Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
6. Aku mau menikahinya


__ADS_3

Di rumah Mbah Yahya.


"Daddy harus membantuku mencari gadis itu, Dad," pinta Rama yang kini duduk di sofa bersama sang Daddy.


Saat sampai rumah dia langsung menceritakan segala yang telah terjadi, walaupun terlihat jelas jika Mbah Yahya tampak belum percaya 100%. Mengingat kalau dirinya memanglah pria impoten.


Namun, Rama berusaha untuk menyakinkan. Sebab selama ini, Mbah Yahya yang sering bilang kalau dia akan membantunya mencari jodoh, kalau dia sendiri merasa kesulitan.


"Cari untuk apa? Kan dia sudah kamu perkosa. Oh, apa mau nambah kamu?" tebak Mbah Yahya asal.


"Ya mau tanggung jawab lah. Daddy ini ngaco deh," jawab Rama kesal. "Daddy pikir aku pria br*ngsek apa, yang sudah memperk*sa tapi nggak mau tanggung jawab? Kalau sampai dia hamil anakku bagaimana? Otomatis Daddy punya cucu dariku dong."


"Nggak mungkin lah, Ram. Bikin semalam bisa langsung jadi." Mbah Yahya sangat tidak yakin jika Rama dapat sesubur itu.


"Bisa saja, Dad. Kan kita nggak tahu. Pokoknya Daddy harus ikut membantuku. Kan katanya Daddy mau aku mendapatkan jodoh, gimana sih?" Rama mengerucutkan bibirnya.


Mbah Yahya menghela napasnya dengan berat. "Kamu ada foto atau rekaman pas memperkosa dia nggak?" Sebagai seorang dukun, mungkin saja Mbah Yahya mampu menerawang keberadaan gadis itu lewat perantara.


"Nggak." Rama menggeleng. "Tapi aku pernah ketemu dia dua kali kayaknya. Mungkin tiga kali sama semalam."


"Di mana saja?"


"Pertama di jalan, pas dijahatin temannya. Kedua pas di pesta pernikahannya Nissa dan Tian. Yang ketiga semalam."


"Kamu ketemu dia tiga kali kok nggak diajakin kenalan? Harusnya sebelum memperkosa kenalan dulu, terus kalau nggak divideokan. Kan lumayan buat kenang-kenangan."


"Dih, Dad. Mana bisa begitu. Aku memperkosanya saja karena khilaf. Dan awalnya juga nggak ada niat melakukan hal itu. Niatku hanya ingin membantunya. Ditambah setiap kali ketemu aku selalu lupa ingin bertanya namanya."


"Membantu apa memangnya kamu, Ram?"


"Jadi tuh pas aku pulang dari pestanya Nissa mobilku mogok. Tiba-tiba mati dijalan. Terus ... nggak sengaja aku dengar suara gadis yang minta tolong. Kemudian aku ...." Rama mulai menceritakan lagi tentang apa yang dia alami kemarin malam. Dilihat Mbah Yahya mendengarkannya dengan seksama.


Namun, setelah mendengar cerita Rama, Mbah Yahya masih merasa ragu dengan burungnya. Benar atau tidaknya dia mampu berdiri sampai bisa melecehkan seorang perempuan.


"Tapi kenapa pas habis kamu perkosa dia malah meninggalkanmu? Apa mungkin dia memang seorang Jalaang?" Agak aneh memang. Rama yang memperkosa tetapi gadis yang diperkosanya yang justru kabur. Apakah tidak kebalik? Pikir Mbah Yahya.


"Aku yakin dia gadis baik-baik, Dad. Dia juga masih perawan. Aku ingat betapa sempitnya milik dia, Dad."


"Enak?"


Rama mengangguk dan seketika wajahnya merona. Kemudian disusul jantungnya yang berdebar. "Aku mau menikahinya, Dad. Aku mau bertanggung jawab."


Mbah Yahya memperhatikan wajah Rama. Terlihat jelas jika anaknya itu jujur. Dan selama ini, Rama memang tidak pernah berbohong tentang hal apa pun padanya.


"Sebelum kita mencari gadis itu. Sekarang kamu lebih baik mandi, terus kita ke rumah sakit mengecek kondisimu," saran Mbah Yahya. Itu semua demi menjawab rasa keraguan.

__ADS_1


"Kondisi apa? Aku baik-baik saja, Dad."


"Kondisi burungmu, Ram. Kita konsultasi ke Dokter."


"Kok konsultasi? Kenapa nggak cari gadis itu saja langsung?"


"Habis konsultasi kita langsung cari gadis itu. Sembari nanti Daddy memikirkan cara untuk menemukannya. Bingung juga, soalnya nggak ada jejak." Mbah Yahya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku menemukan sepatunya yang tertinggal di mobil. Mungkin saja itu bisa membantu kita."


"Sepatu apa?"


"Sepatu biasa, tapi hanya sebelah. Sebentar ... aku ambil dulu di mobil." Rama berdiri sembari membenarkan jasnya yang terlipat. Kemudian berlari keluar dari rumah untuk mengambil benda itu.


Tak berselang lama, dia pun kembali dan segera memberikannya kepada Mbah Yahya.


"Bagaimana kalau nanti kita temui Om Angga, Dad," usul Rama. Dilihat Mbah Yahya tengah membolak-balikan benda itu.


"Apa hubungannya dengan Angga?"


