
Mungkin sudah ada setengah jam Fuji duduk menunggu di ruang tamu, sampai minuman berkadar alkohol ditangannya tak terasa sudah habis tak tersisa.
Padahal awalnya, selain datang membawa makanan, dia juga ingin curhat mengenai pekerjaannya kepada Rama. Selama tinggal di Korea dia tak punya teman curhat yang menurutnya bijak dan mampu memecahkan solusinya. Mungkin, Rama bisa sebab dulunya mereka seringkali bertukar pikiran.
Namun, lantaran Sisil yang tiba-tiba marah, itu menjadikannya penghalang. Sepertinya acara curhatnya akan gagal.
"Kok lama si Rama?! Udah bisa kebuka nggak pintunya?!" Fuji mendongakkan wajahnya ke lantai atas. Entah mengapa dia jadi penasaran dan rasa penasarannya itu membawanya melangkah ke sana, untuk mengecek sendiri.
"Ah! Ah! Ah!"
Degh!
Jantung Fuji serasa berhenti sejenak, begitu pun dengan langkah kakinya yang baru saja tiba di lantai atas.
Jelas dia mendengar suara desahaan perempuan dari dalam kamar utama. Padahal pintunya tertutup rapat, tapi suaranya terdengar begitu nyaring.
Itu sudah terbukti, kalau memang kamar villa itu tak kedap suara.
'Apa itu suara Sisil?!' batin Fuji, rasa penasarannya makin bertambah kala lagi-lagi suara itu terdengar hanya bedanya lebih panjang. Seperti seseorang yang telah mencapai pelepasan.
Telinga kanan Fuji tertempel pada pintu, sekujur tubuhnya terasa meremmang tak karuan dan miliknya tiba-tiba terasa gatal di dalam celana.
"Sangkar dan keju panasmu sangat enak, Dek, aku suka!"
Degh!
Sekarang yang Fuji dengar adalah suara Rama. Begitu parau dibarengi desahaan. Sudah dapat dia tebak, jika kedua insan itu tengah memadu kasih.
Namun, entah mengapa Fuji justru makin dibuat penasaran. Malah dia memberanikan diri untuk menurunkan handle pintu secara perlahan.
'Semoga nggak dikunci, aku mau melihatnya,' batin Fuji.
Ceklek~
Pintu itu ternyata berhasil dia buka, suaranya terdengar pelan sebab desaahan mereka di dalam sana jauh lebih nyaring.
Fuji membuka sedikit pintu itu, mengintip dengan mata kirinya dan sontak—dia terbelalak kala melihat Rama tengah bergoyang dengan aduhai, menusuk Sisil dari belakang di atas kasur.
Gadis itu terlihat meremmas seprei, tubuhnya terguncang begitu pun dengan kasur itu. Bibirnya yang mungil tak henti-hentinya untuk menjerit nikmat, bahkan suaranya lah yang paling nyaring.
Susah payah Fuji menelan savina. Tangan kanannya refleks merogoh celana, lalu memainkan miliknya sendiri. 'Ya ampun, hot banget si Rama. Badannya juga bagus banget, gagah dan berotot. Apalagi perutnya yang kotak-kotak. Aku jadi kepengen berada di posisi Sisil, pasti enak banget.'
Entah ada pikiran apa diotaknya saat ini, tapi melihat itu semua membuat Fuji tergoda dengan tubuh Rama. Sampai-sampai dia tak sadar jika miliknya sudah benar-benar basah.
__ADS_1
'Aku nggak kuat banget, mending aku pulang saja dan menuntaskannya dengan mainanku. Tapi aku harus bisa merasakan apa yang kulihat barusan.' Perlahan Fuji menutup pintunya kembali, kemudian berlari turun dari anak tangga dan pergi keluar dari villa.
***
Jakarta, Indonesia.
"Pak, ini hape Bapak bunyi terus dari tadi," ucap Evan yang baru saja masuk ke dalam ruangan khusus untuk praktek Mbah Yahya. Tapi sebelum itu dia sudah mengetuk pintu dan memastikan jika pasien di dalam sana sudah tidak ada.
"Siapa?" Mbah Yahya mengambil ponselnya di tangan Evan. Memang kalau dia tengah bertugas, benda itu diserahkan kepada sang asistennya.
"Si Tuti," jawab Evan. Mbah Yahya pun segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Tut," ucapnya.
"Bapak masih di rumah praktek apa sudah pulang?" tanya Tuti penasaran.
"Masih di rumah praktek."
