
Ceklek~
Rama membuka pintu ruangan tersebut dan mendorongnya. Akan tetapi, tak ada Sisil di dalam sana. Hanya ada seorang wanita yang memakai seragam WO, tengah membereskan beberapa make up yang berantakan di atas meja.
"Maaf, Mbak, di mana Sisil istriku?" tanya Rama.
Wanita itu langsung menoleh dan menatap Rama, lalu menggeleng. "Saya nggak tau, Pak. Nona Sisil nggak ke sini."
"Nggak ke sini?! Terus ... di mana Sisil kira-kira." Rama bergumam sendiri, lalu melangkah pergi dan seketika langkahnya berhenti saat melihat Rima berjalan dari arah toilet. "Mbak habis dari mana? Lihat Sisil nggak?"
"Mbak habis dari toilet dan nggak ngelihat Sisil, Ram," jawab Rima sambil menggeleng. "Bukannya Sisil sejak tadi sama kamu terus, kan?"
"Tadi dia ngobrol sama temannya, tapi nggak tau tiba-tiba ngilang aja." Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendadak perasaannya tidak enak.
"Mungkin—"
"Ram! Mommy cari-cari ternyata di sini kamu," sela Yenny yang baru saja datang menghampiri. Dia membawa segelas air dan sebotol obat di tangannya.
"Aku lagi cari Sisil, Mom. Tiba-tiba dia ngilang," jawab Rama dengan wajah frustasi. Niatnya kalau Sisil tak ketemu, dia akan melihat CCTV.
"Oh, Sisil ada di kamar hotel, Ram. Sedang istirahat," jawab Yenny santai.
"Mommy kok tau? Mommy tadi ketemu dia?"
"Iya." Yenny mengangguk dan melihat itu Rama langsung bernapas lega. "Tadi Mommy pas habis dari toilet ... nggak sengaja ketemu Sisil di sini, terus dia bilang katanya badannya pada sakit mau istirahat. Jadi Mommy antar dia ke kamar deh," jelasnya memberitahu.
"Kok aku nggak tau, dan kenapa dia nggak ngomong dulu sama aku?"
"Mommy nggak tau soal itu, Ram." Yenny menggeleng.
"Mommy tadi tau nggak, ada Gisel yang meluk aku? Apa Sisil sempat melihatnya?"
"Wanita gila tadi Gisel namanya?" Yenny berbalik tanya.
"Iya, Mommy lihat nggak?"
"Mommy lihat kejadian itu, tapi pas habis mengantar Sisil dari kamar hotel, Ram."
__ADS_1
"Oh, tapi Sisil ada cerita apa gitu sama Mommy?"
"Nggak ada, sih." Yenny menggeleng.
"Syukurlah." Rama mengelus dada dan kembali bernapas lega. Dia berpikir positif jika Sisil tak melihat kejadian tadi.
"Tapi sebenarnya ... Gisel itu siapa kamu, sih, Ram? Kok dia peluk-peluk kamu segala? Kalau Sisil lihat ... pasti dia cemburu."
"Masa sih, Sisil cemburu?" ucap Rama tak percaya.
"Ya pasti cemburu lah, namanya suami dipeluk orang lain. Aneh saja kamu!" omel Yenny. Dia menepuk kasar bahu Rama. "Jadi Gisel itu siapa kamu sebenarnya?"
"Bukan siapa-siapa aku, dia itu temannya almarhumah Tari, Mom," jawab Rama jujur.
"Tari mantan menantu Mommy?"
"Iya." Rama mengangguk. "Oh ya, aku boleh nggak sih, ke kamar hotelnya sekarang? Aku mau samperin Sisil, Mom."
"Boleh. Tapi kenapa dia malah peluk-peluk kamu segala? Pakai bilang cinta lagi." Yenny mencekal lengan kanan Rama saat pria itu hendak melangkah.
"Dia memang gadis gila, Mom. Dari dulu memang seperti itu."
"Nggaklah. Aku sama dia cuma temenan. Ah bukan teman sih, lebih tepatnya cuma kenal saja."
"Jangan dekat-dekat sama dia, Ram. Kamu harus jaga perasaan Sisil. Dia mau nerima kamu juga sudah syukur alhamdulilah," tegur Yenny. Tak mau rasanya jika rumah tangga Rama terguncang, apalagi karena orang ketiga.
"Iya, aku ngerti kok kalau masalah itu. Kan tadi kejadiannya juga dadakan, Mom."
"Ya sudah, tapi sebelum kamu ke kamar ... kamu minum ini dulu, Ram." Yenny memberikan segelas air dan sebotol obat yang sejak tadi dia pegang, menyerahkannya kepada Rama. "Minumnya satu kapsul saja. Eh kamu sudah makan, kan?"
