Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
164. Kenapa gelap sekali?


__ADS_3

"Kita buat rencana yang seolah-olah Nona Gisel ketahuan selingkuh, lalu Bapak memergokinya dan langsung minta putus. Pasti itu ampuh, Pak!" jawab Evan dengan ide briliannya.


"Terus yang jadi selingkuhannya siapa? Kamu?" tebak Gugun dan sukses membuat pria di sampingnya itu mengangguk cepat.


"Tentu saja, Pak!" Dia bahkan sudah tersenyum dengan hati gembira. "Bila perlu, nanti saya juga sekalian perko*sa Nona Gisel dan Bapak memergokinya pas kami lagi enak-enak."


"Dih, Van!" Bola mata Gugun sontak membulat sempurna. "Jangan! Nggak perlu pakai perko*sa segala!" larangnya.


"Kenapa memangnya, Pak? Bukannya itu bagus ... kan Nona Gisel jadi nggak bisa mendekati Bapak atau Pak Rama lagi. Karena kesuciannya sudah aku renggut."


Rencana Evan terdengar jahat sekali, dan membuat Gugun jadi tak setuju.


"Kalau menjebak dengan cara pura-pura jadi selingkuhan sih nggak apa-apa, Van. Tapi nggak perlu pakai diperk*osa segala! Itu tindakan kriminal namanya. Kasihan Nona Giselnya juga ... apalagi kalau dia masih gadis. Ya meskipun udah nggak gadis pun tetep aja itu nggak boleh." Gugun menggelengkan kepalanya. Menurutnya ini sangat beresiko.


"Ya kalau nggak diperk*osa terus diapain dong, Pak, Nona Giselnya? Supaya Bapak menganggapnya selingkuh? Soalnya mantan istri saya saja dulu selingkuh dengan cara begituan dengan laki-laki lain."


"Lho, kamu ternyata duda, Van?"


"Iya." Evan mengangguk. "Duda keren, Pak."


"Pantes."


"Pantes gimana?"


"Ya pantes omonganmu terdengar jauh lebih berpengalaman dariku, Van."


"Terus bagaimana? Apa ide dari Bapak sekarang?" Evan pun bertanya tentang pendapat Gugun.


"Aku setuju dengan idemu tadi, Van. Aku bisa mencobanya. Tapi nggak perlu pakai perk*osa-perk*osaan segala. Kamu cukup merayu, atau merangkulnya juga sepertinya nggak masalah. Nanti aku bisa mengira kamu selingkuhannya Nona Gisel."


"Hanya merayu dan merangkul? Mana enak, Pak." Evan mengerucutkan bibir. "Setidaknya remmas dada atau cium-cium kayaknya lebih asik."


"Kamu kok jadi mesum sih, Van!" tegur Gugun sambil berdecak. "Lagian kalau kamu melakukan hal itu sama saja melecehkan namanya. Bisa-bisa Nona Gisel melaporkanmu ke polisi."


"Ah ... giliran dia saja mencium Bapak, tapi nggak Bapak anggap pelecehan? Kenapa giliran aku yang mau cium dia ... justru dianggap pelecehan? Nggak adil amat." Even mendengkus dengan bibir yang menggeriting.


"Perempuan sama laki-laki 'kan beda, Van. Kalau perempuan 'kan ada Komnas perlindungannya. Kalau laki-laki sendiri 'kan nggak ada."


"Tapi banyak lho, Pak, zaman sekarang ... laki-laki dica*buli. Dan itu bisa kita penjarakan pelakunya."

__ADS_1


"Ya kalau itu lain lagi, Van. Dan yang menca*buli pasti seorang laki-laki lagi. Nggak mungkin perempuan."


"Iya, sih." Evan mengangguk.


"Kapan kira-kira, rencana ini kita mulai, Van? Aku udah nggak sabar banget soalnya ... ingin segera putus dengan Nona Gisel."


"Sekarang juga bisa kok, Pak. Kalau Bapak mau ... kita—"


"Evan ...," panggil Mbah Yahya yang tiba-tiba datang bersama Yenny, hingga memotong ucapan Evan. Keduanya sudah selesai menemui dokternya Rama.


"Iya, Pak?" Pria itu langsung menoleh dan berdiri.


"Antar aku ngambil cincin, Van. Sepertinya akan jauh lebih baik cincin itu ditemukan dulu. Siapa tau ... aku bisa menemukan pelaku yang mencelakai Rama lewat mata batin."


