Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
132. Foto siapa ini?


__ADS_3

"Dek, kamu telepon siapa?" tanya Rama seraya menoleh ke arah istrinya.


Dia, Sisil dan Mbah Yahya yang berada di belakang sekarang tengah menunggangi mobil. Menuju tempat pemakaman umum.


"Telepon Kakak, Om. Tapi nomornya nggak aktif," jawab Sisil sambil menatap layar ponselnya.


"Kamu ada keperluan apa memangnya, telepon Kak Gugun?"


"Ngasih tau suaminya Citra meninggal. Dia 'kan harus tau, Om."


Gugun termasuk orang terdekat Citra, sebelum gadis itu menikah dengan Steven. Jadi menurut Sisil, kakaknya itu wajib tahu.


"Apa Daddy nggak salah denger, kamu memanggil suamimu dengan sebutan Om?" tanya Mbah Yahya di belakang. Pria itu memakai celana jeans panjang, kaos pendek dan jaket kulit. Semuanya serba hitam.


"Memangnya ... kenapa, Dad?" Sisil memutar kepalanya dengan ragu, kemudian menatap ke arah sang mertua.


"Lha, kok tanya kenapa? Ya nggak pantes lah. Masa suami sendiri dipanggil Om?" omelnya. Mbah Yahya terlihat marah dan tidak suka, saat mendengar panggilan itu ditelinga.


"Tapi umur Om Rama sama aku 'kan memang jauh, Dad." Sisil beralasan, meskipun memang apa yang dia katakan adalah benar.


"Iya, Daddy tau." Mbah Yahya mengangguk. "Tapi meskipun setua apa pun umur suamimu ... nggak panteslah dipanggil Om. Memangnya dia Om kamu? Kan bukan," tambahnya menggerutu.


"Udah nggak apa-apa, Dad. Mungkin Sisil memang nyaman memanggilku dengan sebutan Om. Jadi nggak masalah." Rama tak memusingkan perkara panggilan. Yang terpenting, Sisil bersikap hangat dan mampu mencintainya. Itu sudah lebih dari cukup menurutnya.


"Bukan masalah nyaman atau nggaknya, kamu ngerti istilah pantes nggak, sih, Ram?" Sekarang, giliran Rama lah yang mendapatkan omelan. Mbah Yahya tampak kesal, sebab anaknya itu membela istrinya, padahal harusnya mendengarkan apa yang dia katakan. Mood dia memang sedang tidak bagus sekarang, lantaran cincinnya hilang. Mbah Yahya merasa pusing tujuh keliling mencarinya. "Contoh si Citra, meskipun dia menikah dengan pria yang lebih tua ... tapi dia memanggil suaminya dengan sebutan Aa, bukan Om. Masa kamu sendiri nggak bisa, Sil?"


"Tapi si Citra juga awalnya ...." Sisil menghentikan ucapannya diujung bibir. Sejujurnya dia ingin mengatakan jika Citra awalnya juga memanggil Steven dengan sebutan Om, sama seperti dirinya yang memanggil Rama. Tapi, Sisil tak ada keberanian mengatakan hal itu kepada Mbah Yahya. Wajah pria tua itu terlihat sangar dan menakutkan. "Aku mulai sekarang akan memanggil Om Rama dengan sebutan Aa Rama. Aku janji, Dad."


Mbah Yahya langsung mengangguk sambil menghela napas. Sudut bibirnya pun terangkat mengukir senyuman tipis di wajahnya. "Bagus, itu baru menantu Daddy."


***


Sepulang dari sekolahan TK, Gisel mengunjungi sebuah gedung apartemen. Itu adalah apartemen di mana dia melihat Rama dan Sisil. Yang berarti juga apartemen Gugun.


Gisel berpikir, kedua orang itu tinggal di sana. Dan niat Gisel adalah ingin tinggal bertetanggaan. Supaya lebih dekat dan tentunya jauh dari pengawasan Evan.


"Selamat siang, Pak," sapa Gisel dengan sopan kepada seorang satpam yang berdiri di depan pintu masuk gedung tersebut.

__ADS_1


"Siang juga. Ada apa ya, Nona?" tanya pria tersebut menatap Gisel.


"Apa ada apartemen kosong di sini, Pak?"


"Ada Nona." Pria berseragam hitam itu mengangguk. "Tapi di sini hanya diperbolehkan menyewa. Tidak boleh dibeli."


"Nggak masalah, aku juga mau menyewanya saja kok. Berapa harga satu bulannya, Pak?"


"Tergantung tipe, Nona. Ada yang 1 juta sampai 10 juta. Apa Nona ingin melihatnya terlebih dahulu?"


"Boleh." Gisel mengangguk. Dia pun diajak masuk dan melihat-lihat apartemen.


Tidak menunggu waktu yang lama untuk dirinya berpikir. Dia pun langsung menentukan pilihannya.


