
"Dek, Dek, serius ini aku masuk ke sini? Nanti kalau kena sanksi bagaimana?" tanya Rama dengan takut. Sedangkan Sisil terlihat biasa saja. Dia pun lantas menutup dan mengunci pintunya dengan rapat.
Di dalam toilet wanita yang mereka masuki, ada 5 kamar. Jadi mereka masuk ke salah satunya yang berada dipaling ujung.
Kebetulan memang tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua.
"Om nggak usah lebay deh, masa sampai kena sanksi segala? Ya nggaklah," jawab Sisil santai.
Setelah melepaskan kedua sarung tangan, Sisil menarik kran pada wastafel, lalu membasuh wajahnya sambil berkumur-kumur.
Airnya terasa begitu dingin, mungkin memang karena bawaan musim salju.
Rama yang berdiri di belakang Sisil langsung memegang kedua lengannya. Seperti apa yang gadis itu katakan, dia ingin ditemani sebab takut terpleset.
Saat sudah membasuh wajah, Sisil pun menuju kloset. Dia buka penutupnya terlebih dahulu, kemudian menyingkap rok tutunya ke atas lalu menurunkan celana dalammnya sebatas lutut.
Rama yang melihat sangkar emas berwarna pink itu langsung menelan ludahnya dengan kasar. Darahnya seketika berdesir ketika Sisil sudah duduk sambil mengeluarkan air dari dalam sana.
Suaranya tidak terlalu nyaring, tapi sungguh membuat bulu kuduknya sontak berdiri. Begitu pun bulu di dalam celananya.
"Kamu mau berak apa gimana, Dek?" tanya Rama. Wajahnya memerah sebab kabut gairah itu mendadak muncul.
"Nggak, cuma pipis Om," sahut Sisil lalu menoleh ke samping, mencari kran air. Namun nyatanya tidak ada. "Lho, kok nggak ada kran airnya? Apa rusak?" Menoleh ke kanan dan kiri, tapi tetap tidak ada selang air atau kran air. Krannya hanya wastafel saja.
"Bersihinnya pakai tissue, Dek." Rama memasukkan tangannya ke sebuah tempat tissue toilet, yang letaknya di atas kloset. Dia menariknya, lalu menyobek kemudian memberikannya kepada Sisil.
"Maksudnya aku nggak cebok?" tanya Sisil heran.
__ADS_1
"Ya ceboknya pakai tissue."
"Dih mana bersih, bereng dong milikku, Om."
"Bereng?" Kening Rama mengernyit. "Apa itu bereng, Dek?"
"Maksudnya kayak semacam perih gitu, Om. Terus nanti merah. Aku waktu kecil kalau nggak cebok suka begitu."
"Masa, sih? Tapi aku nggak pernah perih sih, Dek, meskipun pipis nggak cebok."
"Dih, jadi selama ini Om kalau pipis nggak pernah cebok? Jorok amat, pesing dong!" gerutu Sisil. "Bukannya air pipis juga najis, ya?"
"Kalau lagi darurat aja kok, Dek, kalau nggak mah ya pakai air. Memangnya aku Daddy, yang kalau kencing nggak pernah cebok?" kekeh Rama.
"Terus ini gimana nasibku, Om? Aku nggak mau pakai tissue."
"Caranya?!" Kening Sisil mengernyit. Dia tampak bingung.
"Sini kamunya." Rama menarik Sisil untuk berdiri, kemudian dia melepaskan cellana dalam dan rok tutunya.
Setelah menaruh pada gantungan, Rama menarik Sisil untuk lebih dengan wastafel. Barulah dia menggunakan telapak tangannya untuk menadahkan air.
"Kakimu dibuka lebih lebar, Dek, biar enak aku bersihinnya," titah Rama.
Sisil dengan patuh langsung membuka kedua kakinya, lalu agak menurunkan tubuhnya sedikit supaya miliknya lebih mudah Rama jangkau.
Pria itu dengan telaten membersihkannya. Membasuh milik Sisil dengan air yang dia ambil.
__ADS_1
Sentuhan tangan kekarnya itu seketika membuat tubuh Sisil meremmang tak karuan. Rama bukan hanya membuat miliknya menjadi bersih, tapi juga membuatnya menginginkan sesuatu.
'Tangan Om Rama kayaknya ajaib. Masa cuma kayak gitu aja aku udah merinding sih,' batin Sisil sambil mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu.
"Udah bersih, Dek," ucap Rama. "Kamu nggak perlu heran kalau pergi ke luar negeri pas ke toiletnya nggak nemu selang air buat cebok, karena disini kebanyakan ceboknya pakai tissue dan ...." Ucapan Rama seketika terhenti, sebab melihat Sisil tengah mengigit bibir bawahnya sambil memandangi wajahnya. Wajah gadis itu juga terlihat merona.
"Kamu kenapa? Kok merah wajahmu?" Rama menangkup kedua pipinya dan terasa panas. Sisil pun langsung memeluk tubuhnya dengan erat. "Lho, kamu kenapa, sih? Ayok pakai rokmu lagi. Terus kita keluar dari sini dan jalan-jalan lagi, Dek."
"Aku kepengen pulang saja, Om," jawab Sisil pelan. Gadis itu kini tengah menghirup dada bidang Rama. Wangi maskulinnya membuat jantungnya berdebar kencang. 'Kenapa Om Rama sangat wangi, sih? Pakai parfum apa, ya, dia?'
"Pulang ke Indonesia?" sahut Rama.
"Ke villa. Aku kayaknya capek mau tiduran. Lagian aku ngerasa kedinginan juga, saljunya sangat lebat."
"Udah puas jalan-jalannya emang?" Rama memastikan. Jangan sampai nanti Sisil menyesal sebab membeli tiketnya saja mereka mengatre cukup lama.
"Udah. Pokoknya aku kepengen pulang saja, Om. Terus tiduran dikasur."
"Ya sudah. Lepas dulu kamunya, terus pakai rok. Kalau kayak gini terus mah kapan kita pulangnya?" kekeh Rama.
"Aku mau dipakein. Kan tadi Om yang lepasin," rengek Sisil dengan manja. Perlahan dia merelaikan pelukan, kemudian duduk kembali di atas kloset tapi yang sudah ditutup.
"Oke deh Dedek Sisil yang paling manis," jawab Rama. Dia meraih cellana dalam dan rok pada gantungan, kemudian berjongkok di depan Sisil.
Namun, saat Rama hendak memakaikan celana dallam pada kaki kirinya. Gadis itu justru membuka kedua pahanya dengan lebar dan memajukan pinggulnya, sehingga sangkarnya terlihat begitu jelas tepat di depan wajah Rama.
...Kamu mau ngapain sih, Sil, ya ampun 🙈...
__ADS_1