
Arya berdecak mendengar pertanyaan Ganjar tentang berapa mobil. Akan tetapi dia diam.
"Kakakku cowok, Opa," jawab Sisil. "Setahuku Kakak cuma punya satu mobil dan dia bekerja jadi asisten pribadi almarhum Ayahnya Citra. Citra itu temanku."
Arga dan Ganjar mengerutkan keningnya. Mereka melayangkan pandangan sebentar lalu menarik turunkan alis mata, kemudian kembali menatap Sisil.
"Hanya jadi asisten? Asisten apa? Apa asisten rumah tangga?" tanya Arga.
"Asisten CEO, Om."
"Oh. Tapi kenapa dia jadi asisten? Kenapa nggak jadi CEOnya saja?" tanya Arga kembali.
"Papa ini aneh. Kan kantornya punya Ayahnya Citra, masa Kak Gugun yang jadi CEOnya?" balas Arya merengut.
"Kakakmu nggak punya kantor sendiri memangnya?" tanya Ganjar. Sisil mengangguk
"Iya, Opa. Kakak bekerja jadi asisten pada perusahaan orang lain. Tapi meski begitu ... Kakak mampu membiayaiku. Dari mulai makan, sehari-hari sampai kuliah."
"Sudah berumah tangga Kakakmu itu?" tanya Arga. Sisil menggeleng.
"Belum."
"Kakakmu saja belum menikah, masa kamu dan Arya kebelet nikah?"
Sisil menatap ke arah Arya dengan wajah bingung. Lelaki itu langsung mengenggam tangannya dengan lembut.
"Kan aku sudah bilang, kalau aku dan Sisil mau hubungan kita halal. Nggak masalah juga Sisil menikah lebih dulu daripada Kakaknya. Nggak dilarang agama ini, dan lagian cowok juga Kakaknya," jawab Arya santai. Dia kembali meluruskan niatnya.
Dari semua jawaban yang diberikan oleh Sisil. Bisa Arga dan Ganjar simpulkan jika gadis itu bukan anak orang kaya. Dan rasa kecocokan dengan Arya seketika hilang. Bahkan mereka melihat, Sisil bukan gadis yang tepat untuk dinikahi. Apalagi dalam waktu singkat.
Kalau Ayya sendiri tak memikirkan masalah status sosial. Hanya saja kalau untuk menikah dalam waktu dekat, dia juga tak setuju. Yang dia inginkan Arya lulus kuliah dulu lalu bekerja sesuai dengan cita-cita yang dia inginkan selama ini.
Arga mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu mengirim chat kepada Ganjar yang isinya adalah. [Pa, Sisil ini bukan anak orang kaya. Aku nggak mau dia jadi menantuku.]
"Ayok dimakan sama diminum dulu, Sil, Arya," ucap Ayya menawarkan sambil menunjuk ke arah meja. Sebab mendadak suasananya menjadi hening dan canggung. Rasanya tak enak.
__ADS_1
"Iya, Tante." Sisil mengangguk. Arya segera mengambil sepotong bolu dan menyuapinya.
Ting~
Terdengar bunyi notifikasi chat masuk dari ponsel Ganjar. Dia langsung mengambil benda pipih itu pada kantong celana dan langsung membuka isi chat anaknya. Kemudian dia balas.
[Papa juga tahu, Ga. Terus bagaimana menurutmu? Apa kita bicara sekarang kalau kita menolak Sisil?] Mengirim....
Ting~
[Iya, tapi biar aku saja yang mengatakannya. Sekarang, Papa pura-pura mengajak Arya pergi dari sini sebentar. Supaya aku bisa bicara dengan Sisil tanpa Arya. Karena aku yakin ... kalau kita bicara terang-terangan, Arya pasti menolak dan kekeh. Papa 'kan tahu gimana Arya anaknya.] Arga membalas. Dia seketika mendapatkan sebuah ide.
Ting~
[Oke.] Hanya itu yang Ganjar balas.
"Oh ya, katanya kamu habis keluar dari rumah sakit ya, Sil? Kata Arya ... kamu berniat bunuh diri. Tapi kenapa kamu mau bunuh diri?" tanya Ganjar seraya menaruh ponselnya kembali ke dalam kantong celana.
"Itu karena Sisil sempat mengalami—"
"Depresi kenapa?" tanya Ganjar.
"Karena aku ingin secepatnya menikah dengan Kak Arya, tapi aku takut orang tua Kak Arya nggak merestui," jawab Sisil asal. Dia menatap wajah Arya penuh arti. Lelaki itu tampak bingung tetapi dia memilih diam.
