
Sebelumnya.....
Akibat gelisah memikirkan Sisil yang tak kunjung datang, Rama jadi merasa mulas diperutnya, seperti ingin buang air besar.
"Kamu mau ke mana?" tanya Mbah Yahya saat melihat anaknya itu berdiri. "Nggak usah susul si Sisil, dia sebentar lagi sampai."
"Aku mules, mau berak dulu, Dad." Rama menyentuh perutnya yang terasa melilit.
"Jangan berak, Ram!"
"Kenapa memangnya?" Kening Rama mengernyit.
"Masa pengantin berak, nggak ada wibawanya amat," cerocoh Mbah Yahya.
"Ya daripada nahan berak? Itu menyiksa. Udah ah, aku mau berak dulu. Udah diujung nih!" Rama langsung berlari pergi.
"Cebok yang bersih!" teriak Mbah Yahya, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Yenny. 'Dasar Rama jorok, aku dulu pas nikah sampai nahan berak seharian. Dia malah berak,' gerutunya dalam hati.
*
Sambil duduk berkonsentrasi di dalam toilet, Rama pun mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Tuti. Sebab dia sendiri tadi tak melihat keberadaan gadis itu.
15 menit setelah selesai, Rama langsung bersih-bersih. Dia mencuci tangan dengan sabun dan membasuh wajahnya.
Barulah setelah itu dia keluar sambil menyemprotkan parfum ke seluruh jas. Kemudian kakinya melangkah menuju kursi ijab kabul, sebab dari kejauhan dia sudah melihat ada Sisil di sana.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya Sisil sudah datang. Cantik sekali dia," gumam Rama. Jantungnya berdebar kencang dan bibirnya yang merah jambu itu langsung mengulum senyum.
"Nah! Ini dia pangerannya, baru keluar dari persembunyian," ucap Mbah Yahya yang mana membuat Sisil menoleh ke arah Rama.
Gadis itu sontak membulatkan matanya dengan kedua pipi yang tampak merona. Dia terkejut sekaligus terpesona dengan penampilan Rama yang begitu rapih dan sangat tampan. Selain itu, daya tarik dari diri Rama terletak pada air yang menempel pada dahinya. Sisil mengira itu adalah keringat, padahal nyatanya itu air bekas dia membasuh wajah.
"Kamu habis dari mana, sih? Sampai keringatan begitu?!" omel Yenny. Dia menarik beberapa lembar tissue di atas meja, lalu mengusap wajah Rama saat pria itu duduk di samping Sisil.
'Kok malah diusap, sih, keringatnya? Padahal biarkan saja,' batin Sisil. Apa yang dilakukan Yenny membuat hati kecilnya kecewa.
"Aku kencing sebentar tadi," jawab Rama, lalu menoleh ke arah Sisil dan membuat gadis itu menurunkan pandangan. "Kamu cantik banget, Sil," ucapnya pelan.
'Iyalah cantik, kan aku memang sudah cantik dari sananya,' batin Sisil.
"Sudah," jawab Rama sambil menganggukkan kepala. Perlahan dia mengambil sebuah kotak cincin di dalam saku jas, lalu menaruhnya di atas meja.
Di sana ada beberapa berkas pernikahannya. Buku nikah dan beberapa mahar.
Telapak tangan Sisil yang berkeringat saling mengenggam, jantungnya pun seketika berdebar kencang kala Pak Ustad tengah membacakan do'a.
Perasaannya campur aduk sekarang, antara senang dan sedih. Apalagi pagi-pagi sekali, Gugun sudah menelepon Arumi—mama mereka, untuk meminta do'a restu. Sayangnya dia tak menanggapinya.
'Sampai aku mau menikah pun, Mama susah sekali untuk dihubungi. Mama sepertinya memang nggak pernah sayang sama aku,' batin Sisil sedih.
Perlahan dia pun mengangkat wajahnya ke depan dan Rama sudah menjabat tangan Gugun yang terulur di atas meja, bersiap ingin ijab kabul.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya, Prisilla Adiguna binti Adiguna Zulkifli dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan rumah, dibayar tunai!" seru Rama dengan lantang.
Sontak, Sisil dan Gugun terbelalak. Keduanya terkejut sebab mendengar ada rumah yang dijadikan mas kawin. Padahal sebelumnya, rumah itu tidak jadi.
'Kok ada rumahnya segala?' batin Sisil heran.
"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Penghulu seraya menatap sekitar.
"Sah!!"
"Saaahh!!!" seru semua orang serempak.
"Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri," ucap Pak Penghulu, kemudian Pak Ustad kembali memanjatkan do'a dan semua orang ikut berdo'a.
'Alhamdulilah ya Allah, terima kasih. Akhirnya aku bisa menikah lagi. Semoga pernikahan ini menjadi pernikahan yang terakhir dan semoga Sisil bisa mencintaiku, seperti aku yang sudah mencintainya,' batin Rama. Dia menoleh sambil tersenyum menatap Sisil di sebelahnya. Akan tetapi keningnya seketika mengernyit kala melihat air mata yang baru saja mengalir membasahi pipi gadis itu. Ada tanya tanda besar di dalam otak Rama. 'Kenapa dia menangis? Apa Sisil nggak senang dengan pernikahan ini?'
'Ya Allah, semoga ini yang terbaik. Dan semoga saja aku bisa melupakan Kak Arya karena aku masih sangat mencintainya,' batin Sisil.
'Ya Allah, tolong berikan pernikahan yang sakinah mawadah dan warahmah untuk adikku, Sisil. Semoga dia dilimpahkan banyak kebahagiaan dari Rama dan mertuanya. Dan yang terakhir aku ingin dia membuka hatinya untuk Rama,' batin Gugun.
'Semoga ini pernikahan yang terakhir untuk Rama. Aku ingin dia bahagia dan memberikanku cucu laki-laki,' batin Mbah Yahya.
'Terima kasih ya Allah, karena sudah menghidupkan burung anakku. Walau awalnya memang salah, apa yang dilakukan Rama ... tapi mungkin ini memang jalan awalnya dimana burungnya bisa hidup,' batin Yenny, lalu menatap wajah anak dan menantunya sambil tersenyum manis. Dia tentu ikut bahagia. 'Rama pasti bahagia banget, apalagi Sisil. Dia sampai menangis sangking bahagianya. Eh, aku lupa minta tolong Evan untuk membelikan Rama obat kuat buat nanti malam. Jangan sampai nanti Rama kalah, pasti Sisil kepengen dibelai sampai perih.'
...Eh yang lagi makan rendang atau lagi bungkus lauk pakai plastik, tolong dong kalian ngasih do'a dulu sama pengantinnya 😆 jangan perut mulu yang dipikirin 🤣 yok do'anya yok!!...
__ADS_1