Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
90. Saya bukan orang jahat


__ADS_3

Pusing memikirkan yang tak ada jalan keluar, ditambah kepalanya tiba-tiba terasa berkunang-kunang, Gugun pun akhirnya memutuskan untuk menelepon tukang bersih-bersih. Biar mereka yang membersihkan semua itu. Khawatir, kalau sampai dia kembali tertusuk.


***


Di kantor Rama.


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan pintu disebuah ruangan membuat lamunan Tuti lenyap seketika. Gadis itu langsung terperanjat jadi duduknya, padahal tadi dia sempat memikirkan Gugun.


Tuti rasanya ingin melihat keadaannya, bagaimana reaksi tubuh atau wajahnya yang telah selesai dikirim santet oleh Mbah Yahya kemarin malam.


Perlahan Tuti pun berdiri pada kursi meja kerjanya. Kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.


Ceklek~


"Ada apa?" tanya Tuti pada seorang perempuan yang berdiri di depannya.


Umurnya terlihat tak jauh dengannya. Hanya saja bedanya perempuan itu terlihat begitu feminim dengan rok span pendek sepaha.


Namanya Laura. Dia cantik, putih dan agak berisi. Dia adalah sekertaris pribadinya Rama.


"Ada dua orang polisi mencarimu diluar, Tut. Cepat temui mereka," ucap Laura memberitahu.

__ADS_1


"Polisi?!" Tuti sontak membulatkan matanya dengan lebar, jantungnya pun seketika ikut berdebar kencang.


Namun, ada sebuah tanya tanya besar di otaknya. Akan alasan dua polisi itu datang. Seingatnya, dia tak pernah melakukan tindakan kriminal.


"Heh! Malah bengong kamu, Tut!" tegur Laura. Dia menepuk pundak kiri Tuti dan membuatnya tersentak kaget. "Sudah sana temui."


"Iya." Tuti mengangguk, kemudian melangkah keluar dan menutup pintu ruangannya. Setelah itu melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai dasar.


*


*


Tepat di depan pintu masuk kantor, ada dua polisi yang tengah berdiri bersama salah satu satpam kantor.


"Nah, ini yang namanya Astuti. Nona Astuti, Pak," ujar sang satpam seraya menatap Tuti. Sebelumnya, kedua polisi itu datang dengan mengatakan ingin bertemu Pak Astuti.


Kemudian, dia menjelaskan kalau yang namanya Astuti itu hanya satu orang dan dia adalah perempuan. Jadi tidak mungkin kalau dipanggil dengan sebutan Bapak.


Namun, kedua polisi itu sama sekali tak ada yang mempercayai. Sebab kedatangannya ke sana adalah untuk menangkap Tuti, atas laporan Gugun dan pria itu mengatakan jika Astuti adalah seorang pria.


"Benar, Anda yang bernama Astuti?" Salah satu polisi itu bertanya, sambil memperhatikan Tuti dari ujung kaki hingga kepala.


"Iya, Pak, ada apa, ya? Tapi saya bukan orang jahat," ujar Tuti. Wajahnya tampak ketakutan.

__ADS_1


Memang, kalau berhubungan dengan polisi dia pasti merasa takut.


"Kami mendapat laporan dari Pak Gugun Adiguna. Dia melaporkan Anda atas tuduhan kekerasan. Ini surat penangkapannya." Polisi itu merogoh kantong celana, lalu memberikan selembar amplop putih ke tangan Tuti.


Gadis itu segera mengambil dan langsung membacanya. Sontak dia pun terkejut, sebab disana tertera kalau kekerasan yang Tuti lakukan adalah adegan menonjok dua kali dan menampar satu kali.


Gugun juga mengungkapkan kalau kekerasan yang Tuti lakukan tidak mempunyai alasan.


"Ini laporan nggak bener, Pak!" bantah Tuti dengan gelengan kepala. Mimik wajahnya langsung merah dan emosinya muncul di dalam dada. "Saya sama sekali nggak melakukan kekerasan, Pak! Apa yang saya lakukan adalah bentuk perlawanan!" tegasnya memberitahu.


"Perlawanan apa? Tapi Pak Gugun sudah memberikan bukti hasil rekaman CCTV kalau Bapak itu menonjoknya, memukul dengan paper bag dan bahkan sampai sempat mencekiknya. Selain kekerasan ... Bapak juga bisa kena pasal tindakan mencelakai," jelas polisi. Bukti rekaman yang cukup kuat itu jelas membuatnya tidak mempercayai apa yang Tuti katakan.


"Saya memang melakukan semua itu, tapi saya melakukannya tentu memiliki alasan, Pak, karena Pak Gugun sendiri yang berniat ingin memperkosa saya!" geram Tuti. Emosi sekali dia rasanya. Mungkin kalau ada Gugun di depan mata, pria itu sudah habis dia hajar lagi. 'Dasar pria mesum gila! Nggak berhasil memperkosaku dia justru melaporkanku. Dasar nggak punya otak!' batinnya menggerutu dalam hati.


"Sebaiknya Bapak sekarang ikut—"


"Saya perempuan! Berhenti untuk memanggil saya dengan sebutan Bapak!" sergah Tuti yang menyela ucapan rekan polisi. Dia juga langsung merogoh kantong celananya untuk memperlihatkan KTP, supaya mereka yakin—jika dia benar-benar perempuan. "Bapak bisa cek nomor niknya, kalau masih ragu dengan identitas saya," tantangnya. "Dan harusnya, di sini saya yang melaporkan Pak Gugun ... tapi saya lebih memilih diam. Sayangnya pria mesum gila itu yang nggak tau diri! Berengs*k memang, akan kuhabisi saja dia sekalian!" berangnya dengan api yang membara.


Tuti langsung berlari menuju parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung menancapkan gas.


"Ayok kejar, Pak!" seru polisi kepada temannya. Mereka pun langsung berlari menuju mobilnya, kemudian menyusul mobil Tuti.


"Awas saja kamu Kumis Lele ... akan kuhajar habis-habisan! Rupanya sudah kukirim santet pun kamu masih kurang ajar juga kepadaku, ya!" Tuti menatap tajam jalan raya itu, mobil yang dia kendarai cukup kencang menerobos beberapa kendaraan roda empat.

__ADS_1


...Bakal ada perang selanjutnya nih 😱 tapi keknya jauh lebih 🔥😆...


__ADS_2