
Jakarta, Indonesia.
"Daddy kok pulang pagi?"
Pertanyaan dari Yenny berhasil menghentikan langkah kaki Mbah Yahya di ruang keluarga.
Pria berjenggot putih itu lantas menoleh ke arahnya. Sang istri duduk di sofa bersama Tuti, gadis itu bahkan semalam menginap demi menunggu Mbah Yahya pulang. Selian itu dia juga merasa takut jika Gugun akan mengejarnya lagi, kemudian berbuat lebih nekat seperti kemarin.
"Iya, Mom." Mbah Yahya mengangguk. "Daddy banyak banget pasien kemarin, mau langsung pulang tapi tanggung karena sudah jam 3. Jadi terpaksa tidur di sana," jelasnya.
Baru kemarin, sepulang dari hotel Mbah Yahya memutuskan untuk membuka prakteknya lagi.
Selain karena banyak pasien yang mendaftar sejak beberapa bulan yang lalu, misi untuk mendapatkan Rama jodoh juga sepertinya sudah berhasil. Jadi waktunya Mbah Yahya kembali menjalankan pekerjaannya yang menjadi seorang dukun serba bisa.
"Oh, tapi Daddy nggak selingkuh, kan?" tanya Yenny menatap penuh curiga.
"Mana mungkin Daddy selingkuh. Daddy mah nggak doyan serabi wanita lain, serabi Mommy yang paling enak." Dua jempol Mbah Yahya diangkat tinggi-tinggi.
"Eemmm ...." Yenny langsung merona, lalu menoleh ke arah Tuti yang baru saja berdiri. Gadis itu juga bersikap seperti orang yang tidak mendengar apa-apa. "Ini Tuti dari semalam nyariin Daddy, ada hal yang mau diomongin katanya."
"Ada apa?" Mbah Yahya melangkah menuju sofa di mana istrinya duduk. Kemudian perlahan duduk di sampingnya.
"Daddy mandi dulu saja deh, kayaknya belum mandi, ya?" Yenny memperhatikan wajah kusam sang suami. Selain itu, kedua sudut matanya tersimpan sebuah belek.
"Nanti saja, ayok ngobrol dulu." Mbah Yahya menunjuk sofa single, seolah meminta Tuti untuk duduk di sana. Gadis itu pun mengangguk dan langsung duduk.
"Saya mau Bapak menyantet Pak Gugun," ucap Tuti langsung to the poin.
Mbah Yahya sontak terbelalak. Akan tetapi keningnya terlihat mengernyit sebab merasa heran. "Kenapa kamu tiba-tiba mau menyantet Gugun? Apa salahnya?
"Saya sudah tiga kali ketemu sama dia, dan dia mencoba melecehkan saya, Pak," jelas Tuti memberitahu.
"Melecehkan?!" Mbah Yahya langsung memerhatikan tubuh Tuti dengan teliti. Gadis itu memakai stelan kaos panjang berwarna hitam, bergambar tengkorak.
Selain dari penampilan yang tidak menarik, tubuh Tuti juga terbilang kurus. Jauh dari kata menggoda dan rasanya aneh, jika Gugun sampai ingin melecehkannya.
"Masa sih, Tut? Ah jangan bohong kamu," tambah Mbah Yahya tak percaya. Dia sampai terkekeh dan menganggap apa yang gadis itu katakan hanyalah gurauan.
"Sumpah demi Allah, Pak. Saya nggak berbohong," ujar Tuti dengan sungguh-sungguh.
"Tuti jujur kok, Dad," balas Yenny. "Walaupun memang penampilannya seperti laki-laki ... tapi dia 'kan perempuan tulen." Yenny membantu meyakinkan, dia juga sama-sama perempuan. Pasti mengerti bagaimana perasaan gadis itu sekarang.
Mbah Yahya menghentikan tertawa jahatnya, kemudian menghembuskan napasnya dengan berat. "Coba ceritakan dulu, bagaimana awal mula kamu dan Gugun bertemu."
"Pertama pas dijalan, saya nggak sengaja masuk ke dalam mobil karena saat itu saya numpang ngumpet. Saya takut bertemu Kakak ipar saya, Pak," jelas Tuti.
"Kakak iparmu orang jahat?" tebak Mbah Yahya.
