Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
89. Ketusuk paku


__ADS_3

Sisil mendudukkan bokongnya di atas kloset duduk yang tertutup. Lalu dia pun memainkan ponsel barunya.


Tadi sempat dia mengambil benda pipih itu di dalam koper, dan memang alasannya ke kamar mandi selain menghindari Rama adalah untuk menghubungi Gugun. Sudah dua hari dia di Korea dan tentu rasa rindu itu ada.


Ponsel barunya juga sudah ada kartu perdananya yang telah diisi nomor Gugun, Rama dan Yenny. Dan Rama sendirilah yang mengisinya.


"Assalamualaikum, Kak," ucap Sisil saat sambungan itu berhasil diangkat oleh seberang sana. Berselang beberapa menitan.


"Walaikum salam," jawab Gugun. Suaranya terdengar parau khas bangun tidur.


"Kakak baru bangun, ya? Ini 'kan sudah siang." Sisil menarik ponselnya sebentar untuk melihat jam, di sana terlihat pukul 10.


"Di sini baru jam 8 tapi Kakak memang baru bangun ini, kesiangan," jawab Gugun.


"Jadi nggak ke kantor dong, Kak?"


"Memang hari ini jadwalnya di lapangan, cuma agak siangan. Oh ya, bagaimana kabarmu di sana? Kamu dan Rama sehat, kan?"


"Aku dan Om Rama sehat. Kakak sendiri gimana?"


"Kakak juga sehat. Tapi kok kamu sampai sekarang panggil Rama dengan sebutan Om? Ganti dong, Sil," pinta Gugun.


"Nggak mau ah, orang cocokkan dipanggil Om kok dia." Sisil mendengkus.


"Meskipun cocok juga nggak pantes tau. Dia 'kan suamimu. Nanti yang ada orang lain berpikir kamu keponakannya, bukan istrinya." Ada benarnya juga memang, apa yang dikatakan Gugun.


"Terus apa yang cocok? Kalau dipanggil Kakak ... Om Rama ketuaan, Kak."


"Abang saja, Rama 'kan sering memanggilmu dengan sebutan Adek," saran Gugun.


"Kayak tukang bakso sih, Kak, kalau dipanggil Abang," kekeh Sisil.


"Nggaklah. Ya sudah kalau begitu Mas saja ... atau Sayang?" saran Gugun lagi.


"Dih nggak maulah. Mas sama Sayang itu terdengar sangat mesra, lebay Kak."


"Ah terserah kamu deh, tapi jangan Om. Nggak cocok soalnya."

__ADS_1


"Nanti aku pikirkan dulu deh, Kak." Sisil menyandarkan punggungnya, lalu menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi.


"Oh ya, kamu nggak berantem terus sama Rama di sana, kan? Kalian bersenang-senang, kan?" tanya Gugun yang terdengar penasaran.


"Awalnya sih bersenang-senang, Kak." Yang Sisil pikir, bersenang-senang yang dimaksud Gugun adalah bercinta. Padahal banyak makna dari kata tersebut.


"Terus?" tanya Gugum.


"Tapi terus aku kesel banget karena sempat ada Fuji yang menganggu," tambah Sisil. Sebenarnya tak ada niat untuk bercerita, tapi rasa-rasanya Sisil masih menyimpan amarah. Jadi tidak ada salahnya sekedar curhat, mungkin dengan begitu akan membuatnya jauh lebih baik.


"Siapa Fuji?"


"Katanya dia teman SMA Om Rama, tapi ngeselin dan genit orang, Kak. Aku juga yakin ... dia pasti suka sama Om Rama," gerutu Sisil sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Dia tinggal di Korea?"


"Iya. Malah awalnya aku dan Om Rama menyewa villa punya dia. Tapi untungnya sih sekarang kami sudah pindah."


"Ya bagus dong. Berarti sekarang sudah aman, kan, nggak ada yang genitin Rama?"


"Sekarang sih aman, tapi nggak tau nanti. Aku takut saja sih, Kak." Sisil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Om Ramanya juga ... dia mah ngeselin, sama cewek siapa saja diladenin. Kakak tau nggak, masa tadi Fuji pingsan dia mau menggendongnya! Kan nyebelin itu!" seru Sisil yang tiba-tiba marah.


"Nggak tau, kayaknya sih cuma pura-pura saja mencari perhatian," balas Sisil sambil memanyunkan bibirnya.


"Terus maksudnya Rama meladeni itu apa? Apa Rama sempat merayu Fuji?" tebak Gugun.


"Kalau merayu sih nggak, tapi kayak senyum-senyum gitu, Kak. Aku sebel lihatnya. Coba dong Kakak marahin dia, jangan suka senyum-senyum ke cewek lagi apalagi pegang tangan. Kalau bisa sih pura-pura mati sekalian pas ada cewek!" gerutu Sisil.


