
"Cari siapa kamu, Sa? Ayok cepat naik!" teriak Gugun yang berada di dalam mobil pada kursi kemudi, setelah selesai tarawih. Dilihat temannya itu berdiri di depan mobil, tapi kepalanya terus menoleh ke kanan dan kiri. Seperti mencari-cari sesuatu.
"Cari Nona Tuti, Gun. Kok dia belum keluar dari masjid, ya?"
Banyak beberapa orang, pria dan wanita keluar dari masjid besar itu dan melangkah melewati. Akan tetapi, sejak tadi Hersa tak dapat menemukan kebenaran Tuti. Padahal niatnya ingin meminta nomor hape, sebab tadi tidak keburu karena ditarik oleh Gugun.
"Ck!" Gugun tiba-tiba berdecak dengan wajah kesal. Terlihat jelas, jika dia tidak menyukai Hersa yang seolah tengah mendekati perempuan berhijab itu. "Dia sudah pulang tadi, Sa."
"Masa? Kamu melihatnya?" Hersa langsung menoleh, menatap Gugun dari jendela mobilnya yang terbuka.
"Iya."
"Kapan? Kok aku nggak tau?"
"Udah cukup lama. Pas kita keluar masjid mau pakai sendal itu," jawab Gugun berbohong. Sengaja dia melakukannya supaya Hersa tak lagi menunggu. "Udah ayok masuk! Aku harus cepat pulang, soalnya di apartemen ada Sisil dan Rama yang nunggu."
"Ah sayang sekali. Padahal enak kalau udah punya nomornya." Dengan langkah lesu dan bibir yang mengerucut, Hersa akhirnya masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Gugun.
Tak lama, mobil itu pun melaju pergi dari sana.
"Oh ya, kamu dan Nona Tuti 'kan saling mengenal. Pasti punya nomornya dong, Gun?" Hersa berbicara sambil menoleh ke arah temannya. "Bagi dong."
"Aku nggak punya," jawab Gugun berbohong, sambil menggelengkan kepala.
"Jangan bohong kamu, Gun." Hersa memicingkan matanya. Menatap Gugun penuh curiga.
"Beneran, ngapain sih aku bohong," jawab Gugun yang lagi-lagi berbohong. "Udah sih, jangan ngomongin Nona Tuti mulu. Kasihan dia, nanti telinganya sakit."
"Dih, hubungannya apa coba?"
"Kata orang-orang ... kalau telinga kita sakit, itu tandanya ada yang ngomong kita, Sa. Kamu pernah dengar nggak, sih, ada yang pernah ngomong kayak gitu?"
"Bukan sakit kali, tapi berdengung," sahut Hersa membenarkan. "Tapi kalau kita ngomongin jelek, itu baru. Ini 'kan cuma ngomongin biasa, apalagi sambil memuji kecantikannya." Hersa sedikit mendongak, lalu tersenyum dan mengkhayalkan wajah Tuti. Akan tetapi itu hanya sesaat, sebab Gugun sudah mengusap kasar wajahnya.
"Belum muhrim! Nggak boleh dikhayalin!" tegurnya marah.
"Biarin. Ah sirik aja kamu, Gun!" gerutu Hersa kesal. Lantas memalingkan wajahnya ke arah lain sambil bersedekap.
*
__ADS_1
*
*
"Assalamualaikum," ucap Gugun saat tiba di apartemennya, dan seseorang membuka pintu untuknya.
Ceklek~
"Walaikum salam! Kakak!" Sisil lah yang membuka pintu. Dengan senangnya gadis itu langsung menghamburkan pelukan. "Aku kangen sama Kakak."
"Kakak juga kangen sama kamu, Sil." Gugun membalas pelukan, perlahan dia mengusap punggung dan mencium puncak rambut Sisil yang tercium aroma shampoo. Sepertinya dia habis mandi. "Bagaimana liburannya? Apa seru?"
Pelukan itu perlahan Gugun relai. Kakinya melangkah maju, lalu menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu dia lantas mengajak Sisil menuju sofa panjang. Kemudian duduk bersama di sana.
"Seru banget, Kak. Ini aku ada oleh-oleh untuk Kakak." Sisil menunjuk dua paper bag di atas meja.
"Ngapain beli oleh-oleh segala, pasti bawanya berat." Gugun membuka beberapa benda tersebut. Ternyata isinya stelan jas berwarna nude dan jam tangan yang berwarna silver. "Ini terlalu bagus. Pasti mahal harganya."
