
Tak lama setelah panggilan itu berakhir, Tuti pun masuk ke dalam kamar rawat Rama. Namun sebelumnya dia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Assalamualaikum. Ini pesanannya, Pak." Tuti mendekat ke arah ranjang Rama, lalu menaruh apa yang dia bawa ke atas nakas.
"Walaikum salam. Terima kasih, Tut," jawab Rama.
"Sama-sama, Pak." Tuti tersenyum.
"Cepet banget belinya, Tut. Di mana?" tanya Mbah Yahya menatap Tuti.
"Di depan, Pak. Kebetulan ada tukang bubur kacang ijo. Kalau jusnya saya beli di restoran depan," jawab Tuti. "Kalau begitu ... saya pamit ya, Pak, soalnya mau langsung ke kantor. Dan buat Pak Rama ... semoga Bapak cepat sembuh dan beraktivitas seperti biasanya."
"Amin ...." Rama, Yenny dan Mbah Yahya menyahut bersama. "Hati-hati dijalan, Tut," tambah Rama.
"Mbak Tuti jangan pergi dulu," pinta Sisil yang melangkah menghampiri.
Tuti menoleh dengan dahi yang mengerut. "Kenapa, Nona?"
"Kak Gugun bilang mau ke sini, katanya mau bicara sama Mbak. Jadi Mbak Tuti tunggu dia dulu, ya."
"Kamu ada masalah lagi sama Gugun, Tut?" tanya Mbah Yahya penasaran.
"Enggak kok, Pak." Tuti menggeleng menatap Mbah Yahya, lalu menatap kembali pada Sisil. "Ya sudah, Nona, saya akan menunggunya. Tapi saya pamit ke toilet dulu sebentar, ya?"
"Pakai aja toilet di kamar mandi, Tut," sahut Yenny yang sejak tadi duduk di sofa.
"Ah nggak deh, Bu, terima kasih." Tuti menolak karena tidak enak. Terkesan tidak sopan saja, sebab toilet itu biasa digunakan Rama. "Saya ke toilet yang ada di mushola saja, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu sebentar."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Tuti sudah buru-buru keluar dari sana.
***
Sementara itu diperjalanan, Gugun sudah menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan full. Bergegas supaya cepat sampai rumah sakit.
Semenjak keduanya berpacaran, hampir setiap harinya Gugun mengucapkan selamat pagi dan selamat malam sebelum tidur, ditambah dengan kata 'I Love You' yang tak ketinggalan.
Biasanya, jika chat darinya tidak dibalas saat malam hari, keesokan harinya Tuti pasti akan membalasnya langsung. Sembari memberikan alasan, mengapa dirinya tidak membalas chat dari semalam.
Namun, berbeda dengan hari ini. Semalam sehabis Gugun berhasil memutuskan hubungan dengan Gisel, dia langsung menelepon Tuti.
Bukan ingin memberitahunya, tapi sekedar ingin mengobrol dan mengajaknya berangkat kerja bareng.
Hanya saja malam itu, telepon darinya tidak mendapatkan respon dan berujung nomor tidak aktif. Gugun sempat mengirim chat juga, tapi tidak mendapatkan balasan sampai dengan hari ini. Dan hanya centang satu, yang berarti WA-nya tidak aktif.
Sayangnya, satpam apartemen ditempat Tuti tinggal mengatakan jika perempuan itu sudah berangkat kerja.
Tak ingin menyerah, Gugun pun langsung pergi ke kantornya Rama. Tapi seorang penjaga resepsionis memberitahu jika Tuti belum sampai ke kantor.
Gugun rela menunggu sampai sejam lebih, terapi perempuan itu nyatanya belum sampai juga. Hingga akhirnya dia menyerah dan memilih pergi, sebab dirinya juga musti pergi bekerja.
"Kenapa dengan si Cantik? Apa mungkin hapenya rusak, ya? Biar aku belikan hape baru deh nanti, setelah ketemu," gumam Gugun.
Setelah sampai rumah sakit, Gugun bergegas turun dari mobil dan berlari masuk. Tepat didepan kamar rawat Rama, ada Sisil yang berdiri.
"Mana Nona Tutinya, Sil? Kamu udah ngomong suruh dia tunggu, kan?" tanya Gugun dengan napas yang terengah-engah. Dia juga menatap kaca pintu kamar rawat, yang memperlihatkan Rama di dalam sana tengah berbaring dengan mata tertutup. "Dan itu Rama kok merem? Katanya udah siuman?"
__ADS_1
"Aa tidur, Kak. Habis makan terus minum obat jadi ngantuk."
"Nona Tutinya?"
"Aku udah bilang sih tadi, minta Mbak Tuti nungguin Kakak. Dia bilang iya, tapi dia pamit dulu ke toilet. Dan anehnya ... udah hampir sejam dia nggak balik-balik ke sini, Kak."
"Kok bisa?!" Gugun sontak terbelalak, dia tampak terkejut. "Dia ke toilet mana?"
"Toilet dekat musholla katanya sih, Kak."
Gugun langsung berlari. Tapi melihat itu, Sisil justru ikut berlari menyusulnya. Sebab dia sendiri masih penasaran dengan hubungan di antara Tuti dan Kakaknya.
"Kakak kasih tau aku dulu, apa hubungan Kakak sama Mbak Tuti!" pinta Sisil meraih tangan Gugun, hingga membuat pria itu menghentikan gerakan kakinya.
"Kakak sama dia pacaran, Sil."
Bola mata Sisil sedikit membulat. "Pacaran?! Sejak kapan, Kak?"
"Belum lama, Sil," jawab Gugun kemudian meneruskan untuk berlari. Sisil juga ikut hingga mereka tiba di musholla.
Letak toilet itu berada di samping musholla dan mereka langsung menuju ke sana.
"Coba kamu masuk, Sil. Cek seluruh bilik toilet. Ada Nona Tuti atau nggak didalam. Kakak khawatir dia pingsan!" pinta Gugun dengan cemas, sembari menunjuk toilet wanita.
"Iya, Kak." Sisil mengangguk cepat, buru-buru dia masuk ke dalam sana. Kebetulan toilet memang lagi sepi.
...Apa iya, Tuti pingsan, Guys?🤔...
__ADS_1