Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
147. Jangan genit sama pria lain


__ADS_3

"Ya nggak besok juga kali, Mas," jawab Tuti sambil terkekeh.


"Lho kenapa? Bukankah lebih cepat itu lebih baik?"


"Iya. Tapi aku mau kita saling mengenal satu sama lain dulu. Kalau merasa cocok dan sudah mantap ... baru kita kejenjang berikutnya. Aku sendiri memang sudah ada niatan ingin mempunyai pasangan hidup, Mas. Tapi belum ada yang cocok, bahkan belum ada juga yang mengajakku menikah," jelasnya yang kembali terkekeh.


"Berarti aku orang pertama yang mengajak Nona menikah, ya?"


"Iya."


"Lagi-lagi aku orang yang beruntung." Gugun tersenyum, lalu mengelus puncak kerudung pashmina yang Tuti kenakan. "Nona harus berjanji padaku, ya, untuk setia sampai kita menikah. Jangan genit sama pria lain, apalagi sama Hersa."


"Iya, tapi Mas juga dong."


"Kalau itu mah pasti," jawab Gugun lalu menoel hidung mancung Tuti dengan gemas.


"Ya sudah, ayok kita pulang, Mas. Lihat jam nih. Udah setengah tujuh." Tuti memperlihatkan jam tangannya ke arah Gugun. "Sebentar lagi waktu Magribnya mau habis."


"Kita cari masjid dekat sini saja, ya, biar nggak ketinggalan." Gugun langsung menyalakan mesin mobilnya, kemudian mulai mengemudikannya.


"Iya, Mas." Tuti mengangguk.


***


Setelah sampai di kediamannya Mbah Yahya, Rama dan Sisil pun turun secara bersama-sama, lalu masuk ke dalam rumah yang pintunya kebetulan tidak ditutup.


"Assalamualaikum," ucap Rama dan langsung menarik sudut bibirnya untuk tersenyum di depan Yenny yang menyambut kedatangannya. Meskipun terlihat terpaksa, tapi dia tidak mau memperlihatkan rasa kecewanya itu di depan orang tuanya.


"Walaikum salam. Alhamdulillah, kalian sudah pulang." Orang pertama yang disambut Yenny adalah Sisil, dia memeluknya lalu mencium keningnya berulang kali.


Namun entah mengapa, tiba-tiba saja wanita tua itu menangis. Air matanya bahkan jatuh pada pipi Sisil.


"Lho, kok Mommy nangis? Ada apa?" tanya Sisil yang cepat-cepat menghapus air mata sang mertua. Tapi mendadak, perasaannya menjadi tidak enak. Dia takut jika ini ada hubungannya dengan Rama. 'Apa jangan-jangan Mommy tau aku dan Aa berantem? Tapi ... siapa yang memberitahunya kira-kira?' batinnya bingung.


"Mommy bahagia sekali ...." Suara Yenny begitu serak, hampir tenggelam karena tangisnya. Perlahan tangannya itu menyentuh pipi Rama, kemudian menciumnya dan tersenyum. "Alhamdulillah, kamu sudah benar-benar normal, Ram. Bahkan sudah memberikan Mommy dan Daddy cucu," tambahnya kemudian menatap ke arah Sisil dan lagi-lagi dia mencium keningnya. "Selain itu, Mommy juga sangat berterima kasih sama kamu, Nak Sisil, karena tanpamu ... Ini semua nggak akan terjadi. Rama sangat beruntung bertemu denganmu."


"Sama-sama, Mom," jawab Sisil sambil membalas pelukan. Bola matanya tampak berkaca-kaca, merasa ikut terharu dengan apa yang diucapkan mertuanya. "Aku juga ingin berterima kasih sama Mommy dan Daddy, karena kalian telah menerimaku dengan baik sebagai menantu."

__ADS_1


"Nggak perlu berterima kasih, Nak. Mertua memang harusnya begitu sama menantu. Karena kamu 'kan sudah menjadi bagian dari keluarga kita," sahut Yenny.


"Ada apa ini? Kok pada nangis?" tanya Mbah Yahya yang baru saja datang dengan memakan paha ayam goreng di tangannya. Dia memerhatikan Yenny dan Sisil yang masih memeluk satu sama lain. "Berasa lagi nonton sinetron India deh. Ada apa sih?"


"Ada apa, ada apa, orang Mommy terharu!" ketus Yenny marah. Lalu mengusap sisa air mata yang tertinggal di pipi. "Kan kita mau punya cucu baru, Dad!"


"Oh. Ya tapi nggak perlu pakai nangis juga lah, lebay amat jadi orang. Harusnya 'kan seneng," sahut Mbah Yahya yang terlihat santai. "Udah ayok makan, Daddy laper nih! Daritadi mau makan musti menunggu Rama dan Sisil dulu."


Mbah Yahya mendengkus, lantas berjalan cepat menuju ruang makan sambil mengigit kembali paha ayamnya.