"Iya, dia juga salah satu orang yang jahat dan pernah ingin melecehkan saya." Bola mata Tuti seketika berkaca-kaca
"Oh, sebenarnya kamu ini asal orang mana sih, Tut? Kamu sudah lama bekerja sama Rama tapi aku nggak tau kamu orang mana."
__ADS_1
"Aku asli orang Karawang, Pak."
"Oh, orang tua kamu masih ada apa—"
"Daddy mulai deh!" tegur Yenny seraya menepuk paha kanan suaminya. "Fokus dulu kek sama apa yang ingin dibahas, jangan ngelantur ke mana-mana."
"Ah iya. Terus bagaimana lagi?" tanya Mbah Yahya. Kebiasaannya kalau ngobrol memang selalu keluar dari topik.
"Saya hanya numpang ngumpet sebentar, mungkin 5 menitan. Tapi pas saya lihat Pak Gugun, eh dia malah mau buka kancing kemejanya, Pak," jelas Tuti.
"Tiba-tiba buka kancing kemeja?" Mbah Yahya memastikan. Tuti mengangguk.
"Iya, ngapain coba buka kancing kalau dia nggak mau ngapain-ngapin? Pasti dia mau ngapain-ngapain saya, Pak."
"Terus pertemuan keduanya?" tanya Mbah Yahya.
"Saat Pak Rama dan Nona Sisil menikah. Dia menghampiri saya dengan berpura-pura baik, menawarkan jas. Tapi saya mengerti maksudnya, pasti dia ingin berkenalan, terus ingin melecehkan saya," jelas Tuti.
"Kalau pertemuan ketiganya?"
"Kemarin, Pak Rama meminta saya membelikan sepatu untuk Pak Gugun, lalu mengantarkannya langsung. Tapi saya sendiri pas lihat wajahnya ... baru tau kalau ternyata Pak Gugun itu orang yang berniat melecehkan saya, Pak. Kalau tau dia orang yang sama ... saya nggak mungkin mau mengantarkan sepatu," jelas Tuti lagi.
"Kamu diapakan pas kemarin itu? Apa si Gugun buka baju?"
"Dia menahan saya yang ingin pergi hingga merobek kemeja saya, Pak," ungkap Tuti dengan sedih. "Awalnya malah dia ingin menonjok saya, mungkin dia ingin membuat saya pingsan, supaya bisa memp*rkosa saya. Eh tapi saya tonjok duluan dia, sampai akhirnya dia merobek kemeja."
"Sadis bener si Gugun. Ampun deh." Mbah Yahya menepuk jidat lalu geleng-geleng kepala.
"Tapi kamu nggak berhasil dinodai sama Gugun, kan? Kalau dinodai mah mending minta tanggung jawab," saran Mbah Yahya.
"Amit-amit, Pak. Untungnya sih nggak dan jangan sampai deh." Tuti menggeleng cepat. "Saya juga nggak mau punya suami modelan Pak Gugun, selain itu dia bukan tipe saya."
"Kenapa bukan tipemu? Gugun gitu-gitu juga ganteng, ada manis-manisnya, Tut," ujar Yenny.
"Saya nggak suka pria berkumis."
"Kalau berjenggot bagaimana?" Mbah Yahya mengusap jenggot putihnya.
"Apa lagi, serem."
"Tapi yang ada kumisnya justru enak lho, Tut," balas Yenny.
"Enaknya gimana, Bu? Kan kumisnya nggak bisa dimakan?" tanya Tuti.
"Enaknya pas dicium. Geli-geli gimana gitu." Yenny terkikik.
"Ah nggak suka saya, Bu. Saya maunya yang bersih mukanya, kayak Pak Rama. Ganteng."
"Ya berarti kayak aku, Tut. Kan aku mirip Rama," sahut Mbah Yahya.
"Mana ada Bapak mirip, orang beda. Dari warna kulit saja jauh." Tuti melihat kaki Mbah Yahya. Selain hitam, kuku-kukunya juga tak kalah hitam dan terlihat kotor.
__ADS_1
"Maksudmu aku hitam gitu?"
"Saya nggak bilang." Tuti menggeleng cepat. "Sudah sekarang Bapak mulai praktek santetnya saja. Saya ada uang kok buat bayarnya."
