Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
185. Benci jadi cinta?


__ADS_3

"Aa ... bangun, A," ucap Sisil dengan lembut seraya menggoyangkan tubuh Rama.


Pria itu pun menggeliat sebentar, lalu mengerjapkan matanya. Segera Sisil memakaikan kacamata kepadanya, supaya Rama bisa langsung melihatnya dengan jelas.


"Memang jam berapa, Dek? Dan kok kamu cantik banget? Mau ke mana?" tanya Rama heran, sembari memerhatikan wajah dan tubuh Sisil.


Selain sudah memakai gaun, Sisil juga sekarang sudah memakai full make up. Rambutnya pun digerai dengan bando kecil berwarna putih.


Hanya saja, raut wajahnya tampak cemberut.


"Mommy dan Daddy buat acara di halaman rumah, A. Ayok sekarang Aa mandi, terus pakai jas yang Mommy berikan tadi." Sisil menunjuk stelan jas yang berada di atas sofa.


Rama pun bangkit, lalu turun dari kasur. "Acara apa memangnya, Dek?"


"Buka bersama," jawab Sisil. Dia pun berjalan mengikuti Rama yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. "Ini Aa mau sekalian berendam dulu nggak? Mau aku siapin air hangatnya?"


"Enggak usah, Dek. Terima kasih." Rama membuka satu persatu kancing kemejanya, tapi saat hendak melepaskan benda itu dari tubuhnya—gerakan tangannya pun seketika terhenti sebab melihat Sisil belum keluar dari kamar mandi. "Kamu mau ngapain, Dek? Apa mau pipis?"


"Enggak mau ngapa-ngapain, A." Sisil menggeleng dengan wajah merona.


"Terus, kok nggak keluar?"


"Aku mau bantuin Aa mandi. Barang kali Aa kesulitan. Kan dari pas di rumah sakit aku dilarang membantu, Daddy terus sama beberapa perawat." Sisil mendekat, lalu menarik kemeja Rama hingga terlepas. Kedua matanya itu sontak melotot, saat melihat beberapa potong roti sobek milik suaminya.


Meskipun tampak sudah agak samar lantaran Rama sudah lama tak nge-gym, tapi tetap saja masih menggoda. Hingga tak sadar dia menelan salivanya sendiri.


"Duuuhh, Dek. Bisa-bisa kamu batal puasa. Mending kamu keluar saja, sayang sama puasamu!"


Melihat ekspresi Sisil yang terlihat sedang birahi, tentu membuat Rama cemas sendiri. Dan karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan, dia pun memilih untuk buru-buru menariknya keluar kamar mandi, lalu menguncinya dengan rapat.


"Ih Aa! Kenapa aku ditarik keluar?!" teriak Sisil mengomel sambil menggedor-gedor pintu. Dia masih senang menikmati pemandangan perut suaminya, jelas jadinya marah.


Dia juga awalnya ingin mengulur waktu menunggu adzan tiba.


"Nanti puasamu makruh, Dek! Nanti saja bantu aku mandinya, setelah buka puasa!" seru Rama dari dalam, kemudian tak lama terdengar suara kran air.


"Ish!" Sisil mendesis kesal, lalu memanyunkan bibirnya. 'Pokoknya setelah buka puasa dan setelah makan bersama ... aku akan kurung Aa di dalam kamar! Siapa pun nggak boleh menganggu kita berdua! Titik!' tegasnya bertekad dalam hati.


*

__ADS_1


*


*


"Waahhh ... cantik dan tampan sekali kalian. Benar-benar pasangan yang serasi," puji Rima saat melihat kedatangan Rama dan Sisil.


"Terima kasih, Mbak," ucap Sisil sambil tersenyum malu-malu. Wajahnya juga terlihat merona. Segera dia pun mengeratkan gandengan tangannya kepada Rama.


"Sama-sama."


"Pilihan warna dan pakaian yang Mommy pilih nggak pernah salah, kan, ayok sekarang kalian duduk," titah Yenny sambil menunjuk kursi yang berada di sampingnya.


"Iya, Mom." Sisil mengangguk, dia pun menunggu Rama yang saat ini tengah menggeserkan kursi untuknya. Setelah dia duduk, Rama pun ikut duduk di sampingnya.


Meja yang dipesan Yenny berbentuk persegi empat besar.


Yenny, Mbah Yahya, Rama dan Sisil berada dideretan yang sama. Di samping kanan kiri mereka ada Rima, Panji, Raina dan Raisa. Sedangkan di depan hanya Evan seorang. Tapi nanti dia akan duduk bersama Tuti dan Gugun juga, hanya saja kedua orang itu belum sampai.


"Kak Gugun kok nggak diajak, Dad?" tanya Rama menatap Mbah Yahya.