Dia pulang lebih dulu dari rumah sakit untuk membeli es cendol. Dan setelah mendapatnya, Mbah Yahya pulang ke rumah. Namun saat waktunya berbuka, Yenny justru melarangnya untuk makan. Sebab Yenny sendiri belum makan, sengaja ingin makan bersama Rama dan Sisil.


Tibanya di meja makan, Sisil pun menatap semua lauk pauk di atasnya. Banyak sekali menu di sana, dari mulai ayam, ikan sampai daging sapi yang dibuat rendang. Tapi sama sekali, tak ada yang menggugah seleranya, sebab yang dia inginkan adalah kolak pisang.


"Kok bengong, Nak? Ayok makan," tegur Yenny yang sudah duduk di samping Mbah Yahya. Suaminya itu bahkan sudah nambah dua kali.


"Ayok makan, Dek, perutmu kosong dari siang itu," ucap Rama yang terdengar cuek. Kemudian menyentong nasi untuknya sendiri.


Sisil perlahan menarik kursi di samping Rama, lalu duduk. Tapi dia hanya diam saja dan menatap piring kosong di depannya.


"Nggak ada, Mom." Sisil menggeleng, kemudian mengambil nasi di atas piringnya sedikit dan menaruh ayam goreng bagian paha di atasnya.


"Campur sama sayur bayam, Nak. Biar sehat, kamu musti makan sayur." Yenny berdiri, kemudian menuangkan kuah sayur bayam beserta bayamnya sedikit ke piring Sisil. "Eh, tapi kamu doyan bayam, kan?"


"Doyan kok, Mom." Sisil mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih."


"Sama-sama. Kalau ada yang kurang dan kamu kepengen sesuatu ... bilang saja sama Mommy atau Rama, ya?"


"Iya." Sisil mengangguk, lalu menoleh ke arah Rama yang fokus pada piringnya. Rasanya sedih sekali melihat suaminya yang bersikap seperti itu.


Meskipun sebenarnya tidak mau makan, Sisil nyatanya memaksakan. Dia menyuapi mulutnya dengan nasi dan lauk di atas piringnya.


"Jangan hanya sama Mommy dan Rama. Sama Daddy juga bilang saja apa yang kamu inginkan, Sil, nggak usah sungkan," ucap Mbah Yahya yang membuka suara. Dia menatap menantunya.


"Iya, Dad. Terima kasih," ucap Sisil pelan kemudian mengunyah. 'Pengen kolak pisang sebenarnya aku tuh. Tapi kalau ngomong sama Mommy dan Daddy ... jelas aku nggak enak. Pengen ngomong sama Aa, tapi dianya malah kayak gitu,' batinnya dengan sendu.


***

__ADS_1


Ting, Tong!


Ting, Tong!


Di depan pintu apartemen Gisel, Arya berdiri dan memencet bel. Menunggu sang Kakak untuk membukakan pintu.


Ceklek~


Pintu itu pun dibuka dan keluarlah Gisel dengan wajah cemberut.


"Assalamualaikum, Mbak," ucap Arya lalu memberikan kantong plastik yang dia pegang ke tangan Kakaknya. "Ini, tadi aku mampir beli martabak untuk Mbak."


"Walaikum salam. Terima kasih, Arya. Ayok masuk." Gisel melebarkan pintu untuk adiknya masuk. Dan setelah keduanya masuk bersama, pintu itu dia tutup dengan rapat.


"Wajah Mbak kenapa ditekuk gitu? Kayak lagi kesel?" tanya Arya. Dia baru saja mendudukkan bokongnya di sofa panjang di ruang tengah, lalu menatap sekeliling ruangan apartemen baru Kakaknya itu.


"Mbak sebel sama pacar Mbak, Ar," jawab Gisel kemudian melangkah menuju dapur untuk membuatkan es teh manis. Setelah jadi, dia pun menghampiri adiknya dan menyajikan dua gelas es teh manis itu di atas meja.


Alasan Gisel sebal karena nomor Gugun hampir tak bisa dihubungi dari pagi, dan dia juga lupa untuk merayakan hari jadian mereka.


"Pacar?" Kening Arya tampak mengernyit. Dia merasa heran. "Mbak punya pacar? Sejak kapan?"


"Belum lama," jawab Gisel lalu ikut duduk di sebelah Arya.


"Katanya Mbak suka sama Om Rama. Kok Mbak malah punya pacar?" tanya Arya. Alasan kedatangannya memanglah untuk membahas Rama.


"Kamunya kata siapa, Mbak suka sama Mas Rama?"


"Kata Sisil."


"Sisil??" Gisel menautkan alis matanya. "Sisil siapa?"


"Istrinya Om Rama."


"Lho, kamu mengenal istrinya Mas Rama, Arya?" tanyanya yang tampak terkejut.


^^^Bersambung.....^^^

__ADS_1


__ADS_2