Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
88. Jangan ngambek dong, Dek.


__ADS_3

Sisil bersedekap dengan wajah bete. Selain kesal karena Fuji, sekarang dia kesal melihat Rama yang ngobrol dengan suster wanita itu. Padahal susternya tidak terlalu cantik, tapi tetap saja Sisil cemburu.


Semenjak menikah dengan Rama, sepertinya tensi darahnya selalu cepat naik. Begitu pun dengan emosinya.


Setelah selesai mengobrol, Rama pun membiarkan suster itu masuk ke dalam sana. Kemudian dia kembali menghampiri Sisil.


"Om ngobrolin apa tadi?" tanya Sisil penasaran.


"Aku minta suster tadi untuk menghubungi anaknya Fuji, Dek, barang kali Fuji ngantongin hape," jelas Rama.


"Terus sekarang bagaimana? Udah bisa pulang kita dari sini?" tanya Sisil kesal.


"Tunggu sebentar lagi, Dek, kalau suster itu sudah keluar dari sini," sahut Rama. Lalu menarik Sisil untuk duduk dengannya pada kursi panjang. Namun bukannya duduk, Sisil justru menghentakkan tangannya. Wajahnya tampak memerah dan begitu masam.


"Mau nunggu apalagi sih, Om?!" geram Sisil dengan emosi yang menggebu-gebu. Kesabarannya yang setipis tissue tampaknya sudah habis. "Kan kita sudah antar Fuji ke sini! Terus Om juga sudah meminta suster untuk menghubungi anaknya! Terus apalagi?! Om mau nunggu dia sampai keluar dari rumah sakit?!" murkanya.


"Bukan begitu, Dek, tapi aku ingin memastikan kalau si Fuji ...." Ucapan Rama terhenti saat Sisil baru saja berlari pergi meninggalkannya. "Dek! Mau ke mana kamu?!"


Melihat itu, Rama langsung berlari mengejar, lalu mencekal pergelangan tangan kanan Sisil. "Dek, jangan marah dong. Aku—"


"Aku mau ke villa baru sekarang juga!" sergah Sisil dengan dada yang naik turun, dia juga merasa sesak karena terus menerus emosi melihat sikap Rama yang tidak peka terhadap dirinya. "Kalau Om tetap mau di sini nungguin Fuji ... terserah deh! Aku capek banget, kesel tau, nggak!" Sisil menepis kasar tangan Rama, kemudian berlari menuju mobil taksi online tadi dan masuk ke dalam sana.


Rama pun akhirnya ikut masuk juga, lalu duduk di sebelah Sisil.


Padahal tadi niatnya dia ingin tahu dulu, Fuji benar-benar bawa ponsel atau tidak. Barulah setelah itu dia dan Sisil bisa pergi dengan tenang.


Namun, ternyata kemarahan Sisil sudah tak dapat dikendalikan. Jadi daripada nantinya tambah runyam, lebih baik dia mengalah saja.

__ADS_1


'Semoga Fuji baik-baik saja dan anaknya datang. Tapi kenapa, ya, dia bisa pingsan? Padahal bukannya tadi baik-baik saja?!' batin Rama bingung.


Setelah mobil taksi itu melaju, Rama pun menoleh ke arah Sisil sambil menghela napasnya dengan berat. Gadis itu tengah memalingkan wajahnya ke arah lain. Kedua tangannya bersedekap dan bibirnya tampak begitu monyong menyerupai bebek.


'Semoga saja habis ini nggak bakal ada yang gangguin aku dan Om Rama lagi,' batin Sisil.


Dia pun mengelus-elus dadanya dan mengatur napasnya berulang kali, mencoba untuk menghilangkan rasa kesal di dada dan hatinya.


'Tapi kenapa, ya, aku kok benci banget kalau lihat Om Rama sama perempuan lain? Jangankan kalau dia dipeluk ... ngobrol doang pun aku nggak rela banget. Sakit hati juga kayaknya,' batin Sisil bingung, lalu memijat dahinya yang mendadak merasa pening.


"Kepalamu kenapa, Dek? Sakit?" Rama menggeserkan bokongnya, lalu meraih kening Sisil. Akan tetapi gadis itu menepisnya kasar. "Maafin aku, Dek, kamu jangan marah," pinta Rama lalu tersenyum.


Sisil tak menanggapi sama sekali, sampai 30 menit berlalu dan mobil taksi yang mereka tunggani berhasil sampai tujuan.


