
"Aku minta maaf, A, aku nggak ada maksud lebih mempercayai Kak Arya dibandingā"
"Apa kamu belum bisa mencintaiku, Dek? Apa kamu belum bisa melupakan Arya?" Rama memotong ucapan Sisil dengan cepat, lalu menepikan mobilnya. Perasaan berkecamuk sekarang dan dia tidak bisa fokus menyetir. Jadi daripada terjadi kecelakaan, lebih baik berhenti saja dulu.
"Aku nggak tau, A," jawab Sisil ragu sambil menurunkan pandangan.
"Kok bisa nggak tau?" Rama tampak bingung dengan jawaban istrinya. "Bilang saja kalau memang kamu belum mencintai dan masih mencintai Arya. Nggak apa-apa kok," tambahnya yang bersikap seolah baik-baik saja. Padahal dilihat dari wajahnya yang sendu, itu semua sudah menggambarkan betapa sakit hatinya Rama.
"Bukan aku belum mencintai Aa, tapi aku sendiri bingung dengan perasaanku," jawab Sisil pelan.
"Bingung?!"
"Ya. Tapi apa pun itu, aku nggak mau kehilangan Aa." Sisil mengangkat wajahnya, lalu menatap bola mata Rama dengan lekat. "Dan aku akan belajar mencintai Aa serta menerima pernikahan kita."
"Apa Kak Gugun, yang memintamu melakukan hal itu?"
"Iya." Sisil mengangguk dan jawaban itu kembali membuat dada Rama berdenyut sakit. Perlahan dia pun menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi, lalu membuang napasnya dengan kasar.
"Kalau itu seperti memaksamu. Jangan lakukan itu, Dek," pinta Rama, lalu mengalihkan pandangan dan mengusap wajahnya saat kembali menjatuhkan air mata.
"Kenapa aku nggak boleh melakukannya, A?"
__ADS_1
"Aku nggak mau kamu merasa terbebani," jawab Rama dengan suara yang tertahan. "Menikahimu saja aku sudah cukup beruntung, jadi nggak perlu juga aku memaksamu untuk mencintaiku."
"Kok gitu?" Sisil jadi merasa bersalah. Perasaannya pun ikut tidak enak.
"Ya, memang begitu. Tapi ... apa boleh, aku minta sesuatu padamu, Dek?"
"Apa itu, A?"
"Apa pun yang terjadi ... tolong lebih percayalah padaku, daripada orang lain. Karena aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Dek, meskipun aku banyak sekali kekurangan." Rama kembali menangis, tapi tanpa suara. Berkali-kali dia mengusap air matanya.
"Apa pun yang terjadi itu apa maksudnya? Aku nggak mengerti, A?" Sisil menggeserkan tubuhnya untuk lebih dekat kepada Rama, lalu menyentuh punggung tangan kanannya. Tapi pria itu, langsung menarik tangannya sendiri. "Aa marah sama aku? Aku minta maaf, A."
"Aku nggak marah," jawab Rama. "Kalau tentang apa pun yang terjadi, itu maksudnya kalau misalkan ada sesuatu kesalahpahaman lagi. Kita 'kan nggak tau, kedepannya bagaimana dengan hubungan kita. Apalagi ... kamu masih mencintai mantanmu dan belum bisa melupakannya."
"Masa? Tapi aku nggak percaya, Dek."
"Katanya tadi aku harus percaya sama Aa. Tapi kok Aa nggak percaya sama aku?"
"Kan kamunya lebih percaya sama Arya, daripada sama aku." Rama membalikkan pertanyaan dari Sisil. "Jadi bagaimana bisa aku percaya, kalau kamu sudah melupakan Arya. Sedangkan di kampus kamu selalu menemuinya, kan?"
"Aku nggak menemuinya, A!" tegas Sisil yang mulai meninggikan suaranya. "Kak Arya sendiri yang mengajakku bicara, aku dipaksa."
__ADS_1
"Oh ya? Bukannya kamu senang, bertemu Arya?"
"Kok Aa jadi curiga sama aku, sih?" Sisil jadi kesal sendiri, apalagi wajah Rama berpaling ke arah lain. Sama sekali tak menatap ke arahnya. "Aku jujur dan aku sama sekali nggak senang bertemu dengan Kak Arya, A."
"Bagus deh kalau begitu," jawab Rama tanpa ekspresi. Dia pun segera menyalakan kembali mesin mobilnya, kemudian mengemudi. "Kita sekarang langsung pulang saja," tambahnya kemudian.
"Pulang ke mana, A?"
"Apartemen."
"Kita ke rumah orang tua Aa saja. Jangan ke apartemen."
"Bukannya kamu bilang takut sama Daddy?" Rama bertanya, tapi sama sekali dia tak menatap wajah istrinya.
"Kan Aa bilang kalau Daddy nggak mungkin sejahat itu menjadikanku tumbal. Jadi aku coba mempercayainya."
"Oke." Rama mengangguk dan menarik gas mobilnya untuk lebih cepat sampai.
"Aa nggak marah sama aku, kan? Aku minta maaf ya, A."
"Kan aku sudah bilang nggak marah. Udah, aku mau konsentrasi menyetir biar cepat sampai. Kamu pasti capek 'kan pengen istirahat?"
__ADS_1
"Iya." Sisil mengangguk lemah, lalu mengelus perutnya yang terasa lapar. Dia pun memandangi wajah Rama yang terlihat masih tak berekspresi itu, dan kembali membuatnya kesal sendiri sebab merasa bingung penyebabnya. 'Katanya nggak marah, tapi kok wajahnya jutek banget. Padahal 'kan aku udah minta maaf. Aku juga kepengen kolak pisang sebenarnya, A, terus disuapi Aa. Tapi kok Aa nggak nawari aku makan?' batin Sisil dengan sedih.
...Jutekkan juga kamu tadi, Sil š¤£...