
"Iya, sih, tapi masalahnya saya 'kan sudah membayar Bapak untuk menyantet Pak Gugun. Memangnya saya masih pantes pakai hijab? Allah pasti murka sama saya, Pak," keluh Tuti.
Kedua polisi di depan mereka sontak membelalakkan matanya. Terkejut dengan kata 'nyantet'
"Jadi Pak Yahya ini dukun santet?" tanya salah seorang polisi dengan mulut yang menganga. Dia dan temannya sama-sama kaget.
"Dih nggak!" tampik Mbah Yahya dengan gelengan cepat. "Mana mungkin aku dukun santet, yang dikatakan Tuti hanya candaan." Sebenarnya tak ada masalah kalau polisi atau siapa pun mengetahui dia dukun. Akan tetapi, terkadang Mbah Yahya merasa tak nyaman. Kecuali kalau memang orang itu langsung datang ke rumah prakteknya.
"Lho, kan memang bener Bapak seorang—“
"Kalau begitu aku dan Tuti permisi ya, Pak ... selamat siang!" sergah Mbah Yahya. Cepat-cepat dia berdiri sambil menarik tangan Tuti, sehingga membuat tubuh kecil itu sama-sama berdiri.
"Selamat siang juga, Pak," sahut kedua polisi. Mereka tersenyum dan mengangguk kecil ketika Mbah Yahya, Tuti dan seorang pengacara keluar dari ruangan itu.
*
*
"Kalau berbicara tentang aku yang seorang dukun, jangan sembarangan, Tut!" tegur Mbah Yahya dengan suara tegas.
Sekarang dia dan Tuti sudah berada di dalam mobil dan Tuti lah yang mengemudi.
"Kenapa memangnya, Pak?" tanya Tuti tak mengerti, dia menoleh sebentar.
"Pokoknya jangan, aku nggak nyaman dengarnya. Sekarang antarkan aku pulang ke rumah."
"Iya, Pak." Tuti mengangguk. "Eemmm ... tapi menurut Bapak, Pak Gugun mau berdamai nggak kira-kira sama saya? Apa saya masih ada kemungkinan masuk penjara?" Sebenarnya ada perasaan lega. Akan tetapi itu tak sepenuhnya sebab pihak polisi belum bisa menentukan nasib Tuti selanjutnya.
"Semoga saja mau. Lagian kayaknya sih kalau kasus salah paham begini nggak akan dilanjutkan prosesnya, selain itu pihak polisi juga sudah yakin kamu perempuan. Mangkanya mulai besok rubahlah penampilanmu, Tut. Supaya masalah seperti ini nggak akan terjadi lagi dikemudian hari," saran Mbah Yahya.
"Kalau soal itu nanti aku pikirkan dulu deh, Pak. Apalagi kalau tentang pakai hijab."
Mbah Yahya menganggukkan kepalanya.
***
Sore hari.
Gugun tengah mengemudikan mobilnya ke arah jalan pulang. Dia telah selesai melakukan pekerjaannya hari ini. Dan lagi-lagi seperti biasa, jalanan selalu saja macet di ibukota.
"Kapan sih Jakarta nggak macet?! Kok macet mulu setiap hari!" omel Gugun sambil menonjok stir. Karena capek seharian bekerja, jadi dia gampang sekali tersulut emosi.
"Ah mending aku ngopi saja deh, biar nggak mumet otakku." Gugun menatap sebuah cafe besar yang letaknya tak jauh dari posisinya sekarang. Pelan-pelan dia memijat dahinya sambil membelokkan stirnya ke arah sana.
__ADS_1
Saat sudah sampai, barulah Gugun mematikan mesin mobil kemudian turun.
Gugun masuk lewat pintu kaca, suasana cafe itu tidak terlalu ramai jadi dia mudah untuk mencari tempat duduk.
"Mau pesan apa, Pak?" tanya seorang pelayan wanita yang datang menghampiri sembari menyodorkan buku menu. Gugun baru saja mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi.
"Kopi hitam saja, Mbak."
"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu membungkuk sopan, kemudian melangkah pergi.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Tiba-tiba, Gugun mendengar suara tangisan seorang perempuan yang asalnya dari belakang, lantas dia pun memutar kepalanya.
Ternyata ada Gisel di sana. Sedang duduk sambil menangis tersedu-sedu. Di atas mejanya ada segelas es jeruk yang masih terisi penuh.
Gugun memperhatikannya kemudian berdiri, wajah Gisel tampak familiar menurutnya. 'Perasaan aku seperti pernah ngelihat dia di cafe juga, tapi dia bukan orangnya?' batinnya.
Gugun teringat ketika dia janjian dengan Arya, memang waktu itu dia tak sengaja melihat Gisel yang tengah mengobrol dengan temannya.
"Pakai ini, Nona," ucap Gugun yang sudah berdiri di dekatnya. Tangan kanannya terulur memberikan sebuah sapu tangan yang dia ambil dari balik saku jasnya.
Gisel menghentikan tangisnya, meskipun masih sesenggukan. Dia pun menatap sapu tangan itu, kemudian mendongakkan wajahnya untuk dapat melihat Gugun.
Setelah itu, dia langsung berdiri dan tiba-tiba saja memeluk tubuh Gugun.
