Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
186. Sisil gatel banget


__ADS_3

"Sebenarnya saya dan Pak Gugun—"


"Maaf! Maaf! Aku baru datang!" sela Gugun yang tiba-tiba datang menghampiri dengan napas yang terengah-engah. Wajahnya tampak begitu berkeringat, tapi seperti sudah mandi.


Atensi mereka semua yang di sana langsung mengarah kepada Gugun, begitu pun dengan Tuti. Hanya saja perempuan itu langsung memalingkan wajahnya.


"Kakak kok lama datangnya? Kenapa?" tanya Sisil.


"Mobil Kakak mogok dijalan, pas pulang dari apartemen Nona Tuti," jawab Gugun dengan jujur, lalu menarik kursi untuk dirinya sendiri dan duduk di samping Tuti.


"Ooohh ... jadi tadinya mau bareng sama Mbak Tuti, ya, berangkatnya?" Sisil langsung berdiri, kemudian menuangkan segelas air untuk Gugun. "Minum dulu, Kak, pasti Kakak capek."


"Iya. Terima kasih, Sil." Gugun mengambilnya, lalu menenggak segelas air minum itu sampai tandas.


"Mogoknya di daerah mana memang, Kak?" tanya Rama. "Biar nanti aku telepon bengkel langgananku."


"Pas lampu merah di dekat apartemen Nona Tuti, Ram. Tapi Kakak udah telepon bengkel langganan Kakak kok, katanya sih mau diambil setengah jam lagi. Mungkin udah."


"Oh gitu. Ya sudah ... ayok sekarang kita makan. Semuanya nungguin Kakak dari tadi."


"Iya." Gugun mengangguk, lalu menoleh ke arah Tuti. Tapi perempuan itu seolah-olah tak melihatnya, hanya fokus pada makannya yang baru saja dimulai. 'Aku senang bisa bertemu lagi dengan Nona. Dan setelah buka puasa ini ... aku harap kita bisa bicara, aku akan menjelaskan semuanya,' batin Gugun.


Bisa dibilang, memang baru hari ini dia dapat bertemu lagi dengan Tuti. Setelah sebelumnya perempuan itu meminta putus.


Bukan Gugun tak mau datang untuk menemui, tapi Tutinya sendiri yang susah ditemui.


Di kantor Rama, Gugun sudah tak diizinkan masuk. Begitu pun di apartemen Tuti.


Dia begitu sulit untuk bisa bertemu, bahkan meskipun seharian menunggu diluar kantor Rama atau diluar apartemen Tuti—Gugun tetap saja tak dapat menemukannya. Perempuan itu handal sekali bersembunyi.


"Oh ya, Ram. Kakak senang banget pas denger kamu keluar dari rumah sakit. Semoga kamu selalu sehat dan pelakunya cepat tertangkap, ya!" ucap Gugun sambil menatap Rama.


"Amin, Kak." Rama mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, aku juga akan mendoakan Kakak supaya berjodoh dengan Tuti. Aku ingin menyaksikan Kakak menikah."


"Uhuk! Uhuk!" Tiba-tiba Tuti tersendak, Gugun yang melihatnya buru-buru menuangkan air minum dan memberikan untuknya. Tapi perempuan itu langsung mendorongnya pelan, lalu menuangkan air sendiri dan meminumnya sendiri.


'Lho ... kok?' Sisil yang melihatnya tentu heran, begitu pun dengan Rama, Yenny dan Evan. 'Kenapa Mbak Tuti nggak mau dikasih air sama Kakak? Apa mungkin mereka memang sedang berantem, ya?' batin Sisil.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya, Nona, biar enggak tersendak," tegur Gugun dengan lembut, lalu mengelus punggung tangan kanan Tuti. Tapi lagi-lagi, perempuan itu menepisnya dan sekarang menggeser tangannya untuk tak lagi berada di atas meja.


'Sok baik! Jijik aku!' batin Tuti sebal.


"Pak Rama ... boleh nggak, saya pamit pulang dulu? Soalnya saya masih banyak pekerjaan yang dibawa ke apartemen," pinta Tuti seraya mengusap bibirnya dengan tissue.


Rama mengangguk. "Boleh, Tut, silahkan."


"Padahal kita baru selesai makan, Tut, kok udah pulang aja kamu?" Mbah Yahya terlihat mendengkus. Tapi mulutnya masih terisi penuh oleh makanan.


"Maaf, Pak. Saya banyak kerjaan. Saya nggak bohong kok." Tuti langsung berdiri, lalu menatap kepada Rama dan Sisil. "Saya pamit ya, Pak Rama, Nona Sisil. Terima kasih juga buat Pak Yahya dan Bu Yenny, sudah mengundang saya untuk buka bersama."


"Iya, hati-hati dijalan, Mbak. Mbak pulangnya bareng sama Kak ...." Baru saja Sisil mau mengusulkan kalau pulangnya bersama Gugun saja. Tapi Gugun sudah keburu berdiri dari duduknya, padahal makanannya belum sepenuhnya habis.


"Kakak juga mau langsung pulang deh, Sil, Ram," ucapnya pamit, lalu menatap juga kepada Mbah Yahya, Yenny, Rima dan Panji. "Nanti kapan-kapan aku akan mampir ke sini lagi."


