Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
65. Ternyata dia ganas sekali


__ADS_3

Sebelumnya.....


"Nak Sisil, kamu mau ke mana?" tanya Yenny yang sehabis dari toilet. Dia melihat menantunya berdiri mematung seperti orang linglung di depan pintu ruang make up.


Sisil menoleh, wajahnya sudah merah seperti udang rebus. Itu dikarenakan sejak tadi dia menahan amarahnya. "Aku mau langsung istirahat boleh nggak, Mom? Badanku pada sakit banget soalnya," ucapnya sembari mengusap tengkuk.


Tak ada niat untuknya berbicara dengan Rama, yang Sisil inginkan sekarang adalah istirahat. Sebab dirinya merasa capek sendiri karena emosinya.


"Boleh, Mommy antar kamu ke kamar, ayok." Yenny merangkul bahu sang menantu, kemudian mengajaknya melangkah bersama masuk ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka.


Mereka naik ke lantai 4 nomor kamar 400. Perlahan Yenny membukakan pintu kamar hotel itu dan Sisil langsung terbelalak.


Dia merasa terkejut sebab kamarnya sangat indah. Banyak sekali lilin yang menyala di sisi tembok. Lilin itu berbentuk mawar yang berada dalam gelas. Wangi dan terlihat sangat cantik.


Di atas kasurnya banyak sekali kelopak bunga mawar yang bertaburan. Selimutnya berbentuk angsa yang tengah berciuman.


Dinding di atas dipan, ada dekorasi nama Rama dan Sisil. Juga dengan lampu kecil-kecil yang berwarna-warni. Lucu dan cantik sekali.


"Bagus nggak kamarnya, Nak?" tanya Yenny yang sejak tadi memperhatikan wajah Sisil. Wajahnya masih merah, tapi ada senyuman kecil yang terbit di bibir tipisnya.


"Bagus, Mom." Sisil mengangguk, kemudian melangkah masuk.


"Ini Mommy yang minta WO-nya untuk mendekorasi, lho, Nak. Semoga saja kamu dan Rama bisa menikmati malam pengantin kalian," ucap Yenny penuh harap. Dia melangkah mendekati Sisil yang baru saja duduk, lalu perlahan menyentuh perut rata sang menantu.


Sisil tampak terkejut sesaat, akan tetapi dia diam saja.


"Mommy mau punya cucu darimu. Buatkan Mommy cucu yang lucu dan berjenis kel*amin laki-laki bersama Rama, ya?" pinta Yenny. Raut wajahnya itu tampak begitu sendu dan membuat Sisil tidak bisa menjawabnya selain dengan anggukan kepala. Meskipun sejujurnya dia tak ada niat bahkan tidak mau, jika untuk bisa memadu kasih dengan Rama. Rasa kesalnya saja masih memuncak sekarang.


"Terima kasih, Sayang," imbuh Yenny seraya mencium kening Sisil, lalu mengelus kedua pipinya.

__ADS_1


"Sama-sama. Eemm ... aku mau istirahat, Mom. Dan aku nggak usah ditemenin." Sisil mengusir Yenny secara halus.


"Mau Mommy bantu bukain gaun, nggak? Pasti kamu mau ganti baju atau mandi dulu, kan?" tawar Yenny.


"Aku bisa sendiri kok, Mom. Tinggal tarik resletingnya saja." Sisil menunjuk ke arah belahan dada. Ada resleting panjang yang terhubung sampai perut.


"Oh ya sudah kalau begitu. Nanti baju gantinya cari di lemari. Mommy sudah belikan kamu baju tidur beraneka ragam," ucap Yenny seraya menunjuk lemari.


"Iya." Sisil mengangguk. "Oh ya, maaf banget, Mom, boleh nggak nanti aku minta pelayan untuk mengantarkan susu coklat hangat?" Minum atau makan coklat biasanya bisa untuk menaikkan moodnya. Mungkin saja dengan begitu dia akan terasa jauh lebih baik.


"Iya, nanti Mommy pesankan. Jangan lupa nanti tunggu Rama datang, ya? Lalu bersenang-senang. Selamat malam, Sayang."


"Malam, Mom." Sisil tersenyum seraya memperhatikan Yenny yang melangkah menuju pintu. Melihat sang mertua sudah melangkah pergi dan menutup pintu, Sisil segera bangun dari duduknya untuk mengunci pintu itu dengan rapat. "Nggak ada acara bersenang-senang, Mom. Aku nggak sudi bercinta dengan pria hidung belang macam Om Rama! Aku juga sangat membencinya!" teriaknya dengan emosi yang menggebu.


