Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
70. Apa semalam aku dan Om Rama bercinta?


__ADS_3

Sebelumnya....


"Pak! Berhenti, Pak!" Olla berteriak sambil berlari mengejar Evan, yang membawa Gisel masuk ke sebuah mobil hitam. Itu adalah mobil milik Evan.


Pria itu langsung menoleh, setelah memasangkan sabuk pengaman pada Gisel. Gadis itu dia taruh di kursi di samping kemudi. "Ya, Nona?"


"Bapak mau bawa Gisel ke mana? Dan kenapa dia pingsan?" tanya Olla. Karena sibuk dengan perutnya sendiri, dia sampai tak tahu jelas bagaimana keadaan yang terjadi. Yang dia tahu hanyalah saat dimana Evan menggendong Gisel.


"Nona siapanya? Teman?"


"Iya." Olla mengangguk.


"Saya akan mengantarkan kalian pulang, nanti saya akan ceritakan semuanya," ucap Evan. Dia menutup pintu itu lalu berlari memutar untuk duduk di kursi kemudi.


Olla pun bergegas masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang dan tak lama mobil itu pun melaju pergi meninggalkan gedung hotel.


"Bapak bukan orang jahat, kan? Bapak nggak akan menculikku dan Gisel?" tanya Olla dengan perasaan takut. Ponsel yang berada dalam genggamannya itu langsung dia gunakan untuk mengirim pesan kepada suaminya.


"Memangnya kalian bocil? Mau saya culik?" kekeh Evan tanpa menoleh. Dia sibuk menyetir sambil menunggu Mbah Yahya mengirimkan alamat lewat ghaib.


"Jadi bagaimana ceritanya, Pak? Kenapa Gisel bisa pingsan?" tanya Olla penasaran.


"Dia memeluk Pak Rama tanpa malu. Kemudian menyatakan cinta," jelas Evan. Dia tau semua itu sebab memang sempat menyaksikan. "Harusnya, Nona Gisel itu punya etika. Kan Pak Rama itu adalah pengantin di sana. Jadi Pak Yahya yang merasa tak terima menyemburnya."


"Terus alasan dia pingsan?"


"Ya karena disembur."


"Memangnya sesakti itu, sampai disembur saja bisa membuat orang pingsan?!" tanya Olla tak percaya.


"Ya ini buktinya Nona Gisel pingsan. Sudah jelas, kan, kalau semburan Pak Yahya itu memang menakjubkan. Mangkanya jangan berani-berani melakukan hal yang membuatnya emosi. Ini baru semburan, belum santet."

__ADS_1


Olla sontak terbelalak mendengar kata santet. "Santet?! Kok bawa-bawa santet segala? Serem amat, Pak." Dia bergidik ngeri, bulu kuduknya sontak berdiri.


"Ya mangkanya, jangan berani-berani mengganggu anak dukun."


'Jadi Pak Yahya itu seorang dukun?! Serem amat. Apa jangan-jangan nanti istrinya Pak Rama jadi tumbal,' batin Olla lalu menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Dia jadi ikut takut.


*


*


30 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di apartemen Gisel. Ketiganya masuk bersama ke dalam sana dan Evan yang menggendong Gisel perlahan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


'Kapan dia bangun dari pingsannya?! Apa aku musti tunggu sampai pagi?' batin Evan seraya memperhatikan wajah Gisel. Sekilas dia merasa terpesona melihat wajah cantiknya, akan tetapi dia langsung mengusap wajahnya sebab terdengar suara derap langkah.


"Bapak langsung pulang saja, terima kasih sudah mengantar," ucap Olla yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia membawa baskom kecil berisi air dan ada handuk kecil di tangannya. Niatnya ingin membasuh wajah Gisel, sebab dia mencium aroma tidak sedap pada wajah temannya.


"Saya akan pulang setelah dia sadar," jawab Evan. Seperti apa yang diperintahkan Mbah Yahya sebelumnya, yakni mengancam Gisel. Jadi Evan akan mengerjakan tugasnya dengan benar sebelum pulang.


Perlahan dia pun memasukkan tangan kirinya ke dalam baskom. Mulutnya berkomat-kamit dan Olla sontak terbelalak, kala melihat batu akik berwarna merah pada jari manis pria itu mengeluarkan cahaya. Kemudian Evan mengusap wajah Gisel tiga kali dan selang beberapa detik saja gadis itu mengerjapkan matanya.


"Nama saya Evan, saya adalah asisten pribadinya Pak Yahya. Nona pasti kenal sama Pak Yahya, kan?"


"Pak Yahya?" Gisel terdiam beberapa saat, mengingat nama itu.


