Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
51. Dasar bencong si*lan!


__ADS_3

Dan setelah itu Tuti turun dari mobil tanpa pamit, dia berlari terbirit-birit seperti orang dikejar-kejar anjing. Akan tetapi entah mau ke mana.


Gugun sontak terbelalak, yang terjadi barusan sangatlah cepat menurutnya. Antara sakit, kaget dan heran bercampur menjadi satu. Aneh saja, bisa-bisanya Tuti melakukan hal itu tanpa sebab.


Ingin rasanya dia berlari mengejar Tuti dan memberikannya pelajaran atas apa yang dilakukannya. Akan tetapi Gugun tidak bisa. Itu karena mobilnya tak mungkin ditinggal.


Pada akhirnya Gugun hanya bisa mengumpat dengan emosi yang mendidih.


"Dasar bencong sialan! Bisa-bisanya dia menonjokku tanpa sebab begini!" berangnya sambil mengelus pipi. Padahal dia baru sembuh kemarin bekas tamparan Mbah Yahya, tapi sekarang gusinya justru berdenyut lagi. "Awas saja kau, ya! Aku akan memberikanmu perhitungan kalau kita ketemu lagi!" ancamnya.


*


*


"Lho, Sil, ngapain kamu ada di kamar Kakak?" Gugun yang baru saja masuk ke dalam kamarnya tampak terkejut. Sebab dia melihat adiknya tengah berbaring sambil nonton drakor pada ponselnya.


Gadis itu pun menoleh, lalu memperhatikan wajah Gugun yang lebam. Perlahan dia menarik tubuhnya untuk duduk, lalu mematikan film yang dia putar.


"Pipi Kakak kenapa? Kakak habis berantem?"


"Tadi Kakak ketemu bencong, Sil. Terus dia tiba-tiba nonjok Kakak," jawab Gugun. Wajahnya itu masih tampak bete mengingat apa yang telah terjadi. Perlahan dia duduk di samping adiknya, lalu melepaskan jas.


"Ketemu bencong di mana? Lampu merah?"


"Enggak." Gugun menggeleng. "Jadi tuh pas dijalan lagi macet-macetnya, dia tiba-tiba masuk ke dalam mobil Kakak. Katanya mau numpang bersembunyi. Eh tau-tau dia nonjok pipi kiri Kakak sambil bilang 'dasar mesum!'." Gugun memperagakan intonasi nada bicara Tuti.


"Terus?"


"Dia langsung kabur, keluar dari mobil Kakak."


"Kenapa dia bilang Kakak mesum? Memangnya Kakak berniat mau mencium dia?"


Gugun menggeleng cepat. "Nggaklah, Sil," bantahnya. "Kakak masih normal kali, meskipun jomblo juga nggak suka sesama jenis."


"Oh. Tapi kenapa nggak Kakak kejar dia? Harusnya kejar dan tonjok balik. Bencong 'kan laki-laki. Jadi nggak masalah kalau saling memukul, kan?"

__ADS_1


"Posisinya Kakak ada di mobil, nggak mungkin juga Kakak ninggalin mobil Kakak sedangkan ada di tengah-tengah kemacetan. Bisa-bisa Kakak ditilang polisi."


"Oh gitu. Ya sudah, maafin aja. Aku akan ambilkan Kakak es batu untuk kompres, ya?" Sisil berdiri lalu mengantongi ponselnya di dalam celana.


"Nanti saja kompresnya. Kakak mau mandi dan sholat dulu. Kamu balik saja ke kamar."


"Aku takut balik ke kamar, Kak."


"Memang kenapa?"


"Ada buaya, aku takut."


Gugun sontak terbelalak. "Buaya?! Di mananya?" Kedua kakinya langsung naik ke atas kasur, dia juga menarik tubuh Sisil membawanya naik ke kasur.


"Bukan buaya sungguhan, maksudku roti buaya, Kak," sahut Sisil yang mana membuat Gugun menghela napas dengan lega.


"Ah kamu. Kakak kira buaya beneran." Gugun turun lagi dari kasur, dia juga menarik lengan adiknya untuk sama-sama berdiri.


"Tapi tetap saja aku takut. Orang mirip kayak buaya sungguhan. Lagian ngapain juga, sih, Om Rama dan orang tuanya bawa roti buaya? Mending bolu atau martabak, lebih enak."


"Kalau asli orang Jakarta sih biasanya gitu, melamar sambil bawa roti buaya. Ada juga sampai bawa ondel-ondel. Ah tapi kamu tunggu Kakak selesai mandi saja di ruang tamu. Nanti Kakak potong-potong rotinya biar kita makan bareng."


"Belum dicoba bilang nggak enak. Ngomong-ngomong kamu pulang dari jam berapa? Gimana fittingnya? Lancar?"