"Kita tanya sama dia, siapa saja wanita yang menjadi tamu undangannya di sana. Terus kita coba cocokkan kakinya dengan sepatu ini." Menunjuk ke arah sepatu. "Kalau cocok, berarti dia orangnya. Terus aku akan menikahinya."


"Kamu kira kamu hidup dicerita Cinderella?" Mbah Yahya langsung terkekeh mendengar usulan anaknya. "Nggak ada yang seperti itu, Ram. Apalagi ukuran sepatu itu banyak yang sama."


"Tapi yang punya sepatu pasti punya pasangan, Dad."


"Bokong gadis itu ada tanda lahirnya, Dad."


"Masa iya, kita periksa bokong mereka satu-satu? Aneh-aneh saja kamu." Mbah Yahya terkekeh lagi. "Udah, Ram ... kamu nggak usah khawatirkan masalah itu. Biar Daddy saja yang menerawangnya nanti malam. Mumpung malam Jum'at."


"Ah mana bisa Daddy menerawang," ledek Rama.


Orang-orang bilang Mbah Yahya adalah dukun sakti serba bisa. Setiap masalah dia tahu akan solusinya.


Namun, Rama tak pernah percaya akan hal itu. Sebab penyakit impotennya saja tidak bisa dia sembuhkan. Meski berkali-kali dia mendapatkan semburan.


Malah sangking kesalnya Rama jadi meminta sang Daddy untuk berhenti saja menjadi dukun. Ya selain itu adalah perbuatan musyrik, percuma juga rasanya dia mempunyai kesaktian jika tidak bisa mengatasi masalah anaknya sendiri.


"Kan dicoba dulu, siapa tahu kali ini bisa, Ram."


"Ya sudah terserah Daddy. Sekarang aku mau mandi dulu, siapa tahu nanti di rumah sakit bisa ketemu dia." Rama melangkah dengan wajah yang merona, menaiki anak tangga.


Tak sabar rasanya, dia ingin bertemu gadis itu lalu menikahinya. Sudah ada diangan-angan jika nanti Rama akan menggendong bayi.


'Hebat juga, ya, dia, mampu membangunkan burungku. Apa jangan-jangan Bapaknya juga seorang dukun, sampai dia mempunyai kesaktian?' batinnya sambil terkekeh.

__ADS_1


***


Di rumah sakit.


Satu jam lebih Gugun duduk di kursi tunggu seorang diri. Menunggu Sisil yang tengah diperiksa oleh dokter ahli visum dan menunggu hasilnya.


Ceklek~


Pintu ruangan itu dibuka oleh seseorang. Gugun berdiri dan langsung mengangkat wajahnya. Ternyata itu adalah Dokter dan Sisil yang keluar bersama.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Gugun. Dokter wanita itu memberikan selembar kertas padanya. Sedangkan Sisil mendekat dengan wajah sendu dan Gugun langsung memeluk tubuhnya. "Kenapa denganmu, Sil? Pasti semua baik-baik saja."


"Semuanya nggak baik, Kak." Sisil menggeleng cepat. Bola matanya basah dan tak lama berlinang membasahi pipi. "Aku diperkosa, masa depanku sudah lenyap," tambahnya sambil menangis.


Gugun langsung membuka kertas itu dan membacanya. Sontak kedua mata Gugun membulat sempurna. Jantungnya berdebar kencang diiringi rasa sesak di dada.


"Br*ngsek!" makinya dengan penuh emosi. Kertas itu Gugun remass dengan kasar. "Berani-beraninya ada pria yang tega melecehkan adikku! Aku akan memberikannya pelajaran! Dia harus tanggung jawab, kalau nggak, aku akan membunuhnya!"


"Saya sempat memeriksa kalau Nona Sisil mengkonsumsi alkohol dengan kadar tinggi, Pak," jelas Dokter.


"Selain itu, apa ada lagi, Dok?" tanya Gugun dengan dada yang naik turun.


"Yang terdeksi hanya itu, Pak."


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu aku dan adikku permisi. Selamat pagi."


"Sama-sama. Selamat pagi juga."


Gugun melepaskan pelukan itu, kemudian menarik lengan Sisil dan membawanya keluar dari rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil.


Segera Gugun menancapkan gasnya dengan cepat. Mengemudi dengan penuh emosi.


"Kakak, bagaimana sekarang? Apa Kak Arya akan meminta putus, kalau sampai dia tahu aku sudah nggak suci lagi?" tanya Sisil yang masih terisak.


"Sekarang kamu jangan memikirkan tentang Arya dulu. Kakak akan mencari pria itu dulu sampai ketemu dan meminta pertanggungjawaban."


"Pertanggungjawaban gimana? Apa maksudnya dia akan menikahiku?" Sisil menyeka air mata di pipi.


"Iya. Itu harus." Gugun mengangguk cepat.


"Dih, Kak. Aku nggak mau." Sisil menggeleng cepat.


"Dia harus tanggungjawab, Sil. Memangnya kamu mau, kalau sampai kamu hamil? Siapa yang akan malu nanti?" Gugun menoleh ke arah adiknya sebentar. Wajahnya tampak merah karena terselut emosi yang membara. "Bukan hanya kamu, tapi Kakak juga akan malu, Sil!" tegasnya.


"Tapi kalau misalkan dia pria beristri, atau pria tua bangka bagaimana? Aku nggak mau, Kak." Sisil menggeleng cepat.

__ADS_1


...Udah tua emang, Sil 🤭 tapi nggak pakai bangka juga 🤣...


__ADS_2