Di depan sana ada sebuah villa di dalam gerbang. Ukurannya lebih kecil dari villa milik Fuji. Rama memang sengaja menyewa yang tidak terlalu besar dan hanya berlantai satu. Sebab khawatir kalau Sisil terjatuh lagi dari tangga.


Setelah membayar ongkos taksi, Rama pun turun lalu mendorong koper dan menghampiri Sisil di depan gerbang, yang sudah turun lebih dulu.


Sisil cuek saja. Dia sibuk menadahkan kedua tangannya ke udara, ingin menangkap salju yang turun dari langit.


"Excuse me, what is this with Mr. Ramaditya Ardiansyah?" tanya seorang pria berwajah bule yang baru saja membuka gerbang. Dia berbicara dengan bahasa Inggris, tangannya memegang payung.


"Yes, I am Rama. People who want to rent this villa," jawab Rama. Lalu memperlihatkan KTP-nya dan menunjuk ke arah villa.


Pria bule itu mengangguk, lalu membuka gerbang tersebut seraya berkata, "I am Samuel, the owner of this villa. Please come in Mr. Rama." Dia mengatakan kalau dia adalah pemilik villa tersebut, kemudian mempersilahkan keduanya masuk.


"Thanks." Rama tersenyum, lalu mengajak Sisil masuk ke dalam sana dengan merangkul bahunya.

__ADS_1


Pria bernama Samuel itu membukakan kunci villa, lalu melebarkan pintu. Rama dan Sisil melangkah masuk, lalu menatap sekeliling ruangan itu.


Ternyata saat sudah masuk ke dalam luas juga bangunannya, dan terlihat seperti masih baru. Nuansanya hitam putih dan semua fasilitas lengkap.


Ada kamar tidur yang di dalamnya ada kamar mandi, ruang tamu, dapur dan juga kolam renang di belakang.


"Bagaimana, Dek, suka nggak kamu?" tanya Rama meminta persetujuan. Gadis itu hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. "Jadi kita pindah di sini, ya, sampai pulang ke Indonesia."


Rama lantas melakukan transaksi untuk membayar sewa selama 3 hari. Barulah setelah itu sang pemilik villa memberikan beberapa kunci kepada Rama, berikut dengan kartu nama.


"Have a nice day, Mr. Rama." Samuel mengusap bahu Rama sambil tersenyum, kemudian melangkah pergi dari villa itu.


Rama langsung mendorong kopernya, lalu mengikuti Sisil yang melangkah di depannya menuju kamar utama. Kamar di villa itu memang hanya ada satu, sebab memang villa ini khusus untuk pasangan yang berbulan madu.


"Aku sengaja sewa villa yang hanya lantai satu, Dek, soalnya takut kamu jatuh dari tangga." Rama membuka pintu kamarnya, lalu masuk ke dalam bersama Sisil.


'Lebay!' batin Sisil, lalu meraih koper yang Rama letakkan di pojok lemari. Sisil mengangkat ke atas kasur dan perlahan dia buka.


"Kamu mau ngapain, Dek?" Rama mendudukkan bokongnya di samping koper, lalu mengusap dagu Sisil.


Gadis yang masih merengut itu tak menjawab, dia langsung membuka lemari dan memindahkan pakaian dari koper ke dalam sana.


"Kamu kok masih ngambek aja, sih? Kan aku sudah minta maaf, Dek," ucap Rama lembut. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa bingung untuk merayu Sisil supaya kembali bicara. "Oh ya, kamu laper nggak? Kita keluar beli makan sambil jalan-jalan gimana? Ini 'kan saatnya kamu nikmatin salju."


Sisil menatap Rama sebentar, lalu memalingkan wajahnya. Setelah selesai membereskan pakaian dan memisahkan yang kotor, dia lantas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu.


Rama menghela napas, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya perlahan menatap langit-langit kamar. 'Tadi marah karena kepengen cepet-cepet ke villa baru, kok sekarang giliran sudah sampai masih marah juga? Kadang aku ngerasa aneh sama Sisil ... kayaknya tuh setiap apa pun yang aku lakukan salah mulu. Terus lagi ... bibirnya kok hobi banget monyong, ya, padahal kalau senyum dia keliatan lebih cantik,' batinnya bingung.

__ADS_1


...Mangkanya peka dong jadi laki-laki 🤪...


...Mbahhhhh ... Anakmu nih rese, sembur Mbah biar dia peka 🤣...


__ADS_2