"Terus kapan Bapak mulai menyantetnya? Ini sudah mau jam 10 malam lho. Aku juga dengar pas Bapak mau pamit ... Bapak bilang sama Bu Yenny mau pulang ke rumah, jadi Bapak nggak menginap. Otomatis Bapak sebentar lagi pulang, kan?" Tuti terdengar bawel sekali. Jelas memang, sebab Mbah Yahya belum menghubunginya, padahal sebelum itu dia mengatakan jika akan memulai menyantet Gugun malam ini.
"Ya sudah, kamu ke sini sekarang. Aku kirim alamatnya," jawab Mbah Yahya.
"Oke. Tapi pulangnya aku mau bareng Bapak, ya, soalnya aku takut kena begal dan diperkosa, Pak."
"Iya, tapi kamu jangan lupa bawa fotomu."
"Udah nggak usah bawel, kamu mau cepat nyantet Gugun nggak sih?" omel Mbah Yahya yang tampak kesal.
"Mau. Ya sudah, aku otewe sekarang, Pak."
Mbah Yahya mendengkus, lalu mematikan sambungan telepon dan langsung mengirim lokasi rumah praktek.
Setelah berhasil terkirim dan dibaca, tak lama ponselnya kembali berdering. Sebuah panggilan masuk dari Yenny, cepat-cepat Mbah Yahya mengangkatnya.
"Daddy ada di mana? Kok lama?" tanya Yenny. Suaranya terdengar begitu manja dan agak merengek.
"Masih juga jam 10, Mom," jawab Mbah Yahya dengan santai.
"Udah malem. Cepet pulang dong, Dad, Mommy udah pakai baju sundel bolong nih. Pasti Daddy suka."
"Serem amat, Mom. Itu 'kan bajunya Suzanna."
"Maksudnya model sundel bolong, Dad," sahut Yenny sambil terkekeh. "Mommy tunggu setengah jam lagi, ya, pokoknya Daddy harus sampai rumah dan kita langsung bercinta. Mommy udah nggak tahan banget soalnya, udah gatel."
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu, itu pasti pasien nomor urut berikutnya.
"Garuk dulu aja. Ya sudah, ya, Daddy ada pasien nih, Mom."
"Kiss dulu."
"Eemmmuuaahhh!" Mbah Yahya mencium layar ponselnya. Evan yang melihatnya langsung terkekeh. "Udah, ya?"
"I love you-nya mana, Dad?"
"I love you."
"I love you too." Jawaban terakhir dari Yenny memutuskan panggilan itu. Ponselnya langsung diserahkan kembali kepada Evan.
"Nih! Kalau ada yang telepon lagi abaikan saja," perintahnya.
"Baik, Pak." Evan mengangguk. Setelah mengambil benda pipih itu dia lantas keluar. Kemudian seorang pria masuk ke dalam.
"Assalamualaikum, Mbah," ucapnya dengan sopan.
"Walaikum salam. Duduklah." Mbah Yahya menggerakkan dagunya ke arah depan.
Pria berkaos putih itu langsung duduk lesehan di depan Mbah Yahya, kemudian meletakkan selembar kertas dan amplop di dekat kendi.
Mbah Yahya yang duduk bersila dengan beralaskan tikar daun pandan itu perlahan membuka kertas. Isinya adalah nama dan alasan mengapa dia ingin datang berobat.
"Berak mencret selama tiga hari?!" Kening Mbah Yahya terlihat mengernyit, merasa heran dengan masalah yang dituliskan pria bernama Toto itu. Dari wajahnya, seperti seusia Evan.
"Iya, Mbah, saya berak mencret sudah tiga hari. Kenapa, ya, kira-kira?"
"Diare lah," sahut Mbah Yahya dengan cepat. "Tinggal minum obat terus ke dokter 'kan beres, ngapain kamu pergi ke dukun?"
"Masalahnya saya berak ada pakunya, Mbah, jadi saya khawatir kalau itu kiriman santet."
"Naikkan bajumu ke atas, biar aku bisa melihat perutmu," titah Mbah Yahya.
Pria itu pun mengangguk, kemudian menarik ke atas kaosnya dan duduk bergeser mendekat.
"Sekarang diam, jangan menggangguku yang akan mulai praktek," tegur Mbah Yahya.
"Iya." Pria itu mengangguk.
__ADS_1
Mbah Yahya membuka kotak tempat menyan, lalu mengambil satu dan mulai membakarnya di atas prapen. Setelah itu dia lantas berkomat-kamit membaca mantra sambil memejamkan mata. Sesekali dia mengusap perut buncit pria di depannya.
^^^Bersambung....^^^