
"Nggak ada."
"Kalau upil bagaimana?" Rama langsung memasukkan jari telunjuknya ke lubang hidung. Mendeteksi ada atau tidaknya kotoran itu.
"Nggak."
"Kalau gigiku gimana? Kuning nggak? Apa ada cabe gitu?" Sekarang Rama nyengir kuda. Memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Nggak, Ram!" tegas Mbah Yahya kesal. Kemudian tak lama pintu itu pun dibuka.
Ceklek~
"Maaf, kalian siapa?" tanya seorang wanita dewasa berambut pendek. Tubuhnya gempal berwarna putih. Dia memakai rok mini dan tanktop berwarna putih.
Mbah Yahya memperhatikan wajahnya, kemudian membandingkan dengan sketsa gambar Sisil yang dia pegang.
"Lho, sudah lama nggak ketemu kok sekarang kamu gendut? Padahal beberapa bulan yang lalu kamu seksi sekali," ucap Mbah Yahya. Jelas sekali dia mengira wanita di depannya itu adalah Sisil.
Wanita berbadan gempal itu sontak membulatkan matanya. Refleks dia langsung menampar pipi kiri Mbah Yahya sebab merasa jengkel disebut gendut.
Plak!!
"Kurang ajar sekali kamu aki-aki bau tanah! Berani mengataiku gendut!" geramnya. "Aku nggak gendut!" Dia memekik kemudian langsung membanting pintu.
Brak!!
Mbah Yahya mengusap pipi kirinya yang terasa panas bekas tamparan. Wajah tuanya itu seketika masam.
"Sepertinya kita salah kamar, Dad," ujar Rama. "Gadis tadi bukan gadis yang aku perkosa."
"Masa sih?" Mbah Yahya menoleh ke arah Rama dengan kening yang mengerenyit. Dia tampak tak percaya. "Bukannya dia orangnya? Cuma bedanya gendut, kan?"
"Enggak!" tegas Rama dengan gelengan cepat. "Jelas wajahnya saja berbeda." Menunjuk gambar sketsa wajah. "Pasti ini Daddy lupa sama apartemennya. Jadi kita salah orang."
"Daddy masih ingat kok," ucap Mbah Yahya dengan yakin lalu memperhatikan sekeliling. Sorotan matanya pun terhenti pada angka di atas pintu. Tertulis nomor 100. Dia ingat sekali, nomor kamar yang dulu dia kunjungi sama dan berarti itu kamarnya.
"Mas! Maaf permisi!" Rama memanggil seorang pria yang baru saja lewat dengan menenteng sepatu. Di langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Pak?"
"Apa Mas kenal gadis ini?" Rama mengambil kertas di tangan Mbah Yahya, kemudian menunjukkannya pada pria tersebut.
Dia memperhatikan dengan seksama, kemudian menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Nggak, Pak."
"Coba lihat lagi, Mas. Barangkali dia tinggal di sini, Mas pernah melihat wajahnya?" Rama membujuknya sekali lagi. Pria itu memperhatikan, tetapi lagi-lagi menggeleng.
"Nggak, Pak. Aku kebetulan sudah hampir sepuluh tahun tinggal di sini. Tapi nggak pernah lihat wajah gadis yang seperti digambar ino."
"Ya sudah deh, terima kasih ya, Mas," jawab Rama dengan wajah yang mendadak lesu.
"Sama-sama." Pria itu melangkah menuju lift lalu memencet tombol. Setelah terbuka dia langsung masuk. Rama pun berlari ikut masuk dan Mbah Yahya segera menyusul.
Ting~
Pintu lift itu tertutup.
"Kok kita pergi, Ram? Mau ke mana?" tanya Mbah Yahya.
"Ya mau apa kita terus di sini? Orang Daddy salah apartemen." Rama mengerucutkan bibirnya. Padahal dia sudah sangat girang sekali tadi, sayangnya semua hancur akibat Mbah Yahya yang pikun.
"Tapi kita 'kan bisa tanya-tanya dulu sama orang sini. Siapa tahu ada yang mengenal dia, Ram," usul Mbah Yahya.
"Kan tadi sudah dengar sendiri." Rama menatap ke arah pria di depannya. "Dia bilang dia nggak kenal, Dad."
"Ya 'kan bisa kita tanya ke orang lain."
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Mbah Yahya. Rama menaruh buket bunganya pada kursi belakang, lalu menyalakan mesin mobilnya kemudian mengemudi. "Nggak jadi, ketemu gadis itu?"
"Jadi. Aku mau ke rumah Om Angga dulu."
"Ngapain ke rumah Angga?"
"Mau tanya, barang kali dia kenal."
