Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
122. Sama-sama manis


__ADS_3

"Mas! Awas di depan ada orang, Mas!" seru Tuti dengan keterkejutannya, yang melihat ada seorang pria tua lewat menyebrang jalan dengan mendorong gerobak mie ayam.


Akibat terlalu fokus memerhatikan bibir, Gugun sampai lupa jika dirinya saat ini sedang menyetir.


Pria itu pun langsung terperanjat, segera dia menatap ke arah depan dan mengerem mobilnya secara mendadak.


Ckiiittt....


Bugh!


"Aaww!" pekik Tuti.


Penjual mie ayam beserta gerobaknya itu berhasil selamat, tidak Gugun tabrak. Akan tetapi dahi Tuti lah yang menjadi korban akibat terpentok dasbor.


"Nona, maafkan saya, Nona," ucap Gugun dengan wajah bersalah. Refleks dia menangkup kedua pipi Tuti, lalu memerhatikan dahi atas gadis itu yang sedikit lecet dan mengeluarkan darah segar.


"Woy! Kalau bawa mobil itu pakai mata dong!" omel penjual mie ayam sambil berkacak pinggang. Setelah itu berlalu pergi mendorong gerobaknya.


"Kita ke rumah sakit ya, Nona," ujar Gugun.


Dia lantas melepaskan kedua pipi yang tampak merona itu. Namun saat dirinya baru saja memegang persneling, Tuti langsung memegang lengannya.


"Nggak usah, Mas, ini hanya luka sedikit dan aku punya kotak P3K kok. Jadi nggak usah balik lagi ke rumah sakit," jelasnya, kemudian membuka dasbor dan mengambil kotak P3K yang dia maksud.


"Biar saya yang mengobatinya kalau begitu." Gugun cepat-cepat mematikan mesin mobilnya, lalu mengambil benda yang baru saja dibuka penutupnya itu. Di dalam sana ada alkohol, obat merah, kapas, perban dan kain kasa.

__ADS_1


Dia lantas menuangkan terlebih dahulu alkohol ke atas kapas, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Tuti.


"Maaf, saya pegang dahi Nona," ucapnya kemudian menempelkan benda itu ke dahi Tuti secara perlahan-lahan. Gugun juga tak menyia-nyiakan kesempatannya, untuk bisa memandangi wajah cantik itu dengan puas. 'Dari kemarin-kemarin ke mana saja, ya, aku. Kok bisa sih sampai baru tau ada perempuan secantik dia di dunia ini?' batin Gugun yang tak ada henti-hentinya mengagumi gadis itu.


"Sss ...." Tuti mendesis kala merasakan perih, tapi hanya sebentar saja.


"Maafkan saya sekali lagi ya, Nona, saya benar-benar ceroboh dalam menyetir," sesalnya. Sekarang Gugun beralih ke obat merah, lalu mengusap pelan-pelan ke dahi Tuti. "Niat hati mengantarkan Nona supaya selamat sampai tujuan, eh malah buat celaka," tambah Gugun.


"Ini bukan salah Mas kok," sahut Tuti.


"Masa bukan salah saya? Jelas saya yang salah. Kan saya yang nyetir, Nona."


"Aku juga salah, Mas, karena meminta Mas Gugun untuk memperhatikan wajahku. Padahal aku tau Mas lagi nyetir," ucap Tuti. Sama sekali dia tidak menyalahkan Gugun meskipun sekarang sedang terluka. Dia menganggap yang dialaminya tadi adalah musibah, karena dia juga ikut bersalah.


"Kamu ini aneh ya, Nona, padahal sudah jelas Saya salah ... tapi malah nggak nyalahin saya," ujar Gugun sambil tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merona. "Ternyata bukan hanya wajahnya saja yang cantik, tapi hatinya juga," tambahnya.


"Udahan ah Mas ngegombalnya," cicit Tuti dengan malu-malu. "Sekarang ayok lanjutkan perjalanannya. Aku ingin cepat sampai, pengen istirahat."