"Sebentar saja, Pak. Aku sedang benar-benar membutuhkan sebuah pelukan untuk mengobati rasa sedihku, hiks! Hiks! Hiks!" Gisel kembali melanjutkan tangisnya.
Gugun menghela napasnya. Dia pun terlihat pasrah menunggu Gisel yang masih terisak.
"Pak, apa Bapak sudah menikah?" tanya Gisel.
"Belum," jawab Gugun. "Kenapa memangnya?"
"Kalau pacar?"
"Kenapa sih emang? Kok tanya ke situ-situ? Itu 'kan urusan pribadi." Gugun mendengkus.
"Bagaimana caranya biar bisa move on, Pak? Aku lagi patah hati sekarang."
"Nona diputusin pacar?" tebak Gugun.
"Bukan pacar, tapi gebetan. Dia menikah dengan orang lain. Aku patah hati untuk kedua kalinya, Pak, hiks!" ringis Gisel.
__ADS_1
"Ya cari yang lain. Laki-laki 'kan banyak apalagi itu baru jadi gebetan, belum jadi pacar apalagi suami," sahut Gugun dengan santai.
"Tapi yang kayak dia sepertinya nggak ada. Udah gitu dia itu cinta pertama dan orang yang telah merampas ciuman pertamaku, Pak. Rasanya aku nggak bisa hidup dengan melihat dia bersama orang lain. Hiks! Hiks! Hiks!"
Gugun hanya menghela napas, dia juga merasa bingung untuk menjawab apa lagi. Pada akhirnya dia hanya membiarkan Gisel menangis sambil mengoceh, tanpa diberi tanggapan sama sekali.
***
Seoul, Korea Selatan.
"Kamu mau pilih yang mana, Dek?" tanya Rama seraya mengecup pipi kiri Sisil.
Mereka sekarang berada dipusat pembelanjaan di dekat Namsan Tower. Hendak memilih gembok cinta yang akan dipasang nanti.
"Ini saja." Sisil mengambil gembok berwarna merah berbentuk hati. Ukurannya lumayan besar.
Sikap gadis itu kembali normal seperti biasa. Tampaknya amarahnya sudah sedikit luntur, mungkin efek perutnya kenyang ditambah saat ini diajak jalan-jalan menikmati salju.
Sepertinya ide Rama kali ini cukup bagus. Akan dia catat dalam hati, kalau Sisil marah cara membujuk selain diajak bercinta adalah diajak jalan-jalan.
"Ada lagi nggak, Dek? Kamu kepengen beli apa gitu?" tanya Rama.
Selain menjual gembok yang memang diperuntukkan untuk para pengunjung wisata, di sana juga banyak sekali berbagai macam baju, jaket, topi, sepatu, jam tangan dan lain-lain. Pusat perbelanjaan itu mirip seperti mall.
"Nggak ah ini saja, Om," sahut Sisil.
"Nggak mau buat oleh-oleh sekalian?" tawar Rama.
"Beli oleh-olehnya nanti kalau kita mau pulang, kan sekarang kita lagi jalan-jalan."
"Oh iya, ya. Ya sudah ayok." Rama merangkul bahu Sisil lalu menuju ke arah kasir. Dia juga sekalian meminta untuk menuliskan inisial nama pada gembok tersebut. Huruf R dan P.
Setelah selesai dari sana, mereka pun melangkahkan keluar. Hanya berjalan kaki beberapa langkah saja mereka sudah sampai pada antrian pembelian tiket, untuk masuk ke dalam Namsan Tower itu.
"Kamu duduk saja di sana, Dek, takutnya pegel," ucap Rama seraya menunjuk sebuah kursi taman yang jaraknya dekat dengan posisi mereka mengantre.
Padahal bukan hari weekend, tapi banyak sekali pengunjung yang datang. Kebanyakan dari mereka bukan asli dari Korea, sama seperti mereka dari negara lain.
"Nggak mau." Sisil menggeleng. Sejak tadi dia berdiri sambil menggandeng tangan Rama yang berada disebelahnya. "Aku mau di sini saja sambil lihatin salju turun," tambahnya sambil menadah tangan ke udara.
Sisil hanya berdalih, padahal nyatanya dia merasa tak rela membiarkan Rama berdiri sendiri sebab banyak bule-bule cantik di sekitarnya.
Selain itu, pakaian mereka juga sangat minim. Mirip-mirip bikiini. Padahal saljunya turun cukup lebat tapi mereka seperti tak merasa kedinginan, berbeda dengan Sisil yang berkali-kali mengusap kedua telapak tangan. Sementara kedua tangannya saja memakai sarung.
__ADS_1
'Apa mereka nggak kedinginan, ya? Kok musim salju begini malah pakai pakaian begitu? Kan p*rno.' Sisil membatin dengan hati jengkel. 'Kalau begini urusannya mah mata Om Rama bisa ternodai, kalau misalkan dia naafsu nanti bagaimana coba?' Sisil menoleh ke arah Rama dan cepat-cepat dia menutup kedua mata pria itu dengan telapak tangannya.
...Pada mau aku up banyak, kan? Yuk kasih vote dan giftnya🤗. Biar semangat, biar novel ini juga masuk beranda dan banyak yang baca 🙂...