"Nggak mungkin lah si Angga kenal. Gadis yang kamu perkosa itu wajahnya kayak masih ABG. Sedangkan Angga sudah aki-aki." Mbah Yahya kembali menatap wajah Sisil pada gambar di tangannya.
"Tapi 'kan dia ada di pestanya Om Angga."
"Di pestanya Angga juga dia jadi tamu. Si Angga mana kenal semua wajah tamunya. Dia juga pikun orangnya." Tak sadar diri, padahal dia juga sama pikunnya.
Rama menghela napasnya dengan berat. Lalu geleng-geleng kepala.
"Daddy males ketemu Angga, Ram. Dia sudah bukan teman Daddy lagi. Mending kita cari sendiri saja, nggak perlu minta bantuan dia," celoteh Mbah Yahya. Jelas sekali dia tak menyetujui apa yang anaknya itu lakukan.
"Daddy nggak boleh ngomong kayak gitu. Katanya Om Angga itu teman kuliah Daddy. Sohib sejati."
__ADS_1
"Dulu memang iya, dia sohib. Tapi sekarang nggak lagi."
"Kenapa?" Rama menoleh sebentar ke arah Mbah Yahya.
"Karena dia tega menikahkan Nissa dengan Tian. Kan Daddy pengennya kamu yang sama Nissa. Daddy mau berbesanan dengannya." Wajah Mbah Yahya tampak merengut.
"Daddy sudahlah. Itu 'kan bukan kesalahan Om Angga. Memang aku dan Nissa nggak berjodoh. Yang terpenting 'kan aku sudah ada calon sekarang."
"Calonnya saja belum ketemu." Mbah Yahya bersedekap kemudian memalingkan wajahnya dengan keki.
"Ya itu 'kan karena Daddy salah kasih informasi. Lagian kok aneh, kata orang-orang Daddy dukun sakti. Tapi kok bisa, salah orang dan salah mengenali apartemen. Atau jangan-jangan Daddy dukun palsu, ya?"
"Hush! Enak saja kamu kalau ngomong!" sentak Mbah Yahya marah. Matanya melototi Rama. "Daddy ini sakti mandraguna." Menepuk dadanya. "Kalau nggak sakti nggak bakal ada tuh orang yang mau berobat. Pasien Daddy 'kan banyak kalau sehari buka praktek."
"Masa sih? Tapi kok sekarang prakteknya ditutup? Bukannya itu karena sudah sepi, nggak ada yang percaya sama Daddy lagi, kan?"
"Daddy tutup praktek karena mau fokus sama kamu. Durhaka kamu ya, Ram. Daddy bela-belain lho tutup itu, demi membantumu mendapatkan jodoh," geram Mbah Yahya.
"Daddy berhenti saja jadi dukun. Mending fokus jualan batu akik. Atau kalau nggak, Daddy kelola saja salah satu toko perhiasanku. Keuntungannya buat Daddy semua nanti," usul Rama.
"Nggak mau!" tolak Mbah Yahya sambil menggelengkan kepala. "Jadi dukun itu cita-cita Daddy dari kecil, masa sudah jadi dukun malah berhenti. Sayang dong sama ilmunya."
"Cita-cita kok jadi dukun. Aneh-aneh saja." Rama geleng-geleng kepala.
***
Di apartemen Gugun.
Tok ... Tok ... Tok.
Pria berkumis tipis itu mengetuk pintu kamar adiknya. Sejak kemarin setelah pulang dari kampus, Sisil terus mengurung diri di dalam sana. Ditawari makan atau apa pun dia tak menjawab, bahkan pintunya sama sekali tak dibuka.
"Sil! Jangan begini dong!" teriak Gugun yang masih mengetuk pintu. Gagang pintu itu terus dia turunkan tetapi nyatanya dikunci dari dalam. "Ini Kakak bawa nasi Padang dan susu kedelai kesukaan kamu. Kamu harus makan, sejak kemarin nggak makan. Nanti sakit!" tegurnya. Sayangnya hening, tak ada jawaban.
Gugun membuang napasnya dengan kasar, kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya yang berada di sebelah. Hendak mengambil kunci serep. Percuma juga terus berteriak, nyatanya tidak ada jawaban sama sekali. Lebih baik berusaha membukanya sendiri.
Gugun tentu tahu bagaimana sikap adiknya. Setiap ada masalah dia selalu mengurung diri. Kemudian berimbas pada tidak mau makan dan minum.
Tak berselang lama, Gugun pun kembali dengan membawa kunci, lalu mencoba membuka pintu tersebut.
Ceklek~
Pintu itu berhasil dibuka. Tetapi sontak kedua mata Gugun terbelalak kala melihat adiknya berbaring tak sadarkan diri di lantai dengan mulut yang berbusa.
__ADS_1
...Ketemu Om Rama juga belum, tapi udah keburu metong kamu, Sil 🤧...