
Sebut saja mereka Cimit dan Cemet. Keduanya adalah orang bayaran Arya, yang disuruh untuk menculik Sisil sebelum sampai ke hotel.
Sayangnya, apa yang mereka lakukan rupanya cukup sulit. Sebab tiba-tiba saja, ada empat orang pria dari belakang yang menyalipnya. Kemudian mereka berkendara di belakang mobil pengantin.
Mereka adalah orang suruhan Mbah Yahya, yang ditugaskan untuk mengawal. Jelas sekali, Mbah Yahya begitu ketat menjaga calon menantunya. Khawatir bahaya akan datang mengancam.
Empat orang tersebut memakai motor gede dan helm. Pakaiannya serba hitam. Dari mulai jaket, celana jeans hingga sepatu. Dan yang paling membuat Cemet dan Cimit tiba-tiba jadi resah adalah keempatnya berbadan besar.
Mereka juga sama besarnya. Tapi jika lawannya lebih dari dua, rasanya mereka takut kalah. Nanti mereka lah yang babak belur.
"Mit, kayaknya yang naik motor itu rombongan pengantin juga, deh, bagaimana ini?" tanya Cemet yang tampak bingung.
"Iya, gimana, ya? Apa kita tetap berbuat nekat saja?" usul Cimit. "Tapi aku khawatir kalau kita yang akan kalah, nanti kita yang babak belur."
"Tapi Bos Arya pasti marah kalau kita nggak melakukan apa-apa."
"Kamu telepon Bos Arya dulu, kasih tahu dia," titah Cimit. Temannya itu mengangguk, lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana dan langsung menghubungi Arya.
"Halo, Bos," ucap Cemet saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Apa?" Suara Arya terdengar datar.
"Ada empat motor yang mengikuti mobil pengantin, sepertinya mereka orang-orang yang disuruh untuk mengawal Nona Sisil. Bagaimana ini, Bos?"
"Tetap lakukan apa yang aku suruh. Kalau Sisil nggak berhasil kalian culik, aku nggak akan bayar sisa upah kalian!" tegas Arya, kemudian langsung memutuskan panggilan telepon.
"Kita salip saja, Mit. Usaha dulu saja," titah Cemet.
"Peralatannya sudah dibawa semua, kan?" tanya Cimit memastikan.
"Sudah," jawab Cemet menganggukkan kepala.
"Kita pakai gas air mata saja, Mit. Nggak usah pakai pistol," saran Cimit.
"Kamu yakin?"
"Iya." Cimit mengangguk.
__ADS_1
"Nanti kalau mereka sakit mata bagaimana?"
"Lha, ngapain ngurusin mereka, yang penting 'kan misi kita berhasil. Kamu memangnya nggak mau kita hari ini makan pizza?" tawar Cimit membujuk.
"Mau dong, ya sudah ayok." Cemet membuka tas ranselnya, lalu mengambil dua semprotan gas air mata. Dan temannya itu langsung menarik gas mobilnya, kemudian dengan cepat menyalip mobil pengantin.
Ckiitttt.....
Evan mengerem mobilnya secara mendadak. Kalau tidak, mobil itu akan saling bertabrakan.
"Duh, kok ngerem mendadak?!" Sisil mendengkus kesal saat jidatnya menyentuh kursi depan akibat tubuhnya sempat tertarik maju. Khawatir kalau sampai make up-nya luntur.
"Maaf, Nona. Itu ada mobil yang mengerem dadakan," sahut Evan.
"Mom, make up-ku luntur nggak?" tanya Sisil seraya menghadap ke arah Yenny. Wanita itu langsung memperhatikan jidat sang calon menantu, lalu menggeleng.
"Nggak, Sayang. Aman."
"Siapa mereka?!" Gugun memperhatikan mobil hitam di depan sana yang baru saja keluar orang di dalamnya. Kedua pria itu memakai masker, kacamata dan juga topi, pakaiannya serba hitam.
"Siapa kalian? Ada perlu apa?!" tanya salah seorang pengawal yang berada di atas motor, dia menatap Cemet dan Cimit yang baru saja melangkah mendekat.
"Eemm kami ...." Ucapan Cimit sengaja dia gantung, sebab dirinya langsung menyemprotkan gas air mata yang sejak tadi dia genggam.
Melihat itu, Cemet pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua langsung menyemprotkan gas air mata itu ke wajah empat orang di depannya.
"Akkhh mataku!" teriak salah satu pengawal saat merasakan perih dan panasnya kedua bola matanya. Bahkan seperti terbakar.
"Br*ngsek ya kalian!" pekik pengawal yang lain. Dengan mata yang terasa sakit dan tertutup dia berusaha untuk menghajar Cemet dan Cimit. Sayangnya dia tak berhasil menyentuh tubuh keduanya sama sekali. Dan dua temannya yang lain sudah jatuh pingsan akibat menahan sakit di matanya.
