
'Kira-kira ... paku yang aku kirimkan sudah diinjak sama Gugun belum, ya, dan kira-kira ... berhasil kena pelet nggak dia?' Mbah Yahya membatin seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Gugun.
Rasa penasaran akan aksinya kemarin malam membawanya datang. Ingin memastikannya sendiri.
Ting~
Saat pintu lift itu terbuka dan dia hendak masuk, tiba-tiba seseorang menyenggol lengannya. Dia juga ikut masuk ke dalam sana.
"Lho, Tut, ngapain kamu ada di sini?!" tanya Mbah Yahya heran kepada perempuan yang selift dengannya. Dan dia juga baru sadar, jika yang menyenggolnya sebelum masuk tadi adalah Tuti.
"Aku ingin memberi perhitungan kepada Pak Gugun, Pak! Masa dia melaporkanku ke polisi!" geram Tuti dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dadanya terlihat naik turun menyimpan banyak emosi.
Mendengar itu, Mbah Yahya sontak membelalakkan matanya. "Masa sih, Tut?"
"Iya. Polisi datang ke kantornya Pak Rama dan mereka mau menangkapku, Pak."
"Terus kok kamu bisa ke sini? Apa mereka nggak mengejarmu?" tanya Mbah Yahya. Dia pun lantas memindai tubuh Tuti dari ujung kaki hingga kepala. 'Si Tuti juga ... apa peletku sudah bereaksi di tubuhnya? Tapi kok ... dia terlihat marah sama Gugun?' batinnya bertanya-tanya. 'Ah, tunggu pas mereka dipertemukan saja deh. Biar aku tahu hasilnya.'
"Saya nggak tau soal itu, Pak." Tuti menggelengkan kepala. "Tapi kayaknya sih pasti mengejar. Bapak tolong bantuin saya dong. Saya 'kan korban disini. Masa saya yang dipenjara? Dan kenapa juga Pak Gugun bisa melaporkan saya? Kan dia sudah kena santet."
"Aku juga heran, Tut. Mending kita pastikan saja bareng-bareng."
Tuti mengangguk.
*
__ADS_1
*
*
Ting~
Pintu lift itu sudah tiba di lantai 2, keduanya lantas keluar bersama-sama dan melangkah menuju apartemen Gugun.
Baru saja Mbah Yahya hendak mengangkat tangannya ke arah pintu, ingin memencet bel. Akan tetapi urung dilakukan sebab pintu itu keburu dibuka dari dalam.
Ceklek~
Keluarlah Gugun dengan memakai stelan jas berwarna biru navy. Dia terlihat rapih dan segar. Rambutnya pun tampak masih basah seperti habis keramas.
"Pak Gugun ini kurang ...." Ucapan Tuti tiba-tiba terhenti diujung bibir kala keduanya saling bertatapan muka. Jantungnya pun sontak berdebar kencang dan kedua pipinya langsung bersemu merah.
'Apa benar dia Pak Gugun?! Kok jadi ganteng gini, sih?! Kumisnya juga ... manis sekali. Terlihat seperti gulali.' Tuti memperhatikan wajah Gugun hampir tak berkedip. Kedua tangannya pun refleks menyentuh dada.
Ini aneh, padahal biasanya dia sangat sebal melihat kumis tipis pria di depannya.
"Mau apa kamu ke sini?! Bukannya aku sudah melaporkanmu ke polisi, ya!" bentak Gugun sambil melotot.
Orang pertama yang terkejut justru Mbah Yahya, keningnya juga langsung mengernyit. 'Lho, kok, sikap Gugun nggak ada perubahan? Apa jangan-jangan peletku nggak mujarab ke tubuhnya? Atau aku kemarin salah baca mantra?'
"Pak Gugun kenapa melaporkanku ke polisi? Apa salahku?" tanya Tuti. Tapi ini berbeda. Cara penyampaiannya terdengar lembut tak seperti awal dimana dia bercerita di lift kepada Mbah Yahya.
__ADS_1
"Salah kamu bilang?!" Gugun berkacak pinggang. Dagunya terangkat dan rahang diwajahnya tampak mengeras. "Apa kamu sampai sekarang masih nggak sadar apa kesalahanmu, hah?!" berangnya.
"Tapi apa yang aku lakukan karena Bapak yang duluan ingin memperkosaku. Kalau Bapak—"
"Astuti berhenti ditempat!" sergah seseorang dari kejauhan. Suaranya terdengar begitu lantang.
Atensi mereka langsung memusat ke arah sana dan sontak—Mbah Yahya terbelalak, kala ternyata orang tersebut adalah polisi.
Polisi itu datang tidak sendiri, melainkan berdua. Mbah Yahya bisa menebak jika keduanya datang pasti karena menyusul Tuti dan akan menyeretnya ke penjara.
'Wah ... ini gawat! Bisa-bisa Tuti akan dibawa sama mereka!' Tak ada jalan lain. Dengan nekat Mbah Yahya kembali turun tangan.
Cepat-cepat dia pun menggosok batu akik berwarna merahnya hingga mengeluarkan cahaya. Dan saat kedua polisi itu berlari mendekat, dia pun berkumat-kamit membaca mantra, lalu mengibaskan tangannya ke arah posisi Gugun yang berdiri di depan Tuti.
Bruk!!
Dalam sekali kibasan saja, Gugun berhasil menubruk tubuh Tuti sebab terdorong oleh kekuatan Mbah Yahya.
Keduanya jatuh saling menimpa dan keduanya sama-sama terkejut. Gugun sontak terbelalak. Akan tetapi sekarang, dia merasakan kepalanya seperti ada yang menekannya. Hingga membuat bibirnya berhasil mendarat ke bibir Tuti.
Cup~
Tuti langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Namun bak seperti terkena aliran listrik, dia pun dengan beraninya langsung melummat bibir Gugun tanpa berpikir panjang. Dan anehnya, pria itu justru pasrah diam saja.
'Apa-apaan ini?! Kenapa aku menindih tubuhnya dan kita berciuman?!' batin Gugun bingung. 'Tapi kenapa aku nggak bisa menarik tubuhku. Berat sekali seperti ada yang menahan.'
__ADS_1
...Mau nambah nggak nih? 😆 kalau mau tambahin vote sama hadiahnya dulu tapi 🤣...