
...Yang belum baca ulang bab 68, tolong dibaca ulang, ya! Soalnya sudah lolos dari revisian....
...Happy Reading 💞...
Peluh keduanya bercucuran begitu deras. Ruangan ber-AC yang cukup dingin tak serta-merta membuat keduanya kedinginan. Malah yang ada mereka kepanasan.
Mungkin sudah satu jam lebih berlalu, Rama juga sudah mencoba berbagai gaya yang dia tahu. Dilihat Sisil sangat pasrah dan hanya bisa mendessah, bahkan dessahannya yang paling nyaring mengisi kamar.
Sudah tiga kali dia mencapai pelepasan, tetapi tidak dengan Rama yang sekali saja belum keluar.
"Ini enak!" racau Sisil. Kedua tangannya meremas seprei dan dia tengah menungg*ngi Rama.
"Iya, Dek, ini sangat enak." Rama tersenyum puas, dia makin semangat bergoyang.
Setelah beberapa menit, mereka kembali berganti gaya.
Rama pun meraih tubuh Sisil, lalu menggendongnya dengan posisi saling menyatu. Kemudian dia turun dari kasur dan menuju pojok ruangan.
Punggung putih milik Sisil tertempel pada tembok, kedua tangannya meremmas bahu Rama dan dia masih sibuk menyesap bibir. Sedangkan Rama, sibuk memajukan pinggulnya. Hingga beberapa menit kemudian, senjata pamungkasnya itu berhasil muntah. Menghangatkan rahim Sisil.
"Euuuggh!" Rama melenguh panjang, sesi ciuman itu masih berlanjut sebab Sisil terus menyesap lidahnya.
__ADS_1
Dalam sekejap, Rama merasa Sisil berubah. Dia yang awalnya tak mau bercinta justru malah yang paling semangat.
'Terima kasih, Dek, kamu sangat cantik dan aku mencintaimu,' batin Rama.
***
Di kamar berbeda.
Yenny tengah berdiri di ambang pintu. Mungkin sudah dari setengah jam yang lalu, dia terus memandangi ke arah depan, tepat di mana kamar pengantin itu berada.
Bukan hanya Rama dan Sisil, dia dan Mbah Yahya juga menyewa kamar untuk semalam. Pesta sudah selesai sampai jam 3 pagi, dan keduanya baru beristirahat.
"Mommy ngapain, sih?" tanya Mbah Yahya yang baru saja keluar dari kamar mandi, sehabis mandi dan sekarang mengenakan handuk kimono. Dia pun berjalan menghampiri istrinya, lalu merangkul bahu. Dilihat wajah Yenny seperti tengah mencemaskan sesuatu. Tapi entah apa itu. "Daritadi kok berdiri mulu? Bukannya tidur. Memangnya nggak capek dan ngantuk?!"
"Ngapain Rama dipikirin? Kan dia sudah bahagia, sudah menikah," sahut Yahya dengan santai.
"Mommy takutnya malam pengantin mereka nggak lancar. Mommy 'kan pengen cepat gendong cucu laki-laki dari Rama." Yang Yenny pikirkan adalah ketahanan permainan Rama. Dan obat kuda itu tak manjur.
"Pasti lancar dong, kan Mommy bilang sendiri kalau Mommy ngasih obat kuat ke Rama." Sehabis memberikan obat, Yenny memang sudah cerita.
"Takutnya nggak manjur obatnya, Dad."
__ADS_1
"Manjurlah, masa nggak. Besok tanya saja sama Rama. Kalau nggak manjur ... baru kita beli lagi," bujuk Mbah Yahya. Dia pun menarik tubuh Yenny, lalu membawanya masuk ke dalam kamar dan menutup serta menguncinya.
***
Di tempat berbeda, di dalam sebuah kamar apartemen yang Arya sewa, lelaki itu tengah meminum satu botol minuman keras.
Rasa frustasi akibat gagal menculik Sisil untuk dapat dia ajak kawin lari membuatnya tak ada pilihan, selain untuk minum minuman haram itu.
Sebenarnya tak ada niat untuk minum awalnya, akan tetapi temannya bernama Anjas yang saat ini menemaninya lah yang mengusulkan.
"Apa secepat itu kamu melupakanku, Sil?! Apa selama ini cintamu nggak pernah tulus untukku?!" lirih Arya sambil menangis, dia memandangi sebuah video berdurasi 3 menit di ponselnya. Hasil kiriman dari Ganjar.
Video itu adalah video dimana Sisil yang tengah duduk pada pangkuan Rama, lalu mereka berdua berciuman dengan mesra.
Panas sekali hati dan dada Arya saat ini. Dia juga tak menyangka—jika hubungan yang begitu manis mereka jalani selama beberapa bulan bisa berakhir dengan penuh kekecewaan.
Anjas yang duduk di sofa hanya bisa memperhatikan Arya yang berada tak jauh darinya. Lelaki itu duduk di lantai di dekat tempat tidur, sambil menangis dia juga terlihat berulang kali menjambak rambutnya sendiri.
'Kasihan Arya, tega sekali si Sisil ... dia malah berkhianat,' batinnya. Anjas yang tak tahu apa-apa jelas bisa berpikir demikian.
'Kalau pun orang tua dan keluargaku nggak setuju ... tapi 'kan aku mau menikah denganmu, Sil. Harusnya ... kamu bicarakan ini denganku supaya kita bisa mencari jalan keluar, jangan malah langsung memutuskan hubungan. Kamu itu hanya pantas menikah denganku, bukan dengan Pak Rama. Dia jauh lebih cocok jadi Bapakmu, bukan suamimu,' batin Arya terenyuh. Dia menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
...Maaf ya, Arya 😩 Author do'ain biar cepat move on deh 🥲...