
"Astaghfirullah, Dek!" pekik Rama yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi.
Melihat Sisil yang hendak terjatuh, refleks dia menjatuhkan cangkir hingga pecah. Kemudian berlari untuk menangkap Sisil dengan kedua tangan yang terbuka.
Hap!!
Untunglah, Rama berhasil menangkapnya. Telat sedikit saja Sisil bisa-bisa jatuh dan terluka.
"Om!" seru Sisil dengan mata yang membulat. Tapi didetik berikutnya dia menghela napas lega dan segera memeluk Rama dengan erat. Perlahan dia mengendus aroma maskulin di tubuh Rama. Wangi sekali pria itu, sepertinya memang sudah mandi.
"Kamu ngapain lari-lari sih, Dek? Untungnya aku berhasil nangkep. Kalau nggak gimana? Bisa-bisa kamu terluka," ucap Rama dengan cemas. Sama halnya seperti Sisil, dia juga terlihat terkejut tadi.
Perlahan Rama mengecup pipi kanan Sisil dan dia dapat mendengar suara debaran jantung milik gadis itu. Wajahnya juga masih terlihat syok, mungkin Sisil masih kaget.
"Om habis dari mana? Aku mencari-cari Om tau!" omel Sisil marah.
Tak peduli selimutnya melorot hingga belahan dadanya terlihat, tapi sejak tadi dia masih sibuk memeluk Rama. Sisil benar-benar merasa ketakutan, jika pria itu diam-diam pergi menemui Fuji.
"Aku ada di dapur, Dek, tadi keluar sebentar ke minimarket sekalian beli sarapan." Rama melangkahkan kakinya naik ke anak tangga sambil menggendong Sisil, lalu menunju kamar.
"Kok aku nggak diajak? Oh ... pasti Om pergi sama Fuji, kan?" tebak Sisil penuh curiga. Dia menangkup kedua pipi Rama yang terlihat basah karena keringat. Jantungnya ingin lompat rasanya, tapi apa yang dia rasakan saat ini membuatnya nyaman.
"Kamu 'kan masih tidur, Dek, dan aku pergi sendirian kok tadi." Rama membawa Sisil ke kamar mandi, lalu perlahan menurunkannya ke dalam bathtub kosong.
"Om nggak bohong, kan?"
"Mana mungkin aku bohong sama kamu, Dek." Rama mengecup kening Sisil, lalu menarik selimut di tubuhnya. Akan tetapi, gadis itu langsung menahannya. Memegangnya dengan erat. "Lho, kenapa dipegangin, Dek?" tanyanya heran. Keningnya tampak mengernyit.
"Kan semalam udah, Om, masa mau lagi? Milikku masih sakit dan badanku juga," sahut Sisil. Kedua pipinya bersemu merah dan dia langsung mengalihkan pandangan.
"Udah apanya, Dek? Kan ini kamu mau mandi, masa pakai selimut? Aku mau ngisi air hangat untukmu."
"Oh mandi ...." Ternyata apa yang dipikirkan Sisil dan Rama berbeda. Padahal yang Sisil kira, Rama akan mengajaknya kembali bercinta di dalam sana. Mungkin mencoba suasana baru? Ah entahlah.
"Iya, terus ngapain? Masa jalan-jalan di kamar mandi? Aneh deh kamu," kekeh Rama. Lalu menarik selimut itu dan perlahan dia menelan saliva. Sebab buah dada yang tampak montok itu benar-benar menggiurkannya.
__ADS_1
"Om, habis aku mandi ... kita pergi dari sini, ya?" pinta Sisil dengan tatapan penuh arti.
Namun, dirinya langsung menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Merasa malu karena terus diperhatikan Rama. Tatapan pria itu juga seperti tatapan lapar.
"Kamu mau pulang ke Indonesia, Dek?"
"Nggak." Sisil menggeleng. "Tapi pindah villa saja. Aku nggak suka sama Fuji, Om."
"Ya sudah, kita pindah. Kamu aku tinggal buat mandi, ya, aku mau siapkan sarapan buat kita terus sekalian cari villa baru." Rama mengelus rambut Sisil, lalu mencubit hidung mancungnya dengan lembut.
"Carinya lewat hape saja ya, Om. Jadi Om nggak usah pergi ke mana-mana. Dan carinya yang jauh dari sini, biar nggak ketemu Fuji," saran Sisil. Ucapan darinya seketika menghentikan langkah kaki Rama yang sedikit lagi keluar dari kamar mandi.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk kecil. Kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari sana. 'Kenapa, ya, Sisil nggak suka sama si Fuji?! Padahal dia 'kan orangnya baik. Masa sih hanya karena aku temannya? Tapi 'kan hanya teman, memang apa salahnya?' batin Rama bertanya-tanya.
