
"Aku nggak mau!" tegas Sisil marah, dia lantas bersedekap. "Enak saja aku dan Om Rama bercerai. Bisa-bisa ... dia diambil si Fuji gatal atau si Gisel gatal! Aku nggak mau itu terjadi, Kak!"
"Gisel?" Nama itu, terdengar familiar ditelinga Arya. 'Kok namanya mirip sama Mbakku? Tapi masa, sih, dia orang yang sama?'
"Iya, si Gisel. Dia perempuan gatal yang berani peluk-peluk Om Rama pas kami nikahan. Coba Kakak pikir ... bagaimana perasaanku? Pasti kesal, kan?" Sisil menatap Arya sambil merengut, dia mengingat akan hal itu. Dan tentunya, itu membuatnya sakit hati.
"Apa kamu sudah mencintai suamimu, Sil?" tanya Arya. Ekspresi wajah yang ditunjukkan gadis itu sama persis ketika dulu Lusi mengajak Arya mengobrol, dan itu membuat Arya curiga sekarang—jika memang benar mantan kekasihnya itu sudah menaruh hati pada Rama. "Dan apa ini artinya kamu sedang cemburu? Karena Om Tuamu dipeluk perempuan lain?"
"Dih, siapa yang cemburu? Nggaklah!" kilah Sisil. Nyatanya sampai sekarang, dia masih membohongi perasaannya terhadap siapa pun. Kalau memang benar—dia telah mencintai Rama. Mungkin ada faktor gengsinya juga.
"Terus cintanya bagaimana? Apa kamu mencintainya?!" tekan Arya.
"Nggak."
Jawaban itu sama sekali tak membuat hati Arya lega, sebab terlihat dari matanya saja—jika Sisil seperti berbohong.
"Kalau nggak cinta ... terus kenapa kamu terlihat nggak suka jika suamimu diganggu perempuan lain? Karena dulu saja ... Lusi menggangguku, kamu marah, kan?"
"Itu karena Om Rama sudah menjadi milikku, Kak."
"Milikmu?" Kening Arya mengerenyit. Dia terlihat bingung.
"Dia suamiku. Otomatis menjadi milikku." Sisil menyentuh dadanya. "Jika kita memiliki barang atau harta yang kita punya lalu diambil oleh orang lain ... pasti kita akan marah. Begitu pun jika hal itu terjadi pada Om Rama."
"Tapi itu berarti kamu sudah mencintainya."
"Kan aku sudah bilang nggak, Kak!" tegas Sisil, lalu membuang napasnya dengan kasar. "Lagi pula, ini sepertinya nggak penting untuk dibahas. karena mau bagaimana pun perasaanku kepada Om Rama ... itu bukan urusan Kakak."
"Tapi yang aku mau, kamu tinggalin Om Rama, Sil. Dia bukan pria yang baik untukmu!" tegas Arya. Kali ini, dia terdengar sedikit memaksa. "Apa susahnya sih, kamu ninggalin Om Rama, terus bersamaku? Kenapa berat sekali rasanya? Apa yang dia punya yang aku nggak punya, Sil!" geramnya yang mulai emosi. Dadanya terlihat naik turun dan bergemuruh di dalam sana.
__ADS_1
"Restu, semua itu karena restu, Kak!" jawab Sisil menegaskan. Sebenarnya dia tak ingin bercerita tentang hal ini, tapi lama-lama tak tahan juga sebab terus ditekan. "Ini semua gara-gara orang tua Kakak yang nggak merestui kita. Orang tua Kakak yang dengan teganya merendahku dan Kakakku!" teriaknya marah. Bola matanya pun tampak berkaca-kaca.
"Sama sekali, aku nggak terlihat baik dimata mereka. Berbanding terbalik dengan di keluarga Om Rama," ucap Sisil. Dia masih mengoceh berusaha untuk menjelaskan, supaya Arya paham dan tak lagi menganggu hidupnya. "Di keluarga Om Rama ... aku diterima, Kak. Apalagi Mommynya Om Rama, dia orang yang sangat baik dan seperti menganggapku anaknya."
Arya tampak terdiam, dia tidak mengelakkan apa yang Sisil katakan tentang keluarganya. Sebab memang benar adanya.
Namun, rasanya untuk mengikhlaskan Sisil sangatlah berat. Cintanya sudah terlanjur dalam dan ikut tenggelam di dalam sana.
"Aku minta maaf, Sil, kalau selama ini kamu merasa sakit hati dengan apa yang pernah keluargaku ucapkan. Tapi ... kamu juga harus ingat, yang menikah dan menjalani rumah tangga adalah kita, bukan Papaku atau Opaku. Itu sebabnya aku mengajakmu kawin lari dan pindah dari Jakarta, supaya kita bisa hidup tentram," jelas Arya yang terdengar begitu enteng. Dia sama sekali tak memikirkan resiko selanjutnya yang akan terjadi.
