
"Nggak, Dok, langsung lanjutkan saja ceritanya," jawab Rama cepat, sebelum nantinya dokter itu berpikiran mesum tentang dirinya dan Sisil.
Ya sebenarnya sih tidak masalah, toh mereka adalah suami istri. Hanya saja Rama merasa malu, jika apa yang ada pada dirinya dan rumah tangganya itu diumbar, sampai diketahui orang lain.
Dan memang sebenarnya dalam Islam juga tidak boleh, karena itu termasuk aib.
"Baik kalau begitu, kita lanjutkan yang tadi," sahut Dokter itu, lantas melanjutkan dan menatap ke arah Sisil. "Kalau Nona merasa Pak Rama seperti pria normal pada umumnya, itu tandanya Pak Rama memang sembuh dari penyakit impotensinya."
"Apa Dokter tau, sejak kapan penyakit suamiku sembuh?" tanya Sisil yang masih penasaran.
"Sejak ketemu dengan Nona."
"Kok aku?" Sisil menunjuk wajahnya sendiri dengan raut bingung.
"Benar." Dokter itu mengangguk dan tersenyum. "Karena saat itu, Pak Rama sendiri yang bercerita kalau dia memperkosa seorang gadis dan gadis itu adalah Nona."
"Apa yang Dokter katakan benar, Dek." Rama menimpali dan membuat Sisil menoleh kepadanya. "Pas insiden itu 'kan kamu awalnya sedang mabuk dan diganggu seorang pria, terus aku datang menyelamatkan kamu dan membawamu ke dalam mobil. Eh tapi pas sudah di dalam mobil ... kamu malah membuka gaunmu karena bilang kepanasan. Dan disaat itulah, burungku tiba-tiba bangun hingga peristiwa pelecehan itu terjadi," tambah Rama menjelaskan panjang lebar.
"Masa sih aku buka gaun sendiri? Bukannya Aa yang buka terus memperk*osaku, ya?" Nyatanya, Sisil masih saja belum percaya dengan hal yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Sebab dia benar-benar sama sekali tak ingat karena efek obat itu.
"Demi Allah, Dek. Ngapain juga aku berbohong," jawab Rama dengan jujur. "Ya itu sih terserah kamu mau percaya atau nggak, tapi apa yang aku katakan memang jujur apa adanya."
"Masalah itu sudah berlalu, Nona," ucap Dokter yang kembali ikut berbicara. "Intinya sekarang, Pak Rama sembuh disaat dia pertama kali bertemu dengan, Nona. Anggap saja ... ini sebuah jalan untuk kalian bertemu dan berjodoh." Dokter tak mau mengambil pusing, jadi dia berpikir positif saja.
__ADS_1
"Sebelumnya aku sudah bertemu Sisil dua kali, Dok, dan yang ketiganya itu pas aku khilaf," ujar Rama memberitahu.
"Kapan saja kita pernah bertemu?" tanya Sisil. Tampaknya, dia kembali lupa.
"Yang pertama pas kamu dianiaya teman-temanmu, dan yang kedua pas si kembar anaknya Citra melakukan syukuran kalau nggak salah."
Sisil terdiam sebentar, mencoba mengingatnya. Dan beberapa menit berikutnya dia pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Tapi pas Citra syukuran si kembar ... aku nggak lihat Aa tuh. Dan kayaknya, hari dimana aku diperkosa itu habis aku pulang dari syukuran si kembar deh. Soalnya Lusi mengajak ketemu di restoran."
"Iya, itu benar, Dek." Rama menganggukkan kepalanya. "Tapi pas di acara syukuran ... hanya aku saja yang melihatmu. Tapi kamu nggak, soalnya pas aku panggil ... kamu nggak nengok."
"Jadi Aa pikir, aku tuli? Mangkanya aku nggak nengok pas dipanggil?" Sisil menatap sengit Rama.
"Dih nggak, aku nggak bilang kayak gitu, Dek," bantah Rama sambil menggeleng cepat. Takut Sisil marah. "Kamu nggak nengok mungkin karena akunya aja yang manggil kurang kencang, karena memang saat itu tenggorokanku seret, belum minum pas makan," tambahnya beralasan, supaya yang terlihat dialah yang salah, bukan Sisil.