Sisil perlahan melangkah menuju meja di dekat sofa panjang, lalu pelan-pelan melepaskan mahkota dan hiasan di atas kepala. Setelah itu high heels dan juga gaun.


"Bisa-bisanya dia genit sama dua wanita, mana dihari pernikahannya lagi? Aku jadi menyesal menikah dengannya, tau gini mah mending aku nggak usah menikah. Biarkan saja kalau aku hamil tanpa suami, buat apa juga punya suami tapi nggak setia!" teriaknya kencang.


Seusai gaunnya terlepas, Sisil pun membuka lemari untuk mengambil handuk kimono. Baru lah setelah itu dia melangkah menuju kamar mandi.


Dia taruh handuk itu pada gantungan, lalu melepaskan pakaian dalam dan berdiri di atas kucuran shower.


Air dinginnya setelah menyejukkan rambut kepala hingga seluruh tubuh. Akan tetapi, tidak dengan dada dan hatinya yang masih panas akibat rasa cemburu.


Mungkin sekitar 20 menit Sisil sudah hampir selesai mandi, tinggal membilas tubuhnya sisa sabun. Akan tetapi, sontak dia terkejut melihat Rama yang tiba-tiba saja datang dan bertubuh polos.


Tanpa melihat inti tubuh dan lato-lato yang bergelayut manja, Sisil langsung menjerit histeris.


"Aakkhh!" Jelas dia berteriak dan merasa takut, sebab ini adalah pengalaman pertamanya melihat kemal*an pria dewasa. Apalagi milik Rama berbulu lebat.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Dek?!" tanya Rama yang ikut panik sendiri. Dia tak tahu saja, alasan Sisil kaget adalah dirinya.


Tanpa dosa dia langsung berlari dan memeluk tubuh Sisil, tapi gadis itu langsung mendorong dadanya.


"Dasar mesum! Om Tua mesum!" teriak Sisil marah.


Kedua tangannya itu terangkat ke udara, hendak meraih handuk yang dia ingat ada di sebelahnya. Namun lantaran matanya itu terpejam, jadilah handuk itu terjatuh menimpa kakinya.


Sisil hendak beringsut ke bawah, meraih handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dia takut jika akan terjadi hal selanjutnya sebab tubuh Rama juga sama polosnya.


Namun, apa yang dia lakukan itu gagal sebab kedua pergelangan tangannya ditahan dan ditempelkan ke tembok oleh Rama.


Sisil perlahan membuka matanya, dan pria tampan itu pun langsung mendekat dan meraup bibirnya dengan ganas.


Cup~


Bola mata Sisil terbuka lebar. Rasa terkejutnya itu makin menjadi sebab mendapatkan perlakuan secara tiba-tiba seperti itu, jantungnya pun terasa berdegup kencang. Malah seperti akan loncat rasanya.


'Apa-apaan dia? Mesum sekali. Sudah masuk ke kamar mandi sembarangan, terus main cium-cium segala lagi. Cium saja sana, si Gisel. Jangan aku!' seru Sisil dalam hati.


Dia mulai memberontak, kepalanya bergerak ke sana kemari demi menghindari ciuman yang berlangsung. Namun, semua perlawan itu tampaknya sangat sulit sebab Rama menyesap bibirnya begitu kasar. Lidahnya pun ikut berkelana dan tubuh besarnya perlahan menghimpit tubuh kecilnya.


Napas Sisil terasa tercekat, apalagi dada keduanya sudah saling menempel. Rama dengan nakalnya menggesek-gesekkan dadanya, demi bisa merasakan puncak dada yang menonjol dengan masih malu-malu itu.


'Duh bagaimana ini? Ternyata dia ganas sekali. Bisa-bisa aku diperkosa untuk kedua kalinya. Kak Gugun ... tolong aku. Aku nggak mau diperkosa sama Om Tua untuk kedua kalinya. Dia ternyata pria hidung belang, Kak!' batin Sisil. Dapat dia rasakan, milik Rama seolah menusuk perutnya karena sangking tegaknya bagaikan tiang listrik.


...Tarik napas dulu, Sil 😆...


...Tapi ga ada Kak Gugun di sini, adanya cuma pembaca yang nontonin kamu. Minta tolong gih, sama mereka 🤣...

__ADS_1


__ADS_2