"Mending lapor polisi saja, Tut. Jangan disantet. Nggak semua masalah bisa diatasi dengan cara seperti itu," saran Mbah Yahya.
Bukan hanya itu, dia juga memikirkan dampaknya. Pasti Sisil akan sedih kalau sampai Gugun diguna-guna. Nanti Rama juga akan ikut pusing dan kalau sampai pria itu tahu—semuanya dilakukan oleh Daddynya sendiri, bisa-bisa dia marah besar kepadanya.
"Katanya Bapak bisa mengatasi semua masalah Anda. Saya pernah lihat jargon itu pada plang di rumah praktek Bapak," ujar Tuti.
"Iya, sih. Ya sudah kalau begitu, nanti malam aku akan coba. Tapi kasih dulu foto Gugun padaku, biar ada perantaranya." Mbah Yahya menadahkan tangannya ke arah Tuti.
"Mana saya punya, Pak." Tuti mengedikkan bahunya.
"Pas foto pengantin, Gugun ikut foto nggak, Mom?" tanya Mbah Yahya seraya menoleh ke arah istrinya.
"Mommy nggak tau." Yenny menggeleng. "Nanti Mommy tanya dulu sama tukang cetak foto, sekalian nanyain foto pengantin sudah jadi belum." Yenny meraih ponselnya yang berada di atas meja, lalu menghubungi salah satu WO yang mengurus foto.
***
Seoul, Korea Selatan
"Lho, Dek, ngapain kamu?" tanya Rama. Ternyata bukan hanya miliknya saja yang terbangun, tapi yang punyanya juga.
Tentunya apa yang Sisil lakukan membuat birahi pria itu memuncak, apalagi dia menahannya sejak kemarin.
Sisil sontak terkejut, dia langsung menarik kembali kedua tangannya lalu memasukkan ke dalam selimut.
"Kamu kepengen, ya?" tebak Rama. Perlahan tangan kanannya membelai lembut pipi yang sudah terlihat merona itu.
"Kepengen apa? Enggak!" bantahnya sambil menggelengkan kepala. Sisil langsung berbalik dan membelakangi Rama.
"Suka malu-malu kamu, ya? Tapi ternyata nakal," kekeh Rama. Dia mendekap tubuh kecil itu dari belakang, lalu meniup telinga dan tengkuk Sisil hingga membuat gadis itu menggeliat. Tubuhnya pun seketika meremang.
"Ih Om ngapain, sih?! Aku hanya kedinginan saja kok!" Sisil menggeser tubuhnya, lalu menarik tangan yang melingkari perut.
"Nggak usah pura-pura ah, Dek. Udah masuk mah kamu pasti mendesaah dan bilang enak." Rama menarik lengan Sisil hingga membuatnya terlentang. Perlahan dia pun naik ke atas tubuhnya.
"Om mau ngapain?! Aku nggak mau .... Eeemmpptt!" Ucapan Sisil terhenti sebab bibirnya sudah berhasil Rama lummat. Pria itu juga langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya, kemudian meraih kancing kemeja dan melepaskannya satu persatuan.
Sisil mendorong-dorong dada bidang sang suami, demi melepaskan diri. Akan tetapi bukannya terlepas, Rama justru sekarang sudah meremmas kedua dadanya.
Rama menyesap penuh bibir itu, lalu menjulurkan lidahnya. Semakin dalam dia menciuminya.
"Eeuugh!" Sisil melenguh kala Rama tengah meremmat puncak dada. Kemudian tangan kanannya menyusup masuk ke dalam celana katun yang Sisil kenalan.
Dalam sekejap, tangan kekar Rama sudah membelai sangkar yang terasa lembab itu. Kedua paha Sisil dia buka dengan lebar lalu menekankan jari tengahnya ke dalam sana.
"Eemmm!" gumam Sisil dengan mata melotot. Tubuhnya sontak menggel*njang seperti orang kesetrum kala Rama sudah memaju mundurkan tangannya di dalam sana.
'Aku nggak mau bercinta lagi. Tapi ini terlalu enak, padahal baru jarinya, belum miliknya. Bagaimana ini?' batin Sisil dilema.
__ADS_1
...Kalau udah begini sih mending pasrah aja, Sil 🤣...