Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
72. Siapa yang ngambek?


__ADS_3

"Bagaimana, Mom? Manjur katanya?" tanya Mbah Yahya yang berada di dalam mobil, sejak tadi dia menunggu Yenny dengan Evan yang sudah standby di kursi kemudinya.


"Manjur, Dad. Sebentar lagi kayaknya kita bakal punya cucu," sahut Yenny sumringah. Dia lantas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi di samping Mbah Yahya.


"Bagus deh, jadi kita nggak perlu beli obat kuat yang lain." Mbah Yahya mengulum senyum. Dia juga pastinya ikut berbahagia kalau benar sebentar lagi akan menimang cucu baru.


"Kalau Pak Rama punya anak, saya dikasih hadiah mobil baru ya, Pak," pinta Evan tanpa malu. Sudah sering dia meminta hal apa pun dan memang, Mbah Yahya tidak pernah pelit kepadanya.


"Lha, yang punya anak Rama ngapain kamu yang dikasih hadiah? Aneh deh." Bibir Mbah Yahya tampak menggeriting.


"Kan saya yang belikan obat kuat, buktinya manjur. Dan saya juga sudah mengancam Nona Gisel, lho, Pak."


"Pastikan dulu si Gisel benar-benar takut sama ancaman kamu dan nggak berani menganggu rumah tangga Rama. Baru deh nanti aku belikan mobil baru."


"Siap, Pak." Evan tersenyum, lantas menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi.


***


Seusai mandi dan berpakaian, Rama dan Sisil duduk disalah satu meja yang berada di restoran hotel.


Suasana restoran itu cukup ramai, mungkin karena hari Minggu. Jadi ada banyak yang liburan dan memutuskan untuk menginap di hotel.


"Om ... sebelum pesanan kita datang, aku mau pinjam hape Om boleh nggak? Mau telepon Kakakku," pinta Sisil. Dia duduk di depan Rama, tapi pandangan matanya turun ke tubuhnya sendiri. Memperlihatkan dress sabrina berwarna pink polkadot.


Pakaian itu terlihat bagus dan lucu menurutnya, apalagi kebetulan sangat pas di tubuhnya. Tapi alasan dia menurunkan pandangan sebenarnya bukan karena ingin melihat pakaian, yaitu karena tak mau terus menatap wajah Rama.


Semakin lama dilihat, Sisil merasa makin terpesona dengan ketampanannya. Ditambah jantungnya pun ikut berdebar kencang. Dan Sisil tidak mau itu semua terjadi, meskipun sebenarnya itu telah terjadi. Hanya saja dia tak sadar atau memang tak mau menyadarinya.


"Boleh dong, Sayang. Masa nggak boleh." Rama merogoh kantong dalam jaket jeansnya, lalu menyodorkan ponsel ke arah Sisil. Dia mengenakan jaket jeans berwarna merah, celana putih dan kaos putih. "Nih, kata sandinya namamu."


'Namaku?' Sisil meraih benda pipih di atas meja itu, lalu mengetik nama Sisil untuk membuka. Akan tetapi tidak bisa. "Kok nggak bisa, Om? Katanya namaku?" tanya Sisil dan barulah dia menatap Rama.


"Prisilla."

__ADS_1


"Oh." Sisil mengetik-ngetik lagi, dan kali akhirnya berhasil. Setelah itu dia menelepon Gugun. Hanya sekedar ingin tanya kabar dan sedang apa, itu saja. Karena dia merasa rindu. "Halo, Kak. Assalamualaikum," ucapnya saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.


"Walaikum salam. Bagaimana malam pengantinmu? Lancar?" tanya Gugun dibarengi suara kekehan.


"Ih Kakak apaan, sih?!" Sisil mendengkus kesal namun wajahnya langsung merona. "Bukannya nanyain kabarku, tapi malah nanyain malam pengantin."


"Kabarmu pasti capek, kan? Kakak tau itu," kekeh Gugun yang seolah tahu. Padahal dia asal menebak saja.


"Kabar itu baik atau buruk, bukan capek. Udah ah, padahal aku kangen sama Kakak. Tapi taunya Kakak nyebelin. Assalamualaikum!" seru Sisil marah. Lalu mematikan sambungan telepon.


"Selamat siang Nona Sisil, Pak Rama," sapa Tuti yang baru saja datang. Gadis itu memakai stelan jas berwarna pink, dandanannya kembali tomboi.


"Siang." Yang menyahut hanya Rama.


"Om kok ngajak dia?" Sisil menatap ke arah Tuti dengan sinis. "Aku nggak mau ah kalau makan bertiga." Kepalanya menggeleng.


