Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
174. Ditolak mentah-mentah


__ADS_3

Wajah Evan seketika mengiba, tapi ada ketulusan yang terpancar dari bola matanya. "Saya mencintai Nona, jadi mulai sekarang ... ayok kita pacaran lalu menikah. Saya juga akan berusaha supaya membuat Nona menjadi perempuan yang paling bahagia dimuka bumi ini," tambahnya lalu langsung menggenggam kedua tangan Gisel dengan erat. Diikuti suara jantungnya yang berdebar kencang sejak tadi.


"Enggak! Aku nggak mau!" tolak Gisel mentah-mentah dan langsung menghentakkan tangannya.


Jelas dia menolak cinta Evan, karena pria yang dia cintai hanya Rama seorang.


"Kenapa nggak mau?" Evan masih berusaha. Dia memegang kedua pundak Gisel. "Kalau memang alasannya karena Nona nggak mencintai saya ... Nona bisa mencobanya secara pelan-pelan. Saya akan memahaminya, tapi saya mohon ... Nona harus menerima cinta saya."


"Kalau aku bilang enggak ya, Nggak!" tegas Gisel lalu mendorong dada Evan dengan kasar. "Jangan paksa aku! Dan mulai sekarang ... berhenti untuk menganggu hidupku! Aku membencimu, Evan!" teriaknya, lantas berlari menuju jalan.


Evan pun mengejar, berusaha menahan serta membujuknya kembali untuk menerima cintanya. Tapi perempuan itu malah memberontak dan terus mendorong tubuhnya, hingga Evan mau tidak mau akhirnya membiarkan Gisel pergi meninggalkannya dengan menunggangi mobil taksi.


"Aaarrrgghh!!" Evan mengerang kencang. Antara marah dan kesal, kepada Gisel yang tak mau menerima cintanya. "Apa susahnya, sih, nerima cintaku?! Nona ini sangat menyebalkan sekali!" Berteriak, sembari menendang-nendang beberapa batu dipinggir jalan. Meluapkan semua kekesalan di dalam dadanya.


"Masih untung nggak aku perk*sa! Harusnya Nona itu bersyukur! Bukan malah begini!"


Benar! Evan memang tidak jadi memperkosa Gisel kemarin malam. Semua itu terjadi karena dirinya berusaha mati-matian menahan diri.


Meskipun dalam lubuk hati tersirat keinginan memiliki Gisel seutuhnya, tapi Evan tak mau melakukannya dengan keadaan Gisel yang tak sadarkan diri. Karena dengan begitu, perempuan itu pasti tak akan mengingatkan.


Yang Evan mau, perempuan itu dapat mengingat momen yang terjadi. Karena bisa saja dari itu—rasa cintanya mulai bertumbuh.


Jika bertanya tentang Evan benar-benar cinta atau tidak kepada Gisel, jelas jawabannya adalah 'IYA'


Entah sejak kapan rasa itu ada, tapi Evan sendiri benar-benar tak bisa dan tak rela jika perempuan itu bernama orang lain.


Evan pun lantas melangkah cepat ke dalam mobilnya, lalu duduk dan menghembuskan napasnya dengan berat. "Kalau saja aku bisa mengirim pelet, sudah kupelet Nona sejak dulu!"


"Dan kalau saja cincin Pak Yahya bisa berfungsi ... sudah kuminta dia untuk memelet Nona supaya tergila-gila padaku!"


Evan bisa saja datang ke dukun lain, untuk meminta dukun tersebut mengirimkannya pelet kepada Gisel. Hanya saja, itu sama dengan melanggar kesepakatan yang dibuat bersama Mbah Yahya.


Sebuah pantangan untuk Evan, dan juga membuat ilmu pada cincinnya tak lagi berfungsi.


"Ah nggak! Nggak!" Evan geleng-geleng kepala. "Aku nggak peduli, jika Nona tadi menolakku. Tapi bagiku ... tepat dihari ini aku dan Nona sudah resmi berpacaran."

__ADS_1


"Jangan harap juga Nona bisa terlepas dariku. Karena itu nggak akan terjadi! Kalau pun Nona nggak bisa aku miliki ... Nona juga nggak akan bisa menjadi milik orang lain!" tambahnya dengan tegas, lalu tersenyum menyeringai.


***


Di rumah sakit.


Satu jam kemudian, kini Rama sudah dipindahkan ke kamar rawatnya. Namun dia masih belum sadarkan diri, dikarenakan efek obat biusnya.


Sisil berada di dalam, tengah menunggu Rama sadar. Gugun sendiri sudah pergi bekerja, sedangkan Yenny duduk diluar kamar sembari menunggu suaminya yang mengatakan akan segera datang.


"Selamat pagi, apa ini kamarnya Om Rama?"


Tiba-tiba, seorang laki-laki yang memakai hoodie merah datang menghampiri Yenny yang sedang duduk melamun. Wanita tua itu langsung tersentak, lalu menoleh dan memerhatikan wajahnya.