"Dia kabur, Met!" teriak Cimit seraya menunjuk ke arah mobil pengantin yang baru saja pergi dengan kencang.
"Kita susul!" seru Cemet. Dia gegas berlari masuk ke dalam mobilnya lagi dan disusul oleh Cimit. Mereka kembali mengikuti mobil pengantin setelah berhasil mengalahkan keempat pengawal.
Sementara itu di dalam mobil, Gugun menelepon polisi meminta bantuan kepadanya. Sedangkan Evan sejak tadi berkomat-kamit dengan menyebut-nyebut nama Yahya. Matanya menatap batu akik berwarna merah dijari manisnya.
"Mom, mereka siapa? Kok seperti ingin mengincar mobil kita?!" Sisil memutar kepalanya ke belakang. Jantungnya berdebar kencang dan mendadak dirinya merasa ketakutan.
__ADS_1
"Mommy nggak tahu."
Sama halnya seperti Sisil, Yenny juga memperhatikan mobil di belakang yang masih berupaya ingin menyalip. Akan tetapi, tiba-tiba saja ponselnya berdering di dalam tas jinjing. Sebuah panggilan masuk dari Mbah Yahya dan segera dia angkat.
"Halo, Dad, ada mobilā"
"Suruh Evan ambil paku yang ada di dasbor, lalu sebarkan ke arah mobil yang ada di belakang," titah Mbah Yahya. Suaranya terdengar nyaring dan tegas.
Baru saja Yenny ingin memberitahunya karena kebetulan sekali dia menelepon. Namun, Mbah Yahya seolah sudah tahu semuanya.
"Oke." Yenny matikan panggilan itu. "Ambil paku di dalam dasbor, Van, terus sebarkan ke belakang mobil. Itu atas permintaan suamiku," ucapnya memberitahu Evan.
"Baik, Bu." Pria itu mengangguk, lalu menuruti perintah Yenny yakni mengambil sebuah paku di dalam sana yang ternyata adalah sebuah paku payung. Setelah itu dia membuka kaca mobilnya dan menjatuhkan beberapa paku sambil berkomat-kamit.
Tak menunggu waktu yang lama, mobil yang dikendarai Cimit dan Cemet sudah tak ada lagi di belakangnya. Pasti ban mobil mereka sudah kempes dan tak bisa lagi mengejar Sisil.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Gugun menghela napasnya dengan lega, kala melihat ke belakang. Dia merasa lega sebab menurutnya, marabahaya tadi sudah hilang. 'Siapa kira-kira mereka dan mau apa? Kok sampai menyemprotkan gas air mata segala?' batin Gugun.
'Alhamdulillah mereka sudah pergi,' batin Sisil menghela napas lega.
Selang beberapa menit saja, mobil mereka pun akhirnya sampai di gedung hotel. Evan bergegas turun dari mobilnya terlebih dahulu untuk membukakan pintu dimana Sisil berada.
Gadis itu turun bersama Yenny, Gugun juga ikut turun kemudian menggandeng tangannya. Setelah itu ketiganya melangkah bersama-sama menuju pintu utama gedung hotel.
Sembari berjalan, manik mata Sisil berkelana menatap sekeliling. Diluar gedung itu banyak sekali karangan bunga yang bertuliskan 'Happy Wedding', ada namanya dan nama Rama tertera di sana. Cantik-cantik sekali bunganya dan aroma wanginya dapat tercium di hidung Sisil.
'Siapa yang mengirim karangan bunga sebanyak itu? Bunganya cantik sekali,' batin Sisil dengan wajah yang merona.
Hari ini, rasanya dia sangat bahagia. Namun itu entah karena memakai baju pengantin atau menikah dengan Rama. Mungkin, bisa jadi dua-duanya.
Langkah mereka pun tiba di dalam gedung hotel itu. Sisil masih sibuk menatap sekitar dan banyak sekali tamu yang sudah berdatangan. Semuanya duduk di kursi, ada pula yang berdiri serta menyerbu prasmanan yang menjadikan berbagai macam makanan.
Dari yang berat sampai ringan. Semuanya serba ada sudah seperti restoran dadakan.
Pandangan mata Sisil akhirnya terjatuh pada tempat ijab kabul. Sudah ada Mbah Yahya yang tengah duduk sambil tersenyum bersama beberapa orang yang memakai peci di sana. Akan tetapi, Sisil tak menemukan sosok Rama. Bahkan sejak dirinya masuk ke dalam gedung hotel.
'Di mana Om Rama? Kok nggak ada dia?' batin Sisil bingung.
__ADS_1
...Duh, udah nggak sabar mau ketemu ya, Sil 𤣠Nggak boleh meleleh lho nantiš¤...