"Diajak kok. Kata Evan sih tadi bilang ada di jalan, mungkin sebentar lagi sampai."


"Iya, Tuti juga diundang. Mungkin nanti berangkatnya bareng sama Gugun." Ini bukan tebakan, melainkan asal saja.


"Daddy udah tau, ya, kalau Mbak Tuti sama Kakak pacaran?" tanya Sisil menatap mertuanya.


"Masa sih, pacaran? Kamu kata siapa, Sil?" Respon Mbah Yahya justru aneh, tapi memang dia tidak tahu.


"Dari Kakak," jawab Sisil. "Berarti Daddy nggak tau, ya?"


"Iya, Daddy nggak tau. Malah taunya dari kamu sekarang."


'Hebat banget Pak Gugun. Padahal belum lama dia putus sama Nona Gisel, tapi sekarang udah mendapatkan gantinya,' batin Evan penuh tanya. 'Tapi kenapa musti sama Tuti? Bukannya dia itu benci sama si Tuti, ya? Apa mungkin ini yang dinamakan benci jadi cinta?'


"Udah lama memangnya mereka pacaran, Dek?" tanya Rama yang juga baru tahu. Tuti juga bukan tipe perempuan yang selalu bicara blak-blakan, apalagi mengenai kehidupan pribadinya.


"Katanya sih belum lama, A."


"Paling baru kemarin, Sil. Habis dia putus sama si Gisel," balas Mbah Yahya menimpali.

__ADS_1


"Gisel?!" Rama terlihat mengerutkan keningnya, begitu pun dengan Sisil. Dia juga terlihat memikirkan nama yang disebutkan Daddy mertuanya itu.


"Gisel itu bukannya orang yang mengaku-ngaku mantannya Aa ya, Dad? Yang Daddy sembur pas aku dan Aa nikah itu, kan?" tebak Sisil.


"Iya." Mbah Yahya mengangguk. "Daddy juga taunya dari Evan, sih, kalau mereka itu pacaran."


"Tapi mereka sudah putus kok, Nona," ucap Evan yang tiba-tiba bicara. Lidahnya terasa gatal sekali, saat dia mendengar nama perempuan yang dia cintai itu tengah dibahas. "Dan sekarang Nona Gisel sudah jadi pacar saya."


"Katanya cintamu ditolak, Van! Kok malah bilang pacar sekarang?" Mbah Yahya tiba-tiba ngegas. Dia pun langsung melototi asistennya.


"Memang ditolak, Pak. Tapi saya menganggap, saya dan dia sudah ...." Ucapan Evan seketika terhenti oleh sendirinya, lantaran melihat Tuti tiba-tiba saja datang bertepatan dengan suara adzan Maghrib yang berkumandang.


"Allaahu Akbar Allaahu Akbar."


"Assalamualaikum, maaf kalau menunggu lama. Tadi dijalan saya terjebak macet," ucap Tuti sambil menunduk kepala.


"Walaikum salam, nggak apa-apa, Tut, ayok sekarang duduk," jawab Yenny sambil tersenyum, dia mewakili semuanya. Tapi semua orang sudah sempat menjawab salam dari Tuti.


"Terima kasih, Bu." Tuti mengangguk, kemudian menarik kursi di samping Evan dan duduk di sana.


"Ini mau langsung makan atau tunggu Kakaknya Sisil sampai, Dad?" tanya Rima setelah selesai menenggak segelas air, membatalkan puasanya. Kedua anak kembarnya juga melakukan hal yang sama.


"Bagusnya sih tunggu Gugun, Rim. Nggak enak soalnya Daddy udah undang dia," jawab Mbah Yahya.


"Untuk sementara kalian batalkan puasanya saja dulu, terus makan sop buah. Baru nanti makan nasinya nunggu Gugun," usul Yenny.


Mereka semua pun mengangguk, lalu membatalkan puasa dan menikmati sop buah yang memang sejak tadi sudah ada di atas meja.


"Coba telepon Gugun lagi, Van. Tanyakan dia ada di mana. Kok belum sampai juga," titah Mbah Yahya. Evan pun mengangguk dan langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel.


"Aku kira Kakak datang sama Mbak Tuti. Tapi ternyata Mbak Tuti datang sendirian," ucap Sisil sembari menatap Tuti. Dan perempuan di depannya itu hanya diam tapi juga memandangnya.


"Kata Sisil kamu dan Gugun pacaran, Tut. Apa tadi Gugun nggak menjemputmu?" tanya Yenny.


"Enggak, Bu." Tuti menggeleng dan tersenyum kecil.


"Apa Mbak lagi berantem sama Kakak?" tanya Sisil penasaran.


"Sebenarnya saya dan Pak Gugun ...."

__ADS_1


...Digantung 🤣✌️...


__ADS_2