"Aku pulang jam 1. Fittingnya lancar, Kak. Gaun sama kebayaku bagus banget. Aku nggak sabar ingin memakainya. Pasti aku cantik kayak putri-putri di negeri dongeng." Sisil memutar-mutar tubuhnya dengan gembira, sambil membayangkan gaun putih panjang yang dia coba tadi.


Gugun yang melihat adiknya senang tentu ikut senang. Tak menyangka juga, Sisil terlihat antusias menunggu pernikahannya yang tinggal menghitung hari. "Sepertinya kamu sudah nggak sabar mau menikah dengan Rama ya, Sil?"


Pergerakan tubuh Sisil seketika terhenti. Bibirnya mengerucut kesal, akan tetapi ada rona kemerahan di wajahnya. "Orang aku nggak sabarnya karena kepengen pakai gaun pengantin, bukan menikah dengannya! Lagian aku juga nggak suka sama Om Rama!" Mendengkus, lantas melangkah keluar dari kamar Gugun dan menutup pintunya dengan rapat. 'Bukan aku kali yang nggak sabar nikah, tapi Om Rama.'


"Kakak yakin nanti kamu juga akan suka Rama, Sil. Kakak lihat dia memang pria baik. Jangan pikirkan masalah umur, pria itu memang harus lebih tua dari istrinya, supaya lebih dewasa dan mampu membimbing." Gugun bergumam sendiri. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


***


Keesokan harinya di rumah Mbah Yahya.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana, Ram?" tanya Yenny yang baru saja berlari menghampiri Rama. Anaknya itu hendak turun dari anak tangga.


Dia memakai setelan jas berwarna merah maroon. Terlihat rapih dan begitu tampan.


"Mau ke kantor, Mom," jawab Rama kemudian melanjutkan langkahnya. Yenny pun menyusul.


"Kamu jangan kerja hari ini, Ram." Yenny mencekal lengan Rama, demi menghentikan langkah kakinya yang terus berjalan.


"Kenapa memangnya?" tanya Rama seraya menoleh. "Besok 'kan aku mau menikah, Mom. Dan rencananya aku ambil cuti seminggu, jadi sekarang aku mau menyelesaikan pekerjaanku untuk seminggu ke depan."


"Mangkanya itu besok kamu menikah, jadi kamu nggak boleh bekerja. Kamu dipingit."


"Apaan dipingit?" Kening Rama mengernyit. Dia heran sebab saat menikah yang pertama Mommy atau Daddynya tak pernah meminta hal semacam itu.


"Nggak boleh keluar rumah, kan besok mau menikah. Kata orang dulu begitu, pamali," jelas Yenny.


"Itu buat mempelai wanita, Mom." Mbah Yahya yang baru saja datang sambil menjilat es krim cone ditangannya ikut menimpali. "Kalau prianya mah bebas."


"Ish sama saja, kan Rama jadi pengantinnya," balas Yenny yang kekeh pada pendiriannya. "Mommy nggak mau ah, kejadian dulu terulang gara-gara Rama nggak ikut dipingit."


"Kejadian apa?" tanya Rama.


"Yang Tari meninggal, Mommy takut."


"Tari 'kan meninggal karena serangan jantung, bukan karena aku nggak dipingit, Mom," jawab Rama. "Dia terkejut karena tau aku Impoten."


"Apa pun itu intinya Mommy nggak mau kamu keluar rumah hari ini, Ram," pinta Yenny memohon. Dia sampai mengempit lengan Rama pada ketiaknya yang basah. "Si Sisil juga sudah Mommy telepon tadi pagi, Mommy minta dia untuk nggak keluar rumah dan dia nurut. Masa kamu yang jadi anak Mommy nggak nurut?" Yenny mengerucutkan bibirnya dengan wajah cemberut.


"Mommy punya nomor Sisil dari mana? Aku kok nggak punya?"


"Mommy minta sama Gugun," jawab Yenny. "Udah sana kamu naik lagi ke kamar, olahraga saja, Ram, angkat barbel atau mukul samsak. Biar besok tubuhmu makin seger dan berotot." Yenny meraba perut Rama yang terasa ada beberapa roti sobek di dalam sana. "Besok malamnya 'kan kamu mau wikwik sama si Sisil, malam pertama. Pasti nanti dia ketagihan karena lihat badanmu bagus, Ram." Masih berusaha untuk membujuk.


...Sambil nunggu bab selanjutnya, tolong kasih ulasan dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 Dong, Guys. Biar rating novel ini bagus dan bisa masuk rekomendasi 😥...


...

__ADS_1



klik aja yang panah, lalu komentar juga 🙏 Ditunggu lho, ya!...


__ADS_2