Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
83. Menyantet Gugun


__ADS_3

Setelah pasien yang terkena mencret itu disembur kemudian keluar dari ruangan Mbah Yahya, barulah Tuti yang sudah sampai, masuk ke dalam sana.


Namun sebelum itu dia mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Tok! Tok! Tok!


"Pak," sapanya seraya membuka pintu.


Mbah Yahya yang masih duduk bersila langsung menoleh, lalu mengangguk pelan.


Perlahan Tuti masuk, kemudian menutup pintu. Melihat Mbah Yahya mengedikkan dagunya ke depan, dia pun lantas duduk lesehan di depannya.


Manik mata Tuti mengelilingi ruangan yang cukup luas itu. Namun, tiba-tiba saja dia merasakan bulu kuduknya berdiri tegak dan ada rasa takut di dalam dadanya.


"Kamu sudah siap, Tut?" tanya Mbah Yahya pelan.


"Si-siap, Pak," jawab Tuti dengan gugup. Perlahan dia menarik napas, lalu membuangnya dengan kasar. Tuti berusaha menetralkan rasa takutnya dan berusaha meyakini jika dia sungguh-sungguh akan menyantet Gugun.


"Kalau siap jangan grogi gitu, tenanglah. Tapi perlu kamu ingat ... jika menyantet orang itu perbuatan musyrik. Kamu akan berdosa, siap kamu menanggung dosanya?!" tanya Mbah Yahya.

__ADS_1


Dia ingin meyakinkan sekali lagi, jika Tuti yakin untuk mengambil keputusannya.


Dan setiap kepada siapa pun pasiennya, jika mereka ingin mengirim santet, Mbah Yahya pasti berbicara seperti itu terlebih dahulu. Supaya mereka berpikir ulang, benar atau tidaknya keputusan yang akan diambil. Jangan sampai nanti menyesal dikemudian hari.


Tuti terlihat tengah menelan salivanya dengan kelat. Tubuhnya mendadak terasa bergetar hebat begitu pun dengan bibirnya. Kedua telapak tangan pun basah oleh sendirinya. 'Duh ... kok aku jadi takut gini, ya? Padahal aku kepengen Pak Gugun mendapatkan santet supaya dia menerima akibat karena telah berencana ingin melecehkanku,' batinnya dalam hati.


"Ini, minum dulu." Mbah Yahya menuangkan air putih pada gelas, lalu memberikan kepada Tuti. Wajah gadis itu sudah berubah menjadi pucat dan berkeringat, dia juga seperti mencemaskan sesuatu.


"Ini air jampi bukan, Pak?" tanya Tuti sebelum mengambil gelas penuh itu.


"Bukan, air biasa. Biar kamu tenang."


"Sudah tenang kamu, Tut?" tanya Mbah Yahya.


"Sudah, Pak." Tuti mengangguk cepat.


"Mana fotomu?"


Tuti merogoh kantong jaket parkanya, kemudian memberikan selembar foto berukuran dompet ke tangan Mbah Yahya. Yang Tuti berikan adalah foto dirinya berpenampilan perempuan. Sebab hanya foto itu yang dia punya dalam hasil cetak.

__ADS_1


Foto itu pun Mbah Yahya taruh di dekat prapan, kemudian di sebelahnya Mbah Yahya taruh foto Gugun yang dia ambil di dalam kantong celana.


Setelah itu, barulah dia memulai ritual prakteknya. Akan tetapi, bukan santet yang akan dikirimkan ke Gugun, melainkan pelet.


Hanya saja bedanya, bukan Gugun saja yang akan menerima, tapi Tuti juga.


Bukan maksud ingin membohongi Tuti, tapi menurut Mbah Yahya, ini adalah jalan terbaik untuk memecahkan kesalahan pahaman mereka.


Pelet yang dia kirim juga bukan semacam guna-guna yang akan membuat keduanya saling tergila-gila. Tapi hanya membuat kedua hati itu melunak supaya dapat menyelesaikan masalah dengan jalur perdamaian.


Namun tentu, ada bumbu sebuah ketertarikan untuk keduanya. Kalau sama-sama berhasil mereka bisa saling jatuh cinta. Tapi kalau hanya sebelah, bisa saja bertepuk sebelah tangan.


Pelet semacam ini adalah pelet yang paling ringan, sebab tidak membuat keduanya gila kalau sampai tidak manjadi satu.


'Maaf ya, Tut. Tapi ini demi untukmu juga. Semoga saja kamu nggak jadi ditangkap polisi karena ulah Gugun,' batin Mbah Yahya.


Perlahan dia terpejam, lalu mengelus foto Tuti. Setelahnya berkomat-kamit dan membakar menyan.


Beberapa menit kemudian, mata batinnya itu berhasil menuju apartemen Gugun. Mbah Yahya melihat ada Gugun di dalam kamarnya.

__ADS_1


...Berhasil nggak, ya, kira-kira? Mau pada do'ain nggak, nih? 🤣...


__ADS_2