"Saya nggak lagi gombal kok, saya jujur apa adanya," balas Gugun. Setelah menempelkan perban ke dahi Tuti, dia pun meneruskan laju kendaraannya.


*


*


Tak berselang lama, mereka pun akhirnya sampai di apartemen Tuti. Mobil hitam itu sudah terparkir rapih pada parkiran khusus mobil. Gugun pun bergegas turun lebih dulu, sebab ingin membukakan pintu untuk gadis itu.

__ADS_1


"Nona perlu saya antar sampai apartemen, nggak? Atau mau sampai kamar sekalian? Takutnya lemes," ucap Gugun menawarkan diri. Sekalian diajak mampir juga tak masalah sekali menurutnya.


"Nggak perlu, Mas," tolak Tuti dengan gelengan kepala. "Segini juga udah terima kasih banget karena udah diantar pulang."


"Sama-sama, Manis. Eh, tunggu sebentar ...." Gugun masuk lagi ke dalam mobil untuk mengambil buket bunga. Setelah itu dia memberikannya ke arah Tuti. "Ambil ini dan simpanlah. Anggap ini adalah permintaan maaf dari saya karena sudah membuat Nona mengalami kecelakaan."


"Serius, ini buatku?" Tuti menunjuk buket bunga yang masih Gugun pegang. Dia tampak ragu untuk menerimanya. "Tapi bukannya Mas bawa bunga ini sejak dari di rumah sakit, ya? Pasti buat orang lain, kan?"


Gugun langsung terdiam dan memerhatikan bunga di tangannya. Selang beberapa menit saja dia pun sontak membelalakkan matanya, lantaran baru ingat jika bunga itu untuk Gisel dan niatnya ke rumah sakit untuk menjemputnya.


Namun anehnya, di sini Gugun malah mengantarkan perempuan lain pulang hanya karena terbuai oleh pesonanya.


'Ya ampun ... bisa-bisanya aku lupa sama calon pacarku sendiri. Kasihan Nona Gisel, pasti dia menungguku di rumah sakit,' batin Gugun dengan perasaan yang mendadak tak enak.


"Bener 'kan, Mas, itu bunga untuk orang lain?!" tanya Tuti sekali lagi. Sebab Gugun tampak terbengong sejak tadi.


"Nggak kok," kilah Gugun dengan gelengan kepala. "Saya beli awalnya hanya iseng untuk diri sendiri. Tapi sepertinya bunga ini memang jauh lebih cocok untuk Nona, karena sama-sama manis. Jadi terima lah." Gugun menarik tangan Tuti untuk menerima bunganya.


Mungkin terlihat memaksa, tapi menurut Gugun bunga itu sekarang jauh lebih cocok diberikan kepada Tuti bukan Gisel.


"Kalau begitu saya permisi. Semoga Nona cepat sembuh, jangan lama-lama sakitnya, dan jangan bosan juga untuk ketemu saya lagi, ya?" ucapnya pamit. Lalu tersenyum manis dan melangkah pergi munuju gerbang.


"Terima kasih, Mas!" seru Tuti setengah berteriak dan melambaikan tangan. Pria berkumis tipis itu hanya mengangguk, kemudian langsung masuk ke dalam mobil taksi yang baru saja dia hentikan di sisi jalan.


"Mas Gugun kok makin kesini sikapnya makin manis, ya, sama aku. Nggak kayak dulu." Monolog Tuti. Kakinya melangkah masuk ke dalam apartemen kemudian menuju lift. "Apa jangan-jangan ini tandanya dia mulai suka, ya, sama aku? Apa mungkin pertemuan selanjutnya dia akan menembakku?!" Tuti hanya menerka-nerka, tapi sudah merasa salah tingkah sendiri. Mungkin semua itu faktor buket bunga yang diberikan Gugun tadi.

__ADS_1


...Jangan GR dulu, Tut, nanti patah hati lho 🤧...


__ADS_2