain itu dia juga ingin memastikan Tuti benar-benar perempuan tulen atau bukan.

__ADS_1


"Mau apa ke kantor polisi segala?! Aku nggak mau!" tegas Gugun dengan gelengan kepala. Yang dia inginkan hanya Tuti masuk penjara, itu saja. Jadi tidak perlu berbelit-belit.


"Kalau Bapak nggak mau ikut ... berarti kasus Anda akan kami tunda."


Gugun sontak terbelalak. "Kenapa?"


"Karena adanya kejadian tadi dan kami mendengar pengakuan langsung dari Astuti kalau dia adalah perempuan tulen. Selain itu ... dia juga mengatakan kalau apa yang dia lakukan kepada Bapak karena Bapak ingin mencoba melecehkannya," jelas polisi panjang lebar.


"Menurutku ini hanya salah paham saja, Pak." Mbah Yahya ikut-ikutan membuka suara, sebab dia merasa gemas dengan tingkah Gugun yang masih kekeh pada pendiriannya. Ingin rasanya dia sembur wajahnya lagi sampai pingsan. "Tuti kayaknya punya trauma di masa lalu." Ini hanya sebuah tebakan dia saja. "Dan saat mereka pertama kali bertemu ... posisi Gugun sedang membuka kancing kemeja, jadi Tuti berpikir dia ingin memperkosanya."


"Apa benar itu?" Polisi menatap ke arah Tuti. Gadis itu mengangguk cepat.


"Iya, apa yang dikatakan Pak Yahya benar. Dan alasan saya berpenampilan laki-laki karena yang pertama adalah untuk menghindari pelecehan, lalu yang kedua supaya keluarga saya nggak mengenali saya, Pak," jelas Tuti. Bola matanya tampak berkaca-kaca, raut wajahnya menjadi sendu sekarang. "Saya sengaja pergi dari Karawang ke Jakarta, hanya karena saya ingin hidup dengan tenang sebagai seorang perempuan ... tapi kenapa nasib buruk selalu menimpa hidup saya?" Tuti menyentuh dadanya yang berdenyut sakit, kemudian tak lama dia pun menangis.


Air matanya itu terlihat begitu tulus dari dalam hati, kedua polisi itu dapat melihatnya dengan jelas. Sayangnya tidak dengan Gugun, pria itu justru berdecak sebal melihatnya.


'Pakai ngarang cerita segala, mana ditambah nangis. Dasar bencong cengeng!' batin Gugun dengan jengkel.

__ADS_1


...Bukannya jatuh cinta, eh Om Gugun makin benci 🤣 gimana ini, Mbah? Peletmu ga manjur ternyata 😆...


__ADS_2