Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
59. Apa salahku?


__ADS_3

"Kurang ajar?!" Kening Gugun mengernyit. Dia heran dan tak paham dengan maksud yang gadis itu katakan. "Kurang ajar apanya? Aku 'kan hanya memberikan jas, siapa tahu Nona membutuhkannya."


"Nggak usah sok baik deh, Pak! Aku tahu kok niat Bapak mau apa."


"Lho, niatku 'kan hanya ngasih jas. Aku lihat Nona seperti membutuhkannya. Tapi kalau Nona nggak mau nerima ... ya nggak apa-apa." Gugun menjelaskan supaya tak ada salah paham. Perlahan dia menarik tangannya kembali.


Gadis itu berdecak dengan bibir yang menggeriting. "Alah modus. Udah basi tahu, nggak! Nyesel aku kemarin-kemarin minta tolong! Untung keburu pergi." Perlahan dia pun berdiri, lalu melangkah cepat tapi entah mau kemana.


Gugun hanya diam mematung sambil memandanginya. Dia jadi makin bingung. Sudah dijelaskan tapi masih tetap tak paham. 'Aneh, baru denger aku ada yang ngasih jas dibilang kurang ajar dan modus. Lagian ... kapan juga dia minta tolong padaku?! Perasaan baru hari ini kita bertemu.' Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gugun pun melangkah menuju prasmanan sembari memakai kembali jasnya.


Tanpa dia sadari, ternyata gadis tadi adalah Tuti. Hanya saja, penampilannya yang berbeda sampai membuat Gugun tak mengenalinya.


Tak ada niat untuk merubah penampilan sebenarnya, Tuti hanya menuruti permintaan Rama tadi pagi ketika mengirimkan pesan.


Pria itu menulis jika dia bertanya dimana Tuti berada. Rama tentu ingin gadis itu ada di hari bahagianya. Selain itu, Rama sendirilah yang memberikan apa yang dipakai Tuti dan memintanya datang dengan memakai pakaian serta dandanan layaknya perempuan pada umumnya.


Awalnya Tuti tidak mau, tapi permintaan Rama tidak bisa dia tolak sebab selain baik, Rama juga sudah sangat berjasa.


'Sial banget, kenapa aku harus ketemu pria berkumis lele itu lagi?!'


Di depan cermin wastafel toilet wanita, Tuti menggerutu sambil menatap wajahnya sendiri. Rambutnya yang panjang itu karena dirinya yang memakai wig. Cantik sekali memang kalau dirinya berdandan dan memakai pakaian perempuan.


Namun, ada rasa trauma serta takut pada diri sendiri, mengingat akan masa lalunya.


'Kalau bukan Pak Rama yang suruh, aku nggak akan mau memakai dan berdandan seperti ini. Mana aku nggak bawa baju ganti lagi,' keluhnya.


Setelah beberapa menit di dalam sana dan hatinya dirasa cukup tenang sebab tadi sempat cemas, Tuti pun memutuskan untuk keluar lagi. Kemudian melangkah menuju pelaminan, mencari-cari keberadaan Rama.

__ADS_1


'Semoga aku nggak ketemu pria berkumis lele itu lagi,' batinnya yang terus berdo'a.


"Tuti, itu kamu bukan?!"


Seorang pria seperti memanggilnya. Dan itu membuat langkah Tuti terhenti sebelum sampai. Lantas dia pun berbalik badan, sebab asal suaranya dari belakang.


"Ah Pak Rama." Tuti mengulum senyum. Akhirnya dia dapat bertemu Rama.


Pria tampan itu sudah berganti pakaian, memakai stelan jas berwarna hitam garis-garis dan dasi kupu-kupu.


"Bapak ganteng banget, Pak. Saya sampai pangling," ucap Tuti sambil tersenyum dibarengi kedua pipi yang tampak merona. Perlahan dia mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Rama. "Selamat ya, Pak, akhirnya Bapak bisa menikah lagi. Semoga pernikahan Bapak samawa, langgeng terus sama Nona Sisil sampai tua."


"Amin, terima kasih do'anya, Tut. Kamu juga semoga cepat mendapatkan jodoh. Kamu cantik sekali memakai dress brokat dariku." Rama memerhatikan Tuti dari bawah hingga ke atas. "Padahal aku nggak tahu ukuranmu, tapi bisa pas banget, cantik."