"Saya nggak makan bareng kalian, Nona. Saya datang karena disuruh Pak Rama," jelas Tuti. Dia melihat ke arah Sisil sebentar lalu ke arah Rama.


"Mau apa? Kan Om baru menikah dan ini hari libur, masa sudah ngomongin kerjaan sama dia?" hardik Sisil yang sudah salah paham duluan. Wajahnya langsung berubah bete. Dia mengingat ucapan Yenny yang mengatakan untuk bersenang-senang dengan Rama, otomatis pria itu tak mungkin kerja. Apalagi dihari Minggu seperti ini.


"Dek, Dek, belum tentu juga aku ngomongin kerjaan sama Tuti. Kok kamu udah ngambek duluan?" kekeh Rama. Sebenarnya dia gemas melihat Sisil cemberut, tapi kadang agak was-was juga kalau marahnya berkepanjangan. Takutnya tidak mau jika diajak kembali bercinta.


"Siapa yang ngambek? Orang aku nanya kok," elak Sisil bersedekap, lalu memanyunkan bibirnya.


'Sensitif sekali Nona Sisil ini,' batin Tuti mengelus dada.


"Kamu tolong belikan sepatu kerja untuk Kakaknya Sisil, Tut. Warnanya hitam," titah Rama menatap Tuti.


"Kok Om belikan Kakakku sepatu? Kenapa memangnya? Kan Kakak belum ulang tahun," tanya Sisil penasaran.


"Memangnya orang ngasih sesuatu musti ulang tahun?" Rama berbalik tanya.


"Ya nggak sih, tapi 'kan ada alasannya."

__ADS_1


"Kemarin aku nggak sengaja lihat sepatu Kak Gugun mangap, Dek, dibagian depannya. Jadi aku ingin membelikannya yang baru."


'Mangap?!' Kening Sisil mengernyit. Dia paham dengan apa yang Rama katakan, hanya saja aneh saja. 'Perasaan kemarin aku nggak lihat tuh sepatu Kakak mangap. Tapi kok Om Rama bisa lihat?' batinnya bingung.


"Kakaknya Nona Sisil cowok 'kan, Pak?" tebak Tuti, Rama pun mengangguk.


"Iya. Nanti kalau sudah beli kamu antar langsung ke orangnya. Bilang dari aku tapi hanya sekedar ingin kasih, nggak perlu cerita sepatunya mangap, ya?" pinta Rama. "Tapi belinya merek yang biasa aku beli, soalnya bagus itu."


"Baik, Pak." Tuti mengangguk patuh. "Tapi ukurannya berapa?"


"Berapa ukurannya, Dek?" tanya Rama menatap Sisil.


"Empat dua," sahut Sisil.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Selamat makan dan selamat siang Nona ... Pak Rama." Tuti membungkuk sopan, lantas melangkah pergi ketika pelayan restoran datang dengan mendorong meja troli berisi menu makan siang mereka.


"Maaf menunggu lama," ucap pelayan itu kemudian menata berbagai macam lauk di atas meja dan juga nasi. Berikut dengan jus jeruk yang mereka pesan. "Selamat menikmati." Dia tersenyum ke arah Rama dan Sisil, lalu membungkuk sopan.


"Terima kasih, Mbak," ucap Rama seraya membalas senyuman.


Sisil berdecak sebal melihat suaminya. Rasanya panas sekali dada ini kalau melihat Rama berinteraksi dengan wanita lain, selain dirinya. 'Lebay banget, pake senyum segala. Dia pikir senyumannya manis apa?'


"Sama-sama." Pelayan wanita itu pun melangkah pergi, dengan membawa meja trolinya yang sudah kosong.


"Ayok makan, Dek. Habis ini kita ke mall," ajak Rama lalu menuangkan cumi balado di atas piringnya.


"Ke mall mau apa, Om?" tanya Sisil, lalu dia juga mengambil nasi dan lauk yang sama seperti Rama.


"Ya barangkali kamu kepengen belanja. Oh atau kepengen jalan-jalan ke mana? Nanti kita cari tempat liburan yang bagus, ya? Kalau perut kenyang 'kan enak mikirnya." Rama mulai melahap satu suapannya, dan sebelum itu dia sudah membaca berdo'a dalam hati.


...Wih ... enak, ya, Sil, punya suami Sultan dan baik juga penyabar 🤣...


...Eh, kayaknya ada yang bentar lagi baku hantam nih, perkara sepatu 😆...

__ADS_1


__ADS_2