"Sudah. Tapi ini obat apa?" Rama memerhatikan botol obat bergambar kuda itu. Lalu membaca tulisan yang tertera di sana 'Perkasa Sampai Pagi'
"Itu obat kuat. Tapi aman kok, asal minumnya satu kapsul saja untuk semalam. Jangan banyak-banyak," ucap Yenny.
"Ngapain aku minum beginian segala?" tanya Rama bingung.
"Pakai nanya. Ya biar perkasa, lah. Soalnya Mommy nggak yakin burungmu mampu bertahan lama. Kan dia baru bisa bangun baru-baru ini," sahut Yenny. "Jangan sampai nanti kamu mengecewakan Sisil. Usia dia 'kan masih muda, pasti lagi aktif-aktifnya itu, Ram."
__ADS_1
Rama langsung membuka botol obat, lalu mengambil satu kapsul dan menenggaknya dengan air putih.
"Kamu pegang saja, kalau berkhasiat 'kan bisa kamu pakai lagi." Yenny mendorong tangan Rama yang hendak memberikan obat itu kembali.
"Barang kali Daddy juga butuh, Mom?" ucap Rama.
"Dia mah nggak musti pakai begituan, Ram. Udah jos gandos." Yenny memperlihatkan dua ibu jarinya dan tersenyum bangga. "Oh ya, nanti kamu mandi dulu sebelum main, biar wangi dan jangan lupa pemanasan," bisiknya di telinga Rama dan seketika membuat tubuh pria itu meremang tak karuan.
"Ini obatnya tunggu beberapa menit nggak, sampai ada efeknya, Mom?" Rama menyimpan botol obat itu ke dalam saku dalam jasnya.
"Dua puluh menit pas Mommy baca, sih. Udah sana ke kamar, jangan lupa kasih goyangan yang hot, ya!" Yenny menepuk-nepuk bahu Rama. Lalu terkekeh begitu pun dengan Rima yang sejak tadi masih ada di sana. "Ini kuncinya." Yenny memberikan card system ke tangan Rama.
"Kalau bisa sampai perih ya, Ram, Mbak tunggu keponakan darimu," kekeh Rima. Dia dan Yenny langsung melangkah pergi, meninggal Rama yang sudah merona.
Pria tampan itu gegas berlari menuju lift yang baru saja terbuka, tak sabar sekali rasanya ingin cepat ketemu Sisil dan bergoyang ngebor di atasnya. Otaknya saja sekarang sudah travelling.
Tibanya di lantai 4, Rama pun menempelkan card system pada pintu dan terbukalah kuncinya.
Ceklek~
"Dek ...," panggil Rama seraya membuka pintu, lalu menutupnya kembali dan menguncinya.
Tidak ada Sisil di sana, akan tetapi yang ada adalah gaun, high heels, mahkota dan hiasan di kepala. Itu semua seperti dipakai Sisil tadi dan sekarang semua benda itu berada di atas meja di dekat sofa.
"Dek! Kamu di mana?" Rama melangkah menuju kasur dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air yang berasal dari dalam kamar mandi.
Merasa penasaran, akhirnya kaki itu melangkah ke arah sana. Pintunya kebetulan terbuka sedikit dan perlahan Rama mencoba mengintipnya.
Degh!
Jantung Rama sontak berdebar kencang, susah payahnya dia pun menelan saliva. Di dalam sana, Rama dengan jelas melihat Sisil tengah mandi di bawah kucuran shower. Cantik, seksi dan begitu menggoda.
Miliknya sontak berdenyut, meronta dan mengeras sempurna. Tubuh polos dan mulus milik sang istri, juga dengan dua bongkahan dadanya mampu membuat birahi Rama seketika memuncak. Menggebu dan tak tertahan.
Refleks, tangan Rama meraih jasnya sendiri. Lalu mulai melucuti satu persatu pakaian ditubuhnya. Dia berkeinginan untuk ikut mandi, juga sekaligus menyalurkan hasratnya.
'Bercinta sambil mandi kayaknya seru, ya? Semoga Sisil nggak menolak deh, aku sudah nggak tahan banget soalnya,' batin Rama dengan dada yang sudah naik turun menahan naffsu. Perlahan dia yang sudah bertubuh polos itu masuk ke dalam kamar mandi, lalu melebarkan pintu.
__ADS_1
...Terlalu nekat nggak, sih, Om? 😆 pasti kaget tuh si Sisil lihat yang bergelantungan 🤣...