*
*
Sisil melangkah turun dari anak tangga. Dia memakai baju rajut panjang berwarna merah dan rok tutu bunga-bunga berwarna hitam. Wajahnya tampak cantik dengan polesan make up tipis, rambut pendeknya tergerai.
Cup~
Wajah Sisil langsung memerah, dia juga seperti tersipu malu.
"Wangi lagi," tambah Rama lalu memeluknya sebentar dan tiba-tiba miliknya berkedut di dalam celana. 'Tuh, kan, dia bangun lagi, Dek.' Rama membatin sambil terkekeh, kemudian merelai pelukan.
"Eemmm ... ini Om beli di mana? Apa kiriman dari Fuji?" Sisil menatap dua piring yang terlihat seperti nasi goreng. Hanya saja bedanya isi makanan itu lebih kebanyakan potongan ayam ketimbang nasi.
"Aku beli tadi, Dek, kan aku bilang ke minimarket sambil beli sarapan." Rama meletakkan segelas susu putih di atas meja untuk Sisil, lalu secangkir kopi untuknya sendiri. Setelah itu barulah dia menarik kursi untuknya dan duduk di depan sang istri.
"Susu sama kopinya juga?" tanya Sisil menatap Rama. Pria itu terlihat tampan dan keren sekali dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam. Kaos merah dan celana jeans hitam.
"Itu aku buat sendiri. Tapi kalau rasanya nggak enak harap dimaklumi ya, Dek, aku baru pertama kali bikin susu sendiri soalnya. Tapi itu susu instan kok."
Bukan hanya susu yang baru pertama kali membuat sendiri, tapi kopi juga.BRama yang terlihat dari keluarga kaya tentunya apa-apa menggantungkan pembantu.
__ADS_1
Perlahan dia meraih secangkir kopi, lalu menyeruputnya secara perlahan. Masih terasa panas, tapi enak diminum dengan cuaca dingin-dingin seperti ini.
Sisil memperhatikan gelas susu yang begitu penuh itu, tapi warnanya terlihat bening. Perlahan dia mulai menyeruputnya, ternyata rasanya begitu hambar. Jelas sekali, sebab kebanyakan air. "Susu dan kopi instannya masih ada, Om?"
"Masih." Rama mengangguk, lalu mulai menyantap nasi goreng. "Kenapa? Mau buat lagi, Dek?"
"Iya, mau nambahin susu lagi. Soalnya ini nggak ada rasanya, Om," jawab Sisil, lalu Rama berdiri. "Tapi biar aku saja, Om. Aku yang ambil sendiri," cegahnya yang buru-buru berdiri.
"Oh ya sudah, susunya di dalam kantong putih, Dek." Rama menunjuk meja di dekat kompor, lalu duduk kembali.
"Iya." Sisil mengangguk, kemudian melangkah menuju meja tersebut sembari membawa gelas susu itu. "Aku tadi sekalian beresin baju dan perlengkapan kita di koper, Om. Biar habis sarapan langsung pergi dari sini."
"Iya, terima kasih ya, Dek. Aku juga sudah mendapatkan villa yang baru kok. Tinggal ngomong ke Fuji saja."
Setelah menambahkan susu dan mengaduknya, Sisil buru-buru menuju meja makan. Kemudian duduk lagi di depan Rama dan meletakkan segelas susu di atas meja.
"Nggak usah ngomong sama Fuji, langsung pergi saja, Om," saran Sisil. Walau bertemu sebentar, tapi dia benar-benar tidak rela.
"Masa gitu? Ya nggak enaklah, Dek."
"Ya sudah, biar aku saja deh yang ngomong sama dia. Tapi Om nggak perlu ikut, ya?!" Sisil melahap nasi gorengnya. Dia makan dengan buru-buru sebab selain ingin cepat pergi dari villa, dia juga sangat lapar.
"Serius kamu yang mau ngomong sama dia? Kamu bukannya nggak suka katanya sama Fuji?!" tanya Rama memastikan.
"Aku memang nggak suka sama Fuji, tapi aku lebih nggak suka lagi kalau lihat Om lagi ngomong sama dia!" sahut Sisil dengan wajah cemberut. "Udah gitu ... Fuji orangnya genit! Sama seperti Gisel yang suka pegang-pegang Om sembarangan! Benci banget aku sama perempuan genit macam mereka!" cerocos Sisil yang tiba-tiba saja marah. Bola matanya tampak melotot tajam.
"Kapan Fuji—" Ucapan Rama terputus diujung bibir sebab tiba-tiba saja dia mendengar suara bel dari luar.
Ting! Tong!
Sebelum Rama berdiri, Sisil lah yang lebih dulu berdiri. Kemudian secepat kilat, gadis itu berlari begitu saja menuju pintu.
"Itu pasti si Fuji gatel!" seru Sisil yang sudah menjauh.
...Hajar, Sil, yang mau sama lakimu banyak soalnya 😆...
__ADS_1