"Berhubung aku tinggal sendiri dan sedang mengirit ... aku ambil yang 1,5 juta saja, Pak. Yang ini." Gisel menunjuk apartemen yang baru saja ditutup pintunya. Telah selesai dia lihat.


Tidak terlalu luas tapi nyaman, memiliki satu kamar tidur yang di dalamnya ada kamar mandi. Satu dapur serta ruang tengah. Berada di lantai 2 nomor 13.


"Mari kita ke lantai dasar lagi. Nona harus mengisi formulirnya terlebih dahulu," ajak satpam itu sambil mengarahkan tangannya ke arah lorong menuju lift.


Gisel mengangguk, kemudian melangkah bersamanya.


Tiba-tiba, terdengar suara getaran ponsel yang berada dalam genggaman Gisel. Sebuah nomor baru tertera pada layar.


"Sebentar, Pak, aku angkat telepon dulu." Gisel keluar lagi saat baru saja masuk lift. Kemudian mengangkat panggilan itu seraya berkata, "Halo."


"Selamat siang. Apa ini dengan Giselle Erlangga?" tanya seseorang dari seberang sana. Suara pria dan terdengar asing.


"Benar, aku sendiri. Bapak siapa, ya?" tanya Gisel.


"Nama saya Cemet, Nona. Saya dapat nomor Nona dari sopirnya Nona Olla. Katanya ... Nona butuh orang untuk ngangkat barang, betul?"


"Betul. Tapi hanya kamu sendiri? Aku butuhnya dua orang."


"Saya bersama teman saya yang bernama Cimit," jawab pria yang bernama Cemet itu. "Dan kebetulan ... saya sudah ada di depan parkiran apartemen Nona. Nona ada di mana sekarang?"


"Aku akan sampai beberapa menit lagi. Tapi kalian ketemu sama akunya jangan di apartemen, tapi di cafe," jawab Gisel.

__ADS_1


"Di cafe mana, Nona?"


"Di seberang jalan, ada cafe. Kita ketemuan di sana. Ada yang perlu aku ucapkan beberapa hal."


"Baik. Saya dan teman saya menunggu di sana. Sampai jumpa, Nona."


"Iya." Gisel mematikan panggilan, kemudian melangkah mendekat kepada satpam yang masih menunggunya di depan lift. "Pak, mendadak aku ada urusan. Tapi nanti sore atau malam aku akan ke sini lagi untuk mengisi formulir sekalian membawa barang-barangku. Dan ini ...." Gisel merogoh tas jinjingnya untuk mengambil dompet, kemudian membukanya dan mengambil sebuah kartu nama. Setelah itu memberikan kepadanya. "Ini kartu namaku. Supaya Bapak percaya kalau aku akan balik lagi untuk menyewa apartemen."


"Baik, Nona." Satpam itu mengambilnya sambil tersenyum. "Nona hati-hati dijalan. Saya juga sekalian ingin memberitahu penanggungjawab di apartemen ini dulu, kalau ada orang baru yang menyewa."


"Iya." Gisel mengangguk. Kemudian pamit pergi.


*


*


*


Langkah kaki Gisel berhenti di sebuah meja cafe yang berada dipojok, saat dia melihat dua pria berbadan kekar melambaikan tangan kepadanya.


"Nona Gisel, bukan?" tanya salah satu pria itu, yang memakai topi.


"Iya." Gisel mengangguk, lalu memperhatikan wajah kedua pria yang cukup seram di depannya. Kulitnya juga terlihat sama-sama hitam. "Kalian ini Cemet dan Cimit?"


"Betul, Nona," sahut pria yang memakai topi. Kemudian menepuk dadanya. "Saya yang bernama Cemet. Dan ini teman saya ... Cimit." Dia menunjuk kepada temannya yang baru saja berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah Gisel.


"Oke." Gisel mengangguk. "Tapi nggak perlu berjabat tangan segala. Langsung duduk saja," ucapnya yang kemudian menarik kursi kosong di depan mereka, lalu duduk dan membuka tas.


Kedua pria itu langsung duduk lagi dan tersenyum.


"Perhatikan foto ini dengan seksama, jangan sampai salah orang ...." Gisel mengulurkan tangannya di atas meja sambil memberikan selembar foto seorang pria.


"Foto siapa ini, Nona?" tanya Cemet yang mengambil foto tersebut dan memperhatikan wajahnya.


"Simpan dulu fotonya, supaya nggak ada orang yang lihat." Gisel menutup foto tersebut yang sudah berada dalam genggaman Cemet. Kepalanya pun menoleh ke kanan dan kiri, memastikan jika tak ada Evan yang sedang memantaunya. Pria itu akan mengacaukan semua rencananya kalau sampai ketahuan.


"Tapi foto siapa dulu ini? Dan mau apa?" Alis mata Cemet tampak bertaut. Dia terlihat bingung dan tak mengerti.

__ADS_1


"Namanya ...."


...Yah, bersambung deh 🤣...


__ADS_2