"Dia Daddynya Pak Rama," ujar Evan memberitahu. "Saya mendapatkan pesan dari Pak Yahya ... kalau saya harus menegur Anda, Nona. Atas semua yang telah Anda lakukan."


"Mas Rama ... calon imamku dia ...." Gisel langsung mengingat semua kejadian itu, dan seketika dia pun menangis tersedu-sedu. Kedua tangannya menutupi wajah. "Tega sekali Mas Rama. Padahal aku sejak dulu selalu menunggunya, untuk bisa menerima cintaku. Tapi kenapa perempuan lain yang dia nikahi? Bukan aku? Apa kurangnya aku?! Hiks ... Hiks."


Evan menghela napas, belum sempat dia mengucapkan kata-kata ancaman tapi gadis itu sudah sibuk menangis. Malah suaranya terdengar begitu menggelegar, hingga membuat telinga Evan sakit.


"Jahat sekali Mas Rama! Olla ... jahat sekali dia padaku. Padahal aku sangat mencintainya, hiks ... hiks!" erang Gisel.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, Sel." Olla cepat-cepat menaruh baskom dan handuk di tangannya ke atas nakas, lalu dia duduk di atas kasur dan langsung memeluk tubuh Gisel.


"Bagaimana aku bisa sabar?! Sudah cukup lama aku bersabar. Aku mencintai Mas Rama melebihi Tari yang mencintainya. Aku juga yakin ... istri barunya nggak akan bisa mencintai Mas Rama sebesar cinta yang aku berikan, La. Hiks! Hiks!" Gisel malah makin terisak, sampai-sampai dia sesenggukan.


"Aku tau. Tapi mungkin Pak Rama itu bukan jodohmu, Sel. Kamu harus berlapang dada," tegur Olla seraya mengusap punggung Gisel dengan lembut.


Evan geleng-geleng kepala, kemudian menatap arlojinya yang menunjukkan pukul 10 malam. "Saya tau, pasti Nona merasa patah hati. Tapi jangan sampai hanya karena ini Anda menjadi duri dalam rumah tangga Pak Rama!" tegur Evan dengan suara tegas dan lantang. "Sekali lagi Nona mencoba untuk mengganggu Pak Rama ... saya pastikan Nona nggak akan bisa bicara!" tambahnya menegaskan.


Setelah itu, Evan melangkah pergi keluar dari kamar dan apartemen. Meninggalkan Gisel yang masih menangis dalam pelukan Olla.


***


Keesokan harinya.


Sisil mengerjapkan-ngerjapkan matanya secara perlahan kala merasakan tubuhnya sakit dan kaku, apalagi pada area dada.


Perlahan pandangan matanya itu turun ke bawah dan sontak—dia terbelalak melihat ada kepala Rama pada belahan dadanya. Pria itu juga tampak tertidur pulas dan Sisil kembali terkejut sebab baru sadar jika bukan hanya tubuhnya saja yang polos, tapi tubuh Rama juga.


"Ya ampun, apa semalam aku dan Om Rama bercinta? Kan aku ...." Ucapan Sisil menggantung diujung bibir, sebab momen percintaan panas mereka terurai dengan jelas dalam ingatannya dan seketika membuat kedua pipi itu tampak merona.


"Ya Allah, aku kesiangan," ucap Rama yang baru saja terbangun dan menatap jam weker di atas nakas. Sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan perlahan tubuhnya itu dia tarik, supaya tak lagi menimpa Sisil. "Eh, Dek, selamat pagi. Rupanya kamu juga baru bangun, ya?" Rama tampak berseri kala pandangan mata mereka bertemu.


Sisil cepat-cepat meraih selimut, lalu menutupi tubuh polosnya sampai leher. "Om kok jahat sih sama aku?" ucapnya dengan sedih. Akan tetapi, masih ada rona kemerahan di wajahnya. Dia bahkan membuang muka ketika melihat perut kotak-kotak milik Rama.


"Jahat?!" Kening Rama tampak mengernyit. Perlahan dia turun dari kasur lalu memungut handuk kimono yang tersungkur di lantai. Kemudian memakainya. "Jahat kenapa? Oh, karena kamu kesiangan, ya? Aku juga kesiangan, Dek. Maaf, ya?"


Menurut Rama, mungkin Sisil sedih karena dia meninggalkan sholat Subuh. Pikirannya positif sekali dia.


"Bukan itu." Sisil menggeleng cepat.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang nggak mau bercinta, kenapa Om malah memaksaku untuk bercinta?!" tanyanya dengan raut wajah kesal.


...Idih, dipaksa katanya, Guys 🤣 Sisil yang ngomong kok aku yang malu, ya? 😆...


__ADS_2