"Oh begitu." Ganjar mengangguk-ngangguk. Perlahan dia pun berdiri. "Opa kebetulan punya hadiah untukmu, Sil. Tapi ada di rumah. Opa minta, Arya ikut Opa sebentar, yuk! Ngambil hadiah untuk Sisil," ajaknya sambil menatap Arya. Itu hanya alasan, supaya cucunya bisa ikut bersamanya.
"Kita ke rumah Opa saja langsung, biar enak," jawab Arya.
"Jangan, ambil saja ke rumah Opa sebentar terus ke sini lagi. Opa juga ada hal yang ingin dibicarakan berdua denganmu." Ganjar melangkah mendekati Arya, kemudian menarik lengannya hingga lelaki itu berdiri.
"Tapi masa Sisil ditinggal di sini, sih?" Arya menoleh ke arah pacarnya. Tak tega rasanya dia meninggalkan Sisil dan terlebih perasaannya juga mendadak tak enak.
"Lho, kenapa memangnya?" tanya Arga sambil tersenyum manis. "Nggak apa-apalah si Sisil ada di sini. Kan niat Sisil datang supaya dekat dengan orang tua Arya. Iya, kan, Sil?" Menatap ke arah Sisil. Gadis itu juga menatapnya lalu mengulum senyum.
"Iya, nggak apa-apa, Kak. Kakak pergi saja," ucap Sisil beralih menatap Arya.
__ADS_1
"Eemm ... ya sudah, aku hanya sebentar ya, Sil," pamit Arya, kemudian melihat ke arah kedua orang tuanya. "Aku titip Sisil. Pokoknya jangan bertanya hal-hal yang aneh-aneh sama dia, ya, Pa, Ma!" tegurnya. "Aku sangat mencintai Sisil."
"Iya. Kamu tenang saja Arya," jawab Arga.
Arya pun melangkah pergi bersama Ganjar yang menarik lengannya. Pria tua itu tampak tak sabar sekali ingin cepat-cepat membawa cucunya pergi dari sini.
Setelah kepergian Arya, mendadak Sisil merasakan jantungnya berdebar kencang. Apalagi melihat Arga yang kini menatapnya.
"Ayok diminum jusnya," tawar Arga. Sisil mengangguk dan meraih gelas jus tersebut dan menenggaknya sedikit.
'Kok tiba-tiba aku takut sama Papa dan Mamanya Kak Arya, ya. Apalagi Papanya. Kira-kira mereka semua merestuiku nggak, ya?' batin Sisil penuh tanya.
"Sil, Om mau jujur padamu boleh nggak?"
Pertanyaan dari Arga sontak membuat Sisil terperangah. Dia langsung menoleh dan mengangguk cepat.
"Boleh, Om. Mau jujur tentang apa?" tanya Sisil.
"Maaf ya, sebelumnya. Tapi Om harus katakan ... kalau sebenarnya Om, Tante dan Opanya Arya nggak mau Arya cepat-cepat menikah. Apalagi sekarang dia masih kuliah."
"Setelah menikah 'kan Kak Arya masih bisa kuliah, Om. Aku juga rencananya masih lanjut kuliah," sahut Sisil.
"Tapi Om mau Arya itu membahagiakan orang tuanya dulu. Baru menikah denganmu. Masa depan Arya itu masih sangat panjang, Sil. Dia juga punya cita-cita menjadi CEO di perusahaan miliknya sendiri. Kalau dia menikah muda denganmu ... itu sama saja kamu menghancurkan masa depan Arya."
"Menghancurkan masa depan Kak Arya?" Sisil mengulang kalimat itu dengan wajah yang mendadak sendu. Jantungnya makin berdebar kencang.
"Iya. Jadi kalau kamu masih kekeh ingin menikah cepat ... lebih baik tinggalkan Arya saja. Menikahlah dengan pria lain," saran Arga. Bola mata Sisil sudah tampak berair. "Om tahu kamu dan Arya saling mencintai. Tapi tolonglah kamu itu ingat kalau Arya itu masih punya orang tua. Om sama Tante capek-capek menyekolahkan Arya tinggi-tinggi supaya apa coba? Supaya dia sukses dan jadi orang kaya dari hasilnya sendiri. Tapi masa kamu gugurkan begitu saja? Kalau begitu kamu namanya jahat dong, Sil."
Sisil membulatkan matanya dengan lebar.
"Dan satu lagi." Arga mengangkat jari telunjuknya ke atas. Tubuh Sisil sudah gemetaran. "Om, Tante dan Opanya Arya hanya mau Arya menikah dengan perempuan dari kalangan berada. Dan mempunyai orang tua lengkap. Jadi harusnya kamu itu sadar diri, kamu nggak cocok sama Arya."
Degh!
...Nah 'kan! Kalau udah begini kamu mau gimana lagi, Sil 😌🤧...
__ADS_1