Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
134. Jangan sampai dia selingkuhin kamu


__ADS_3

"Dih, Bapak, saya 'kan ...." Dono masih kekeh ingin menolak. Akan tetapi ucapannya itu seketika menggantung kala melihat seseorang datang menghampiri mereka.


"Dad! Ayok kita pulang!" perintahnya. Dia adalah Rama.


"Lho, kok, pulang? Si Steven 'kan belum dikubur, Ram."


"Steven nggak jadi meninggal, Dad."


"Kok nggak jadi meninggal? Gimana urusannya?" tanya Mbah Yahya yang tampak bingung, sekaligus tak mengerti.


"Kata Kak Sofyan sih mati suri. Udah ayok Daddy pulang, aku mau pergi ke kantor soalnya," ajak Rama. Kemudian menarik tangan sang Daddy untuk ikut dengannya.


Dono yang mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu langsung mencoba menghubungi Angga, memastikannya sendiri.


"Kamu melihat langsung nggak, si Steven bangun lagi? Bisa saja si Sofyan berbohong." Mbah Yahya sudah duduk, tapi dikursi depan sebab tak ada Sisil di dalam mobil itu.


"Iya, dia bangun pas dicium Citra dan diberakin burung." Rama menarik gas mobilnya, kemudian mulai mengemudi.


"Burung memangnya bisa berak, Ram?" Mbah Yahya menyentuh inti tubuhnya, rupanya burung yang dia maksud bukan burung yang Rama maksud.


"Dih bisa. Burung Kakaktua, namanya Kevin kalau nggak salah."


"Oh ...." Mbah Yahya mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia tahu burung itu, burung peliharaan Angga dan temannya sering menceritakannya. "Ah, padahal Daddy kepengen banget ikut nguburin si Steven, Ram. Jadi sia-sia begini," tambahnya sambil mendengkus.


"Kok bilang sia-sia? Harusnya Daddy bersyukurlah, si Steven hidup lagi. Memangnya nggak kasihan sama Citra dan anak-anaknya?" Rama menoleh sebentar ke arah Mbah Yahya.


"Kasihan. Cuma tanah kuburan dari orang yang baru meninggal itu 'kan bagus banget buat prakteknya Daddy, Ram. Ilmunya cepat ampuh kalau dipakai."


"Lho, bukannya Daddy kehilangan cincin, ya? Kata Mommy ... kalau cincin itu hilang, kesaktian Daddy juga hilang."


"Itu benar." Mbah Yahya mengangguk dan terlihat begitu lesu. "Itu sebabnya rumah praktek Daddy ditutup. Daddy sama Evan juga pusing, nyari cincin itu nggak ketemu-ketemu. Entah hilang ke mana."


"Ya sudah sih, Dad, ikhlaskan saja kalau memang beneran hilang mah," ucap Rama dengan santai. "Mungkin ... itu jalan supaya Daddy bertobat. Ini 'kan juga bulan ramadhan, bulan penuh ampunan. Jadi waktu yang cocok buat Daddy bertobat."


Mbah Yahya menggelengkan kepalanya. "Daddy belum mau bertobat, masih banyak PR yang musti Daddy kerjakan."

__ADS_1


"PR apaan, sih, memangnya sekolah?" Rama mendengkus. "Udahlah, Dad ... kalau pun Daddy sudah pensiun menjadi dukun, toh masih ada aku. Biar aku yang membiayai semua kebutuhan Daddy, Mommy dan Rara. Aku masih mampu kok." Rama menepuk dadanya. Rara adalah adik bungsunya yang masih sekolah diluar negeri.


"Ini bukan tentang uang, Ram. Tapi tentang ilmunya. Kalau Daddy berhenti jadi dukun ... ilmu beserta cincin itu harus diberikan kepada penerusnya. Jadi nggak bisa asal."


"Evan saja yang suruh nerusin. Aku sih nggak mau." Rama menggeleng cepat.


"Iya, si Evan. Tapi 'kan masalahnya cincin itu belum ketemu, gimana, sih?" geram Mbah Yahya. Lama-lama dia jadi kesal sendiri. Ditambah, Mbah Yahya belum mau bertobat, tapi malah disuruh tobat.


"Eemm ... maaf, nanti aku bantu Daddy cari cincinnya deh," sahut Rama.