"Nggak apa-apa. Tapi Kakak seneng, kan?"
Padahal sebenarnya itu bukan oleh-oleh. Sisil membelinya tadi lewat online dengan pengiriman secepat kilat. Sengaja dia melakukannya sebab tak enak jika tak membawa apa-apa untuk Gugun.
Sebenarnya bukan Rama tak mau membelikan, itu semua lantaran tadi pagi Sisil sempat ditegur untuk tidak belanja banyak supaya masuk koper. Namun sayangnya, gadis itu justru sudah marah duluan dan mengakhiri belanja untuk oleh-olehnya.
"Senenglah. Tapi Kakak lebih senang lagi karena bisa ketemu kamu, Sil." Gugun tersenyum, lalu mencubit kecil hidung mancung adiknya. "Tapi ngomong-ngomong ... di mana Rama?" Kepala Gugun memutar. Sejak tadi memang dia tak melihat batang hidung adik iparnya.
"Om Rama ketiduran, Kak.” Sisil mengerucutkan bibirnya. "Awalnya dia bilang cuma mau cek email dihape. Eh malah sambil tiduran di kasur dan ketiduran. Nyebelin banget, kan?"
"Nggak apa-apa. Mungkin dia capek," sahut Gugun dengan santai. "Sekarang kamu masuk kamar saja terus tidur. Kamu juga pasti capek, kan?" Lengannya terulur menuju kepala Sisil, kemudian mengelus lembut puncaknya.
"Iya. Kakak juga tidur, ya, nggak boleh begadang. Besok 'kan hari pertama kita puasa, kita nanti sahur bareng."
"Iya." Gugun mengangguk sambil tersenyum. Adiknya itu lantas berdiri, kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Selamat malam, Kak."
"Malam juga, Sil."
Setelah melihat Sisil menghilang masuk ke dalam kamar. Kini gilaran Gugun lah yang masuk ke dalam kamar, sambil membawa apa yang diberikan oleh Sisil.
__ADS_1
Dia melepaskan koko dan sarungnya terlebih dahulu, kemudian menggantungnya pada gantungan baju. Baru lah setelah itu mengganti pakaian. Kaos pendek berwarna hitam serta kolor pendek berwarna hitam.
Perlahan, Gugun menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dia berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
"Sedang apa Nona Tuti? Apa dia sudah tidur?" Entah mengapa, dia jadi memikirkan gadis itu. Kemudian berniat untuk menghubunginya lewat telepon. "Halo, assalamualaikum." Satu kali panggilan, tapi beruntungnya langsung mendapatkan jawaban.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Mas Gugun?" Suara Tuti terdengar begitu lembut sekali. Sehingga membuat jantung Gugun tiba-tiba saja berdebar tak karuan.
"Ah nggak, nggak ada apa-apa, Nona," jawab Gugun yang terdengar gugup. Memanglah tidak ada apa-apa, hanya saja Gugun ingin mendengar suaranya.
"Nggak ada apa-apa kok telepon?"
"Eemm ... ini, saya ingin bertanya. Tapi apakah saya mengganggu Nona? Apa Nona sudah tidur sebelum saya telepon?" Perasaan Gugun mendadak tidak enak dan jadi salah tingkah.
"Mas Gugun nggak ganggu kok. Dan mau tanya apa?"
"Besok sore, Nona sibuk nggak?"
"Sore jam berapa, Mas?"
"Jam 4 atau 5."
"Oh. Nggak. Ada apa memangnya?" tanya Tuti.
"Besok 'kan hari pertama puasa. Tadinya ... saya ingin mengajak Nona ngabuburit bareng," ujar Gugun. "Tapi kalau Nona mau. Kalau nggak, ya ... eemmm, harusnya sih mau. Soalnya saya ingin ngabuburit bareng."
Tiba-tiba, terdengar suara kekehan dari seberang sana.
"Nona ketawa?" tanya Gugun.
"Iya, Mas."
"Kenapa? Memangnya, ada yang lucu?"
"Mas Gugun lucu. Orang ngajak ngabuburit kok maksa, harus mau," kekehnya lagi.
"Maaf. Tapi Nona mau, kan? Masa sih, saya ditolak?"
...Dih, maksa banget Om Gugun 🤣 ga nyadar udah punya pacar....
__ADS_1
...Btw masih ada yang nungguin ga nih, kisah Om Rama 🤣 kok sepi banget, ya, ga ada like apalagi komen 🙈...