Rama mencari aman, supaya tak memperkeruh keadaan.
"Oohhh," desah Sisil.
Sekarang, Rama dan Sisil berada di dalam mobil yang melaju menuju arah jalan pulang.
Namun, sejak tadi gadis itu terus memandangi selembar kertas yang berisi riwayat kesehatan Rama, yang sempat dia minta kepada Dokter untuk dibawa pulang.
'Kalau Aa dulunya impoten terus sembuh, dan almarhumah Mbak Tari meninggalkan karena serangan jantung ... jadi, masalah tumbal yang kata Kak Arya itu benar apa nggak, ya?' Baru sekarang, timbullah rasa kebimbangan Sisil terhadap apa yang Arya ucapkan. 'Tapi kalau dipikir-pikir dari logika, namanya dukun pasti memang melakukan tumbal. Dan itulah yang jadi pertanyaannya, siapakah yang ditumbalkan Daddy ... supaya ilmu hitamnya mampu bertahan dan bisa sesakti ini? Kalau bukan dari menantunya, terus siapa?'
__ADS_1
"Dek, kamu kenapa lagi, sih? Kok udah dikasih bukti masih aja diem? Belum percaya juga, sama aku?" tegur Rama yang sejak tadi memerhatikan sikap aneh istrinya. Perlahan tangannya itu menyentuh sebelah pipinya dengan lembut.
"Percaya, tapi yang bikin aku penasaran sekarang ... siapa yang jadi tumbalnya Daddy, A?" tanya Sisil dengan perlahan menatap Rama. "Setauku ... dukun memang selalu punya tumbal, supaya ilmu hitamnya bertahan lama. Iya, kan?"
"Kamu tau dari mana sih, Dek, tentang Daddy yang menjadi dukun? Dari siang kok bicaranya ke tumbal-tumbal?" Dari pada menjawab hal yang dia sendiri tidak tahu, lebih baik bertanya tentang yang pasti. Yakni alasan Sisil mengetahui pekerjaan mertuanya.
"Dari Kak Arya."
"Arya mantanmu?"
"Iya." Sisil mengangguk tanpa dosa.
"Kapan kamu ketemu Arya? Dan apa saja yang dia katakan padamu?" Dada Rama seketika memanas, begitu pun dengan matanya.
"Tadi siang pas di kampus. Dia mengatakan Daddy dukun, terus Mbak Tari meninggal karena jadi tumbal dan bisa-bisa aku juga akan menjadi tumbal selanjutnya, A," jelas Sisil.
"Ya ampun ..." Rama mengusap kasar wajahnya dengan perasaan jengkel, lalu geleng-geleng kepala. "Terus, kamu percaya, sama Arya? Sama apa yang dia katakan?" Meskipun sudah mulai emosi, nyatanya Rama masih bisa bersikap tenang dan berbicara lembut kepada Sisil. Sudah jelas disini, kalau Rama memiliki tingkat kesabaran yang cukup tinggi dan mampu mengontrol emosinya.
"Percaya nggak percaya, ya mangkanya aku bertanya sama Aa."
"Haaahh ...." Rama mendeesah geram, lalu mengurut dada yang terasa begitu sesak. Sakit hati sekali rasanya. "Yang kamu lakukan tadi itu bukan bertanya, Dek, tapi menuduh. Dan bisa-bisanya kamu lebih percaya mantanmu, daripada suamimu sendiri?" tambah Rama dengan bola mata yang berkaca-kaca. Dan tak berselang lama, buliran bening itu tiba-tiba mengalir membasahi kedua pipinya.
"Lho, kok Aa nangis?" Sisil tampak kaget melihat Rama menangis dan menurutnya itu tanpa sebab.
__ADS_1
"Aku nggak nangis. Cuma aku sedih aja." Rama mengusap kasar wajahnya, lalu menonjok pelan stir mobil. "Bisa-bisanya kamu lebih mempercayai Arya, dibanding aku yang menjadi suamimu. Dan apakah sampai detik ini ... kamu belum bisa mencintaiku, Dek? Dan belum bisa juga melupakan Arya?" tambahnya dengan lirih sambil menatap Sisil yang juga menatap ke arahnya.
...Jawab yang bener lho, Sil, sakit hati lho itu Om Ramanya 🥲...