"Ngomong-ngomong ... si Sillit ke mana? Kok nggak ikut kita pulang?" Mbah Yahya memutar kepalanya ke belakang, dia baru menyadari menantu perempuannya itu tak ada di dalam mobil.


"Udah aku antar ke kampus, hari ini dia masuk kuliah lagi."


"Lho, ngapain lanjut kuliah lagi?"


"Memangnya kenapa?" Rama berbalik tanya. Kemudian menoleh lagi sebentar.


"Kan dia sudah menikah. Nggak perlu lah kuliah lagi, mending fokus buat ngurus suami dan program hamil. Daddy 'kan kepengen punya cucu laki-laki dari kamu, Ram."


"Tapi nggak pakai KB 'kan, si Sisilnya?"


"Setauku nggak." Rama menggeleng.


"Bagus deh." Mbah Yahya menghela napas lega. "Tapi ngomong-ngomong ... burungmu sampai sekarang masih berfungsi, kan, Ram?"


"Maksudnya?" Alis mata Rama bertaut.


Kebanyakan mengobrol jadi tak terasa sudah sampai depan gerbang rumah Mbah Yahya, tapi pria itu enggan untuk turun, sebab pembicaraannya belum selesai.


"Maksud Daddy, masih bangun. Jangan bilang dia mati lagi? Kasihan si Sisil nanti, kalau kepengen. Jangan sampai dia selingkuhin kamu, Ram."


"Alhamdulillah masih, Dad. Malah kebangun mulu setiap didekat Sisil. Kayak ada magnetnya gitu."


"Bagus deh." Mbah Yahya membuka pintu, kemudian turun dari mobil. Kaca mobil Rama pun diturunkan. "Oh ya, kalau misalkan kamu bertemu Gisel ... usahakan hindari, ya, Ram, Daddy nggak mau dia jadi penganggu rumah tanggamu."

__ADS_1


"Siap, Dad." Rama mengangguk cepat. "Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


***


Sudah lama rasanya, Sisil baru masuk kuliah lagi. Mungkin terakhir kali, saat insiden dia diperkosa.


Suasana pun menjadi sangat berbeda, apalagi di dalam kelas jurusannya. Semua teman-temannya seolah menjauh, mungkin terkecuali Citra, tapi sayangnya gadis itu hari ini tak masuk kuliah.


Hampir semuanya berbisik-bisik tentangnya di belakang. Tapi meski begitu, Sisil dapat mendengarnya.


Dari hal tentang Lusi yang berhasil dipenjara, kasus dirinya diperkosa oleh Rama, sampai dia putus dengan Arya karena menikah dengan Rama.


Bukannya simpati, mereka justru terlihat tidak menyukai gadis itu. Padahal jika dipikir-pikir, Sisil di sini hanyalah korban.


'Apa hanya perasaanku saja, ya? Mereka semua seperti menjauhiku? Tapi salahku apa?' batin Sisil sambil menatap sekitar. Saat ini dia tengah mencatat materi yang tengah di jelaskan oleh dosen pria di depannya. 'Semoga saja Citra besok kuliah, jadi aku ada temannya.'


"Oke. Materi hari ini cukup sampai di sini, kalian boleh beristirahat," ujar Pak Dosen. Dan semua mahasiswa dan mahasiswi itu langsung menyeru.


"Baik, Pak!"


Setelah itu, dia keluar dari ruang kelas. Dan disusul beberapa mahasiswa dan mahasiswi di dalam sana.


Sisil menghela napasnya, lalu membereskan buku beserta alat tulisnya ke dalam tas. Namun tiba-tiba saja, seseorang yang baru saja datang langsung menarik tangannya. Hingga membuat tubuhnya itu berdiri dari duduk.


"Sil! Ikut aku! Aku ingin bicara sama kamu!" pintanya yang langsung menarik tangan Sisil, kemudian membawanya keluar dari kelas.


Sisil sontak terkejut, sebab yang menariknya itu adalah Arya. "Bicara apa, Kak? Dan kita mau ke mana? Lepas!" teriak Sisil memberontak.


Bukannya terlepas, Arya justru makin kencang menarik tangannya. Dia membawa gadis itu ke dalam kelas lain yang kosong dan tak ada mata kuliahnya hari ini.


Dan tanpa sepengetahuan mereka, Rosa melihat keduanya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2