"Memang cincinnya sudah ketemu, Dad?" tanya Yenny. "Berarti semedi Daddy berhasil, ya?"


"Iya, Mom." Mbah Yahya mengangguk dengan raut senang. Tak sabar juga rasanya, memakai kembali cincin sakitnya itu. "Mommy do'akan, ya, biar Daddy berhasil ngambil cincin itu dari orang yang udah menemukannya."


"Pasti!" Yenny langsung memeluk tubuh suaminya. "Pasti Mommy do'akan, Dad."


"Lho, Van, terus rencana kita gimana?" tanya Gugun sebelum Evan hendak melangkah.


Setelah mengatakan hal itu, dia pun melangkah bersama Mbah Yahya. Meninggalkan Gugun dan Mommy Yenny.


*


"Rencana apa yang kamu buat dengan Gugun, Van?" tanya Mbah Yahya yang kini sudah berada di dalam mobil asistennya. Dia tadi tak sengaja mendengar, apa yang Gugun dan Evan katakan.


"Oh itu, Pak. Tentang Nona Gisel."


"Jadi Gisel dalangnya, Van?"


"Dalang gimana maksudnya?" Evan mengerutkan dahi, kemudian mulai mengemudikan mobilnya.


"Dalang atas kecelakaannya Rama."


"Bukan, Pak." Evan menggeleng. "Ini nggak ada hubungannya dengan kecelakaannya Pak Rama. Tapi saya cuma mau membantu Pak Gugun supaya putus dengan Nona Gisel."


"Kok putus?" Mbah Yahya terlihat keheranan mendengarnya. "Memang mereka pacaran?"

__ADS_1


"Katanya iya, Pak." Evan mengangguk. "Bodoh banget 'kan Pak Gugun? Masa dia mau-mau aja ... sama perempuan berbahaya seperti Nona Gisel. Dan saya yakin ... kalau Nona Gisel itu nggak beneran cinta sama Pak Gugun, Pak."


"Iya." Mbah Yahya mengangguk setuju. "Bodoh banget emang si Kumis Lele itu! Tapi bagus juga kamu, Van, bantuin dia. Memang lebih baik ... Gisel itu nggak ada didekat kita. Aku takut, nantinya dia menganggu rumah tangga Rama dan Sisil. Kuperhatikan Sisil juga sudah mulai cinta sama Rama."


"Iya, Pak. Saya juga berpikir seperti itu. Ini semua demi kebaikan rumah tangga mereka."


*


*


Ceklek~


Yenny pun membuka pintu kamar inap anaknya, lantas melebarkannya dan melangkah masuk bersama Gugun.


Sisil yang sedari tadi menciumi bibir Rama langsung terperanjat. Buru-buru dia menghentikan aktivitasnya, lalu menarik tubuhnya untuk menjauh. "Eh, Mom ... Kak."


"Lagi apa kamu, Nak? Udah kangen banget, ya, kamu kayaknya sama Rama?" tanya Yenny yang tampak tersenyum, melihat menantunya yang sudah salah tingkah. Kedua pipinya juga ikut merona.


Gugun sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku adiknya, lalu duduk di sofa.


"Tadi aku cuma bersihin bibir Aa kok, Mom. Soalnya berminyak," jawab Sisil beralasan sembari menggaruk tengkuknya.


"Kamu udah sarapan belum tadi?" Yenny perlahan mendekat, lalu merangkul bahu menantunya.


"Belum." Sisil menggeleng.


"Kok belum sih, Nak? Harusnya 'kan—"


"Mom ...," panggil seseorang yang mana membuat Yenny dan Sisil menoleh. Ternyata asal suara itu dari Rama. Dan pria itu kini sudah membuka mata sambil mengerjap beberapa kali.


"Alhamdulillah!"


"Aa!"


Kedua perempuan berbeda generasi itu menyeru bersama karena sangking senangnya.


Sisil pun langsung memeluk Rama yang masih bertelanjang dada, lalu mencium bibirnya bertubi-tubi.


"Apa ini kamu, Dek?!" Rama tiba-tiba meraba wajah Sisil dengan tangan kanannya. Tapi sorotan matanya terlihat kosong. "Tapi kenapa gelap sekali? Di mana ini? Apakah mati lampu?"

__ADS_1


...Kok bisa gelap, sih, Om 🤔...


__ADS_2