Tanpa mereka sadari, apa yang dilakukannya dilihat oleh Sisil yang baru saja keluar dari ruang rias pengantin.


'Siapa wanita itu? Kok Om Rama kelihatan begitu akrab?' batin Sisil penasaran. Pandangan matanya terjatuh pada kedua tangan yang saling berjabat itu dan entah mengapa, rasanya dia kesal melihatnya. 'Ngapain pakai salaman segala? Emangnya lebaran?'


Rupanya dia sama seperti Gugun, akibat perubahan dari penampilan gadis itu—sama sekali dia tak dapat mengenalinya.


"Masa, sih, Pak?" Tuti perlahan melepaskan tangannya dari Rama, lalu memerhatikan tubuhnya sendiri yang sudah melekat dress brokat di tubuhnya. "Ini hanya dressnya yang cantik, Pak, bukan sayanya. Tapi maaf banget nih, Pak, kayaknya saya musti pulang dulu, mau ganti baju."


"Kenapa ganti baju?"


"Risih aja, apa mungkin karena saya sudah lama nggak pakai baju perempuan kali, ya?" Tuti menyentuh punggungnya sendiri.


"Pakai saja dulu sampai sore, nanti malam baru ganti. Kamu 'kan jarang pakai baju perempuan, biar nanti orang-orang nggak menilaimu perempuan jadi-jadian," saran Rama.

__ADS_1


"Bener juga sih, Pak, aku juga kadang kesal kalau ada orang yang memanggilku dengan sebutan Mas." Tuti memperhatikan wajah Rama yang tampak berkeringat. Segera dia mengambil tissue di dalam tas jinjingnya, lalu mengulurkan tangan. "Itu keringat Bapak, usap dulu."


Rama mengambil benda itu, lalu perlahan mengusap wajahnya. Sisil yang masih melihat tambah kesal saja, bahkan tanpa sadar kedua tangannya mengepal kuat.


'Tadi Mommy yang ngasih tissue, sekarang cewek itu. Kenapa sih, orang keringetan kok mereka yang pada ribet? Orang mah biarkan saja kenapa, sih?' batin Sisil.


"Ya tapi terserah kamu juga, sih, kalau nggak nyaman ya nggak masalah," ujar Rama tak memaksa. "Asal kamu tetap ada di pesta, takutnya aku butuh sesuatu, Tut."


"Iya." Tuti mengangguk. "Ya sudah, Pak, saya ingin ke tempat es buah dulu deh, baru nanti pulang terus balik lagi. Tadi belum sempat cuci mulut soalnya." Tuti tersenyum lalu menunjuk apa yang dia maksud.


Rama hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Perlahan kaki Tuti melangkah pergi, menjauh dari Rama.


"Wah, kamu cantik sekali, Dek." Bola mata Rama tampak berbinar kala menoleh tak sengaja dan melihat kehadiran Sisil yang baru saja melangkah bersama wanita dari tim WO tadi. Mereka datang menghampirinya.


Gadis itu memakai gaun putih panjang. Ada mahkota di atas kepala dan juga memegang buket bunga mawar putih di tangannya. Akan tetapi, wajah cantiknya itu terlihat masam, juga bibirnya agak manyun.


"Kamu kenapa, Dek? Kok kayak kesel gitu?"


Bukannya menjawab, Sisil justru memalingkan wajahnya dengan keki.


"Ayok ke pelaminan, Pak, kalian akan foto dulu di sana," ajak wanita WO.


Rama mengangguk lalu mengenggam tangan Sisil. Sayangnya, gadis itu langsung menepisnya dengan kasar. Kemudian dia meraih gaunnya, lantas menariknya ke atas dan menghentakkan sepatu high heelsnya. Suara benturannya itu terdengar jelas di telinga Rama, seperti sengaja dilakukan Sisil.


'Kenapa dengan Sisil? Kok seperti marah sama aku? Tapi ... apa salahku?' batin Rama bingung.


...Cembukur kayaknya dia, Om đŸ¤£...

__ADS_1


__ADS_2