
"Serius kamu belum menikah, Gun?" tanya Mbah Yahya yang tampak tak percaya.
"Belum, Pak."
"Sengaja jomblo atau nggak laku?"
"Daddy ih! Kok bilang kayak gitu!" tegur Rama seraya menepuk kasar paha kiri Mbah Yahya. Bisa-bisanya asal ceplos begitu, Rama jadi takut jika Gugun dan Sisil akan berubah pikiran nantinya.
"Awalnya sengaja jomblo, karena ada sesuatu hal. Tapi sekarang jomblonya keterusan, mungkin memang benar ... aku nggak laku," jawab Gugun mengakui.
"Kakak ngomong apa, sih?" tegur Sisil mendengkus. "Mana mungkin Kakak nggak laku, Kakaknya saja yang belum bisa move on dari Citra!"
"Oh, Kak Gugun suka sama Citra? Apa mantannya dulu?" tebak Rama.
"Hanya sekedar suka, Pak. Hubunganku dengan Nona Citra hanya sebatas bos dan asisten Ayahnya."
"Jadi kamu kerja jadi asisten Ayahnya Citra, Gun?" tanya Mbah Yahya.
"Iya, Pak." Gugun mengangguk.
"Tapi bukannya Ayahnya Citra sudah jadi almarhum, ya, kok kamu masih jadi asistennya, sih? Mending berhenti saja, Gun, terus kerja sama aku jualan batu akik. Mau nggak?" tawar Mbah Yahya.
"Apaan sih Daddy, batu akik Daddy aja sepi pembeli, pakai nawarin kerja orang," cerocos Yenny. Kadang dia suka sebal mendengar suaminya ngomong. "Biarin aja kali Gugun jadi asisten Ayahnya Citra, kan itu urusan dia."
"Iya, Mom. Kan Daddy cuma nawarin," balas Mbah Yahya dengan bibir yang mengerucut.
__ADS_1
"Kebetulan aku kerja jadi asisten itu kontraknya seumur hidup, Pak. Itu memang sudah janjiku pas kerja sama almarhum Pak Danu. Kalau bukan dari Pak Danu atau Nona Citranya, aku nggak akan berhenti kerja di sana."
"Memangnya ada janji apa kamu sama dia?" tanya Mbah Yahya penasaran.
"Masalah itu ...."
"Udah nggak usah dijawab, Gun," sela Yenny cepat. Dia merasa tidak enak, sebab seperti mencampuri urusan pribadi Gugun. Padahal tujuan mereka adalah Sisil. "Ini si Rama, barang kali mau ngomong sesuatu." Menoleh ke anaknya. Peka sekali Yenny, memang iya ada hal yang ingin Rama sampaikan.
"Aku izin mau pasangkan cincin untuk Sisil boleh nggak, Kak?" tanya Rama seraya merogoh saku atas jasnya, lalu mengambil sekotak cincin dan membukanya. Benda itu tampak berkilau dan cantik, ada berlian di tengah-tengahnya berwarna putih.
Kalau misalkan dibolehkan dan Sisil mau, Rama menganggap kalau Sisil memang benar sudah menerima untuk jadi istrinya.
"Tentu boleh dong, Pak," jawab Gugun sambil mengangguk.
'Tenyata Daddy nggak bohong. Sisil benar-benar menerimaku,' batin Rama. Ingin lompat-lompat rasanya dia sekarang, apalagi bisa menyentuh tangan yang terasa lembut milik Sisil. Hanya saja dia malu, takut Sisil jadi ilfil.
"Oh ya, kamu ingin minta mahar apa, Nak?" tanya Yenny menatap Sisil.
Gadis itu langsung menarik tangannya dari tangan Rama, kemudian Rama kembali duduk di sofanya. Dia juga ingin mendengar jawaban dari Sisil.
"Maaf, Mom, tapi mahar itu apa, ya?" tanya Sisil bingung.
"Mas kawin. Kamu tahu mas kawin, kan?" tanya Yenny
"Iya, kalau mas kawin aku tahu." Sisil mengangguk.
__ADS_1
"Jadi kamu mau apa buat mas kawin? Aku akan membelikan apa pun yang kamu mau, Sil." Sekarang Rama yang bertanya. Akan tetapi Sisil tampak terdiam seperti memikirkannya.
"Seperangkat alat sholat saja, Pak Rama," sahut Gugun.
"Kalau seperangkat alat sholat, dibingkisan seserahan sudah ada, Gun," ucap Yenny.
"Ya nggak apa-apa, kan enak itu sudah ada." Gugun tidak mempermasalahkan tentang mahar atau apa pun itu, yang terpenting adalah kehidupan Sisil ke depannya jauh lebih cerah ketimbang masa kecilnya.
"Terus, ada uang pelangkahnya nggak, Gun?" tanya Yenny. "Atau kamu kepengen sesuatu?"
"Uang pelangkah?" Kening Gugun tampak mengernyit. Dia bingung dengan apa yang Yenny katakan. "Uang pelangkah itu apa, Bu?"
"Kata orang dulu, kalau adiknya lebih dulu menikah ketimbang Kakaknya ... itu kamu bisa minta uang atau barang untuk pelangkah kepada Rama."
"Oh, soal itu aku juga nggak minta apa-apa, Bu. Cuma aku hanya ingin berpesan kepada Pak Rama ...." Gugun menatap ke arah Rama yang kebetulan sama-sama menatapnya. "Kalau kalian sudah menikah. Aku minta, sekesal-kesalnya atau semarah-marahnya Bapak kepada Sisil ... tolong Bapak jangan berbicara kasar apalagi sampai main tangan." Bola mata Gugun tampak berkaca-kaca, lengannya lantas terulur ke bahu Sisil. "Karena aku sangat menyayangi Sisil lebih dari nyawaku sendiri, Pak," tambahnya dengan raut memohon.
"Aku berjanji dan akan membuktikannya, Kak," jawab Rama dengan yakin.
"Rama orangnya sabar, baik hati, penyayang, nggak sombong, rajin menabung dan rajin sholat serta bersedekah," ucap Mbah Yahya memuji. Tetapi faktanya memang Rama orangnya seperti itu. Dia bisa dikatakan sempurna, hanya kekurangannya ada pada burungnya. "Aku yakin ... Rama akan menjadi suami yang baik untuk Sisil, Gun."
"Iya, Pak." Gugun mengangguk.
"Tapi bagaimana kalau rumah saja maharnya?" Sisil tiba-tiba berucap demikian dan langsung mengalihkan atensi mereka semua.
...Vote dan hadiahnya dong kasih, biar semangat 🙏 nanti sore aku up lagi 🙂...
__ADS_1