"Wah ... kayaknya kamu diam-diam sudah mulai jatuh cinta sama Rama, ya?" tebak Gugun dibarengi suara kekehan.


Wajah Sisil langsung memerah, jantungnya pun ikut berdebar kencang. "Enak saja, nggaklah! Mana mungkin aku cinta sama dia!" tegasnya. Lagi-lagi Sisil mencoba menyangkal. Padahal sebenarnya benih-benih cinta itu memang sudah mulai tumbuh.


"Bisa aja kamu ngelesnya, ya!" Gugun bergelak tawa. Suaranya begitu renyah ditelinga. "Ya sudah, nanti Kakak marahin dia tapi sebelum itu kita udahan teleponnya, ya! Kakak mau mandi dan makan. Laper soalnya."


"Kalau Kakak nggak sibuk ... nanti Kakak telepon Om Rama dan marahin dia, ya," pinta Sisil.


"Iya. Kamu dan Rama hati-hati di sana. Jangan suka ngambekin dia, Rama orangnya baik banget, Sil," tegur Gugun.

__ADS_1


"Iya." Sisil mengangguk. Kemudian mematikan panggilan.


Setelah itu dia lantas berdiri, kemudian menghela napasnya sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


Ceklek~


"Dek, ayok pakai jaket! Kita berangkat sekarang!" seru Rama dengan penuh antusias. Dia memegang jaket bulu di tangannya berwarna hitam kemudian mendekat ke arah Sisil.


"Ke mana?" tanya Sisil bingung. Akan tetapi dia pasrah saja saat Rama memakaikan jaket ke tubuhnya.


"Pergi makan terus jalan-jalan." Rama langsung mengulum senyum dengan debaran jantung di dada ketika Sisil bersuara dan menanggapi apa yang dia katakan. Sempat berpikir tadi, kalau gadis itu akan puasa ngomong seharian penuh. "Aku sudah pesan taksi online dan mau mengajakmu ke Namsan Tower di Seoul. Aku tadi sempat cari di g*ogle ... katanya itu wisata yang cocok dikunjungi untuk pasangan yang lagi berbulan madu, Dek. Nanti kita bisa pasang gembok cinta juga di sana."


Menurut Rama, dengan mengajak Sisil jalan-jalan dan makan itu akan menaikkan moodnya. Mungkin saja kemarahan Sisil dapat menghilang, hingga mereka nanti malam bisa kembali memadu kasih.


"Namsan Tower?!" Kening Sisil seketika mengernyit. Nama itu seperti tak asing pada serial drama Korea yang pernah dia tonton.


"Iya, kalau nggak salah sih itu namanya. Ayok, Dek, nggak enak sama sopirnya yang daritadi udah nunggu." Rama memakai tas selempang kecil untuk menaruh dompet dan ponsel. Ada bedak padat, lipstik dan tissue milik Sisil juga. Siapa tau diperlukan.


Setelah itu, mereka pun bersama-sama keluar dari kamar dan villa. Tidak lupa untuk menguncinya.


***


Jakarta, Indonesia.


"Aaww!!" Gugun seketika memekik saat kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang tajam. Seusai dirinya keluar dari kamar mandi, sehabis mandi.


Dengan kaki berjinjit dia pun melangkah menuju sofa, lalu duduk di sana sambil mengangkat kaki yang tertusuk tadi.


Sontak—bola mata Gugun melebar sempurna. Sebab melihat ibu jari sebelah kanannya tertusuk paku payung.


"Pantesan sakit banget. Ternyata ketusuk paku. Tapi dari mana paku ini?!" gumamnya dengan kening yang tampak mengernyit heran.


Tanpa berpikir panjang, Gugun pun langsung menarik benda itu dari kakinya. Kemudian berlari cepat ke arah nakas untuk mengambil beberapa lembar tissue.


Niatnya ingin mengusap kakinya, sebab pasti akan ada darah yang keluar.


Namun, anehnya tidak ada darah sama sekali yang menetes. Bahkan kakinya yang sempat terlihat ada lubang sekarang menjadi tertutup rapat. Rasa sakitnya pun seolah lenyap begitu saja.

__ADS_1


"Aneh banget sih, tapi kok ...." Gugun menatap sekeliling lantai di kamarnya. Dan Lagi-lagi, dia merasa heran sebab ternyata bukan hanya ada satu paku payung, tapi banyak. "Lho, kok banyak? Ini sih kayak ada yang naruh dengan sengaja. Tapi siapa kira-kira? Perasaan ... aku 'kan tinggal seorang diri dan pintunya juga selalu dikunci." Gugun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


...Aku kasih tau, ya, Om, itu besanmu yang doyan nyembur yang naruh 😆...


__ADS_2