"Aku nggak yakin, kita bisa hidup tentram, Kak. Karena restu dari orang tua juga sangat penting bagi hidup berumah tangga," kata Sisil sambil menatap Arya dengan dalam, dia juga berusaha meyakini hatinya supaya tidak goyah. "Kakakku juga pernah berpesan kalau aku harus melupakan Kakak dan menerima Om Rama sebagai suamiku. Jadi aku harus menurutinya."
"Tapi buat apa kamu terus bersamanya kalau kamu nggak bahagia, Sil?" tanya Arya. Sepertinya dia belum lelah untuk terus membujuk. "Jangan buang masa mudamu untuk terus bersama pria yang nggak kamu cintai. Hidup itu cuma sekali dan kamu harus bahagia!" tegurnya menasehati.
"Memangnya aku terlihat nggak bahagia, ya, Kak? Dan apa aku terlihat kurus serta wajahku nggak cantik lagi?" Sisil menangkup kedua pipinya. Menurutnya, orang terlihat bahagia bisa dilihat dari wajahnya.
Dan memang terbukti, wajah Sisil malah makin cantik setelah menikah. Tubuhnya juga agak berisi.
"Obrolan kita udah selesai, kan? Tandanya aku harus pergi dari sini." Sisil turun dari meja kemudian melangkah menuju pintu.
Namun saat dirinya hendak membuka pintu tersebut, tangan kanannya dicekal oleh Arya. Lelaki itu menahannya.
"Apa kamu juga tau, orang tua Om Rama adalah seorang dukun? Mereka semua baik padamu pasti ada maunya, Sil," ucap Arya. Ide ini tiba-tiba muncul di dalam otaknya, dan mungkin saja berhasil menjerat Sisil.
"Dukun?" Kening Sisil tampak mengernyit. Dia pun menoleh dengan wajah bingung. Istilah dukun tentu tak asing di telinganya, meskipun dia sendiri tak tahu seluk beluknya. "Kakak jangan asal bicara, ya! Mana mungkin!" tambahnya tak percaya.
"Itu benar, Sil, kapan juga aku berbohong padamu?" ucap Arya meyakinkan. "Daddynya Om Rama seorang dukun sakti yang suka menyantet orang. Mungkin sudah ribuan orang bahkan milyaran orang di dunia ini yang mati karena ilmu hitamnya, karena dia sendiri memiliki pasien yang sangat banyak."
"Kakak kata siapa memangnya? Jangan asal fitnah, Kak!" teriak Sisil marah. Rasanya kesal sekali, mendengar keluarga suaminya dijelekkan. Sebab mereka orang yang baik meskipun Mbah Yahya sendiri cukup menyeramkan.
__ADS_1
"Aku nggak fitnah, Sil, dan aku tau sendiri dari Opaku. Karena Opaku menjadi salah satu pasiennya," terang Arya. "Kamu juga pasti belum tau, kan, kalau Om Rama itu sebelumnya seorang duda sebelum menikah denganmu?"
"Aku sudah tau, Kak."
"Apa kamu juga tau, alasan istrinya Om Rama meninggal?"
"Kata Kakakku karena Om Rama impoten."
"Lalu, kamu percaya? Dan apakah pria impoten bisa memperk*osa seorang gadis? Bisa merenggut kesucianmu??"
"Nggak." Sisil menggeleng cepat. Sama sekali dia memang tak percaya hal itu. Baginya Rama normal seperti pria pada umumnya. Itulah sebabnya dia kerap kali menagih untuk terus mengajaknya bercinta.
"Terus, kamu sendiri pernah menanyakan lebih jelasnya kepada Om Rama? Tentang meninggalnya mantan istrinya itu?"
"Belum."
"Habis dari sini, kamu temui dia dan tanyakan dengan jelas penyebab mantan istrinya meninggal. Karena aku yakin ... mantan istrinya itu meninggal karena jadi tumbal."
"Tumbal?!" Bola mata Sisil sontak melebar sempurna. Tubuhnya juga tersentak karena sangking dirinya merasa kaget.
"Ya ...." Arya mengangguk cepat. "Setahuku ... seorang dukun itu demi mempertahankan ilmunya harus dengan mengorbankan nyawa seseorang. Jadi aku sangat yakin ... jika mantan istrinya Om Rama dijadikan tumbal dan mungkin selanjutnya, kamu yang akan menjadi tumbal."
Degh!
Sisil kembali terbelalak, kali ini jantungnya ikut berdebar kencang dan mendadak, ada perasaan takut yang memenuhi isi otaknya.
"Jadi maksud Kakak, cepat atau lambat aku juga akan mati dan dijadikan tumbal?"
"Iya, itu pasti," jawab Arya dengan sungguh-sungguh dan anggukan kepala.
__ADS_1
...Jangan percaya, Sil, mana mungkin Daddy mertuamu setega itu padamu 🤣😂...