Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
38. Sok baik amat


__ADS_3

Gugun langsung menghela napasnya dengan lega.


"Ayok." Citra mengangguk kemudian berdiri. Mereka pun melangkah masuk ke dalam kamar.


"Tapi kamu jangan nekat bunuh diri setelah menikah dengan Pak Rama, ya! Kakak nggak mau itu terjadi!" tegur Gugun.


"Iya," jawab Sisil malas.


Perlahan Gugun berdiri, kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar apartemen. Dia juga memungut buket bunga violet yang tergeletak.


Sepeninggal Gugun pergi, Arya sampai di apartemen itu. Dia langsung memencet bel.


Ting, Tong!


Ting, Ting!


Dua kali bel itu dia bunyikan. Akan tetapi tak ada tanda-tanda seseorang dari dalam sana membuka pintu.


Arya merogoh kantong celananya. Dia pun menelepon Sisil. Sayangnya nomornya masih tidak aktif.


"Apa Sisil belum pegang hape sampai sekarang, ya?" gumam Arya menerka-nerka.


Dia pun beralih menghubungi Gugun, sebab sempat menyimpan nomornya.


Panggilan itu tersambung, hanya saja tidak diangkat-angkat. Tiga kali Arya menelepon, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Apa Kak Gugun lagi sibuk bareng Sisil, ya?" tebaknya. Arya masih berpikir positif dan mempercayai apa yang Papanya katakan. "Mungkin saja mereka lagi pergi, nggak ada di apartemen. Besok saja deh aku balik lagi, sambil jemput Sisil kuliah." Monolognya.


Arya memutuskan untuk pergi dari sana, kemudian pulang ke rumah.


***


40 menit berlalu. Mobil hitam Gugun akhirnya sampai di depan gerbang rumah mewah Yahya.


Seperti apa yang Mbah Yahya ucapkan dalam hati, yakni Gugun sudah kalah Karena kedatangannya ke rumah itu ingin memberitahu jika dia dan Sisil menyetujui atas lamaran Rama.


Gugun sudah hilang arah dan tujuan, hanya ini saja jalan satu-satunya yang sekarang. Dan menurutnya, tentu niat baik itu harus disegerakan. Itulah alasan dia langsung menyambangi kediaman Mbah Yahya untuk pertama kalinya. 'Semoga saja apa yang aku lakukan adalah pilihan yang tepat,' batinnya.


"Maaf, Bapak cari siapa?" tanya seorang satpam dari dalam gerbang. Gugun baru saja membuka kaca pada jendela mobilnya.


"Aku ingin bertemu Pak Rama dan Pak Yahya, tolong buka pintunya, Pak," pinta Gugun.


"Nggak masalah."


"Sebentar ya, Pak. Saya konfirmasi kepada Pak Yahya dulu." Satpam itu mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Sebelum mempersilahkan Gugun masuk, ada baiknya jika dia menelepon sang majikan. Takutnya Gugun tidak dibolehkan masuk. "Ada seorang pria berkumis tipis datang ingin bertemu Bapak dan Pak Rama. Boleh masuk nggak ya, Pak?" tanyanya saat sambungan telepon itu diangkat.


"Fotokan orangnya. Lalu kirim kepadaku," titah Mbah Yahya lalu mematikan panggilan.


"Maaf, Pak. Saya foto sebentar, ya? Soalnya ini atas permintaan Pak Yahya." Satpam itu membuka kamera, lalu mengarahkan ke wajah Gugun dan langsung memotretnya.


"Lebay amat, sih. Aku 'kan bukan penjahat." Gugun mendengkus kesal.

__ADS_1


"Permintaan bos di atas segalanya, Pak. Jadi mohon dimaklumi," ucap satpam.


Setelah mengirimkan foto Gugun via chat, Mbah Yahya langsung memberikan balasan yang berisi. [Itu calon Kakak Iparnya Rama. Suruh dia langsung masuk.]


Satpam itu menaruh kembali ponselnya pada kantong celana. Lalu cepat-cepat membuka gerbang dan mempersilahkan Gugun untuk masuk.


"Ayok masuk, Pak."


Setelah memarkirkan mobilnya dan turun, Gugun pun segera melangkah menuju pintu utama rumah itu. Kemudian memencet bel.


Ting, tong.


Hanya dalam waktu beberapa detik saja pintu itu dibuka. Akan tetapi yang membukanya adalah Yenny.


"Sore, Bu. Namaku Gugun. Aku ingin bertemu dengan Pak Yahya," ucap Gugun dengan sopan.


"Kamu pengen berobat? Suamiku saat ini sedang tutup praktek. Pergi ke dukun lain saja, ya?" ucap Yenny. Melihat wajah Gugun yang semraut, dia meyakini jika kedatangan pria itu adalah untuk berobat mengatasi masalahnya.


Memang terkadang, ada juga pasien yang nekat datang ke rumah untuk melakukan pengobatan. Padahal Mbah Yahya sendiri sering menolaknya.


"Biarkan pria berkumis lele itu masuk, Mom!" Dari dalam, terdengar suara Mbah Yahya yang menyeru dengan lantang. "Daddy kenal dia."


"Oh. Silahkan masuk." Yenny tersenyum lalu melebarkan pintu. Gugun membalas senyumannya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore, Pak," sapa Gugun saat melihat Mbah Yahya tengah duduk di sofa ruang tamu sambil makan kacang.

__ADS_1


"Tumben kamu nyapa aku segala? Sok baik amat," sinis Mbah Yahya. Heran saja, biasanya kalau dia dan Gugun bertemu bagaikan seorang musuh.


...Jangan judes, Mbah, Om Gugun datang bawa kabar baik tuh 🤣...


__ADS_2