
"Oh. Iya, Dek, nanti aku carikan bioskop yang sesuai dengan keinginanmu," sahut Rama mengerti.
"Om sudah mandi belum?" tanya Sisil pura-pura. Aslinya dia tahu betul jika Rama pasti sudah mandi. Itu hanya alibi saja, siapa tau Rama ingin mengajaknya mandi bareng.
"Aku sudah mandi tadi, Dek," jawab Rama. "Kamu mandi dulu saja sana, aku akan carikan bioskop yang sesuai keinginanmu di google. Biar habis sarapan kita bisa langsung pergi." Rama mendudukkan bokongnya di atas kasur, lalu merogoh ponsel yang ada di kantong celana.
Sisil mengerucutkan bibirnya, sebab merasa tak puas dengan jawaban Rama.
"Aduh ... badanku kok sakit banget, ya, buat berdirinya," keluh Sisil yang baru saja berdiri sambil menyentuh tengkuknya. Tubuhnya memang benar terasa sakit dan kaku, tapi dia masih mampu berdiri
Lagi-lagi dia seolah mencari perhatian dari Rama. Yang sebenarnya adalah dia ingin digendong.
Fokus Rama langsung teralihkan, dengan sigap dia pun menghampiri Sisil, lalu meraih tubuh untuk dia gendong.
"Biar aku gendong, ya, Dek, sampai kamar mandi," ucap Rama seraya mengecup kening sang istri, kakinya melangkah menuju kamar mandi.
"Padahal aku bisa sendiri kok, Om. Om mah lebay deh," balas Sisil sambil merengut manja. Wajahnya terlihat memerah sekarang, tangannya pun menyentuh dada Rama.
"Nggaklah. Masa lebay," sahut Rama. Dia membuka pintu kamar mandi, kemudian masuk ke dalam sana. "Mau berendam apa dishower mandinya, Dek?"
"Dishower aja, Om."
__ADS_1
Rama pun menurunkan Sisil dibawah shower, lalu membantunya membuka selimut yang sejak tadi melilit tubuhnya.
"Aku tunggu diluar ya, Dek. Kamu mandinya yang bersih." Rama tersenyum hangat, lalu mengelus rambut Sisil. Untuk sebentar dia memerhatikan tubuh polos yang selalu membuat miliknya berdiri itu, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi.
Sisil pun terdiam dengan raut kecewa, dia berdiri dan masih menatap Rama yang sudah menghilang. 'Kok Om Rama langsung pergi, sih? Nggak ada inisiatif apa, bantuin aku mandi,' batinnya kesal.
Rama duduk lagi di atas kasur, lalu menatap ponselnya. Baru saja dia hendak mencari bioskop lagi pada artikel pencarian, tapi tiba-tiba saja ada panggilan masuk yang entah dari siapa. Sebab nomor tidak dikenal.
Merasa penasaran dan takut jika penting, Rama pun mengangkatnya.
"Halo, Ram. Kok kamu dari kemarin-kemarin susah dihubungi, sih? Dan kenapa kamu tega banget pas aku pingsan ditinggalin? Terdengar suara perempuan yang marah-marah dari seberang sana. Suaranya terdengar familiar.
"Maaf, tapi ini siapa?" tanya Rama bingung.
"Nggak disave?!" Rama terdiam dan langsung memikirkan. Rasa-rasanya jangankan menyimpan nomornya, menghubungi Fuji saja dia belum pernah meskipun dia sendiri memiliki kartu namanya. "Maaf, Fuj, tapi perasaan aku belum pernah menghubungi kamu deh."
"Pernah. Kamunya saja yang lupa," gerutu Fuji. "Sekarang kamu ada di mana, Ram? Apa sudah pulang ke Indonesia?" tanya Fuji penasaran.
"Belum. Masih di Korea," jawab Rama. "Ada apa memangnya?"
"Aku boleh minta tolong sama kamu nggak, Ram?" pinta Fuji.
__ADS_1
"Tolong apa?"
"Kamu datang ke rumahku. Aku takut banget soalnya."
"Takut kenapa, Fuj?"
"Aku merasa nggak aman. Kayak ada yang teror aku dari kemarin. Semalam saja jendela rumahku ada yang pecahin, Ram," jelas Fuji panjang lebar.
"Kamu coba telepon polisi saja, Fuj," saran Rama.
"Udah, Ram. Dari pagi aku sudah melaporkanya ke polisi. Tapi mereka nggak menindaklanjuti," jawab Fuji dengan suara sendu. "Kamu bisa nggak, sih, ke rumah aku bentaran aja. Aku mohon, Ram. Aku takut," pintanya memohon.
"Aku ke rumah kamu nanti mau ngapain? Aku juga nggak ...." Ucapan Rama menggantung kala mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka.
Ceklek~
Pria tampan itu pun menoleh, lalu tersenyum manis saat melihat sang istri melangkah dengan memakai lilitan handuk di atas dada.
"Udah selesai mandinya, Dek? Kok cepet?" tanya Rama heran.
"Iya, ngapain lama-lama," jawab Sisil kemudian duduk di samping Rama dan mulai melepaskan handuknya untuk menyeka tubuh. "Tapi Om lagi teleponan sama siapa?"
__ADS_1
Dilihat memang, Rama masih memegang ponsel yang menempel di telinga kanan. Sebab memang panggilan itu belum usai.
...Jawaban Om menentukan nasib selanjutnya 🤣...