"Kakak pakai mobilku saja pulangnya, bareng juga sama Tuti, kan?" Rama menunjuk mobilnya yang berada di halaman. "Kuncinya ada di dalam."


"Enggak usah, Ram. Kakak mau naik taksi saja bareng Nona Tuti. Assalamualaikum," tolak Gugun yang langsung buru-buru berlari. Sebab Tuti sudah lebih dulu melangkah menuju gerbang. Dia tak mau kalau perempuan itu kembali lolos darinya.


"Walaikum salam," jawab mereka semua. Kening Rama dan Sisil pun sama-sama mengkerut.


'Ngapain sih dia ikut masuk segala? Oohhh ... mau ngajak aku ribut lagi kayaknya,' batin Tuti sambil mengepalkan tangannya.


Bisa saja dia langsung mengusir Gugun, atau mendorongnya untuk pergi. Hanya saja dia tak mau melakukannya, sebab masih ada di rumah Mbah Yahya. Dia tak mau membuat keributan, apalagi tentang masalah pribadinya.


"Bapak ini satu tujuan dengan Nona?" Sopir taksi memutar kepalanya ke arah Tuti, meminta jawaban padanya.


"Jalan saja langsung, Pak," titah Tuti datar lalu memalingkan wajah.


"Oke." Sopir itu mengangguk, lalu menarik gas mobilnya dan berlalu pergi dari sana.


Sisil mendekat ke arah Rama, lalu bergelayut manja sembari berbisik, "Apa cuma perasaan aku saja, ya, A ... kalau hubungan mereka terlihat nggak baik-baik saja? Pasti mereka lagi berantem, kan?"


"Namanya hubungan ... memang biasa begitu, Dek." Rama berpikir positif.


"Tapi kira-kira apa yang buat mereka berantem, A? Apa mungkin Mbak Tuti cemburu sama Kakak? Tapi aku yakin sih ... Kakak pasti orang yang setia."

__ADS_1


"Enggak tau tuh, Dek. Nanti coba kamu tanya sama Kak Gugun."


"Eeemm ... kalau gitu, kita pamit ke kamar aja, A."


"Kamu mau telepon Kak Gugun sekarang?" tanya Rama. "Nanti saja, Dek, mereka pasti masih ada dijalan. Jangan diganggu dulu."


"Bukan mau telepon Kakak, tapi mau menagih janjinya Aa. Aa juga harus ikut aku ke kamar."


Janji katanya? Padahal bukan, Rama hanya mengatakan saja dengan setuju bercinta.


"Janji?" Alis mata Rama seketika saling bertaut. "Janji apa, Dek?" tanyanya tak paham.


"Ish!!" Sisil berdecih kesal. "Masa baru tadi siang ngomong sekarang udah lupa aja?"


"Ya apa? Perasaan aku nggak ada janji apa-apa sama kamu deh, Dek." Kening Rama makin mengerut, mengingat hal apa yang mungkin sudah dia lupakan.


"Yang satu ronde itu lho!" Mata Sisil sudah melotot, kesal kepada Rama yang tak peka. "Aa mah gitu ah ... ngeselin!" tambahnya sambil mencebik bibir.


"Oh iya, maafin aku, Dek. Aku lupa," ucap Rama kemudian terkekeh.


"Dad ... Mom, Mbak ... Kak." Rama memanggil beberapa orang yang lebih tua darinya. "Aku sama Sisil pamit ke kamar dulu, ya? Boleh, kan? Eeemmm itu, aku sama Sisil mau sholat bareng." Rama langsung memutar ide, saat melihat tatapan tak bersahabat yang dilakukan oleh Daddynya saat baru saja dirinya mengatakan ingin pamit ke kamar.


Tapi apa yang dia katakan bukan cuma alasan saja, justru memang benar ada niat untuk sholat magrib terlebih dahulu sebelum memadu kasih.


Waktu Magrib juga sangat singkat, jadi dia tak mungkin membiarkannya terlewat begitu saja.


"Oh ... ya sudah. Nggak apa-apa, boleh." Mbah Yahya mengangguk dan tersenyum.


Permintaan Rama adalah sebuah kewajiban, jadi dia tidak bisa melarangnya. Meskipun sejujurnya dia juga sedikit paham, pasti ada hal lain yang akan mereka lakukan selain sholat.


Itu semua terbukti dari wajah Sisil yang sudah memerah macam udang rebus. Mbah Yahya dapat mengetahuinya.


Sisil langsung berdiri, lalu menarik Rama hingga membuatnya ikut bangkit dari duduk. Dia tentu senang sekali saat mendengar Mbah Yahya mengizinkannya.


"Terima kasih, Dad, dan Mommy. Terima kasih juga untuk acara buka puasa malam ini. Mbak ... Kak, Raina, Raisa, aku sama Aa duluan ke kamar dulu." Sisil tersenyum dengan wajah yang sudah merona, lalu menatap ke arah Rama. "Ayok, A!" ajaknya.


"Ayok!" sahut Rama. Dia baru saja melangkah, tapi sudah keburu ditarik oleh Sisil dan membawanya untuk berlari cepat. Hingga mereka seperti kilat, sebab secepat itu menghilang masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Si Sisil gatel banget kayaknya, Mom," cibir Mbah Yahya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah menantunya.


...Tega amat, Mbah, menantu sendiri dibilang gatel 🤣🤣...


__ADS_2