Terlihat asing, dan laki-laki itu membawa parsel buah beserta sebuket bunga mawar berukuran sedang.


"Iya. Tapi kamu siapa?" tanya Yenny bingung.


"Aku Arya, Bu." Arya langsung mengulurkan tangannya ke arah Yenny, sembari membatin dalam hati. 'Pasti dia ibunya Om Rama. Aku musti hati-hati. Tapi ada bagusnya juga ada mertuanya Sisil, biar dia curiga ... jika aku dan Sisil pernah ada hubungan.'


"Tapi kamu siapanya Rama? Dan apa tujuanmu?"


"Mantan pacarnya Sisil?!" Yenny terlihat terkejut mendengarnya, refleks dia langsung berdiri dengan kedua mata yang sedikit membola.


"Iya."


"Terus mau apa? Bukannya namanya mantan itu sudah masa lalu, ya?"


"Aku datang karena diminta Sisil untuk menjenguk suaminya, aku juga dengar dari Sisil ... kalau Om Rama kecelakaan. Apa boleh masuk aku menemuinya, Bu?"


"Sebentar! Kamu tunggu di sini dulu!" perintah Yenny dengan gerakan tangan yang seolah menahan Arya untuk tidak masuk ke dalam kamar anaknya, dan buru-buru dia yang masuk ke dalam sana.


Ceklek~


Pintu dibuka, lalu ditutup kembali.

__ADS_1


"Sil ...," panggil Yenny, tapi sontak dia membulatkan mata. Saat melihat menantu dan anaknya itu tengah berciuman.


Posisi Sisil duduk dikursi kecil, sedangkan Rama masih berbaring di atas tempat tidur. Tampaknya itu dilakukan saat Rama baru saja siuman.


"Eh, apa Mommy ganggu kalian?"


"Ma-maaf, Mom ...," cicit Sisil yang buru-buru menegakkan tubuhnya, lalu menundukkan wajahnya dengan kedua pipi yang tampak merona. "Aku nggak tau Mommy akan masuk. Dan alasanku mencium Aa karena—"


"Udah nggak apa-apa," potong Yenny cepat, yang tak mempermasalahkan. Dia paham, kalau baik Sisil atau pun Rama pasti sama-sama saling merindu. Jadi wajar jika mereka saling bersentuhan begitu. "Kamu kapan bangun, Ram?" Yenny mendekat ke arah Rama, lalu menangkup kedua pipinya dengan lembut.


"Baru tadi, Mom. Gara-gara dicium Sisil," jawab Rama sambil tersenyum.


"Ih Aa, mana ada aku cium Aa!" bantah Sisil yang merasa malu. Padahal aslinya memang benar, Rama merasakan sentuhan bibir sehingga membuatnya terbangun. "Kan tadi Aa yang ngajak duluan, Aa bilang kangen sama aku," tambahnya mengkambing hitamkan Rama.


"Iya deh ... aku yang ngajak duluan." Rama mengalah sambil terkekeh. Meskipun dia tak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah sang istri, tapi Rama yakin—jika perempuan itu pasti sedang malu sekarang. Karena sudah dipergoki mertuanya.


"Oh gitu. Bagus deh ... kalau kamu sudah bangun, Ram." Yenny tersenyum, lalu menatap ke arah Sisil dan perlahan memegang tangan kanannya. "Sebentar, ya, Ram ... Mommy ingin bicara dulu sama istrimu."


"Bicara apa, Mom?"


"Sebentar saja kok." Yenny langsung menarik Sisil dengan pelan, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat.


"Kok masuk ke kamar mandi, Mom?" Sisil terlihat heran.


"Mommy nggak mau Rama denger pembicaraan kita, Sil," jawab Yenny pelan, nyaris seperti orang yang sedang berbisik.


"Memangnya mau bicara tentang apa, Mom? Apa rahasia?" tanya Sisil yang jadi penasaran. Dia menatap Yenny dengan kening yang mengerenyit. Tapi wajah wanita tua itu terlihat sedikit masam, entah karena apa pikirnya.


"Apa alasan kamu meminta mantanmu untuk datang menjenguk Rama, Sil?" tanya Yenny penasaran.


"Mantan?!" Sisil mengerutkan keningnya. Jelas dia bingung, karena dia memang tak meminta Arya datang. Apa yang dikatakan Arya memanglah omong kosong.


"Iya. Itu mantanmu yang namanya Arya ada diluar. Katanya kamu yang minta dia untuk datang menjenguk Rama. Tapi buat apa? Apa tujuanmu?"


Sisil langsung menggeleng cepat. Dia juga terlihat terkejut mendengar nama Arya. "Aku nggak meminta Kak Arya untuk datang kok, Mom."

__ADS_1


"Jangan bohong kamu, Sil!" Yenny kelepasan menyeru, dan dia tampak tak percaya.


...Udah jujur itu, Mom 🙈...


__ADS_2