Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
138. Nggak perlu mandi juga kamu sudah cantik


__ADS_3

Terlihat kasar sekali, bukan? Tapi memang begitulah Mbah Yahya. Tangannya gampang sekali untuk menyakiti seseorang jika dia melihat orang tersebut menyakiti keluarganya. Dan Sisil, tentu sudah masuk menjadi keluarganya.


"Astaghfirullah Pak Yahya!" Evan yang baru saja turun dari mobil langsung menyeru, ketika baru saja melihat sopir taksi itu tersungkur di tanah. Dia jatuh pingsan karena tonjokkan maut bosnya. "Kenapa Bapak main pukul begitu? Dia jadi pingsan, Pak," tambahnya dengan langkah yang mendekat.


"Nggak perlu kamu urusin dia, dia nggak penting, Van!" sahut Mbah Yahya mengomel, lalu mengendong tubuh menantunya. "Lebih baik kita cepat ke rumah sakit, aku takut Sisil kenapa-kenapa," tambah yang bergegas masuk ke dalam mobil.


Evan tadinya berniat ingin menyelamatkan sopir taksi itu. Tapi berhubung mendengar perintah, jadilah dia langsung masuk ke dalam mobil. Ikut menyusul dan mengemudi.


Alasan mereka bisa bertemu Sisil adalah dari sebuah ketidaksengajaan.


Awalnya mereka dua manusia yang tidak puasa itu berinisiatif ingin makan bakso, dan Mbah Yahya duluan yang mengajak. Sekalian juga, mencari es cendol dari pagi yang belum berhasil dia temukan.


Baksosudah berhasil mereka dapatkan. Bahkan sudah makan di tempatnya. Hanya saja—es cendolnya yang masih belum berhasil.


"Telepon Rama, Van, bilang padanya kalau Sisil pingsan," perintah Mbah Yahya dari kursi belakang, tangan besarnya itu merangkul pundak Sisil dan menyandarkan kepala sang menantu pada dadanya.


"Bapak saja deh yang menelepon, saya sedang menyetir dan buru-buru. Takutnya nggak konsen."


"Ah kau ini! Orang nyuruh malah nyuruh balik!" gerutunya marah. Segera Mbah Yahya merogoh kantong celana jeansnya untuk mengambil ponsel.


Namun saat dirinya hendak melakukan panggilan, ponsel Sisil yang berada di dalam tas ransel yang gadis itu pakai tiba-tiba berdering. Merasa penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil ponsel milik Sisil dulu. Dan ternyata kebetulan sekali, Rama lah yang menelepon.


"Halo, assalamualaikum, Dek. Kamu selesai kuliahnya jam berapa? Biar aku jemput, ya?" ucap Rama dari seberang sana.


"Ram, ini Daddy. Nanti kamu datang ke Rumah Sakit Harapan, ya!" pinta Mbah Yahya.


"Rumah sakit?" Rama terdengar kaget sambil mengulang kata itu. "Siapa yang sakit dan kenapa hape Sisil ada sama Daddy?"


"Sisil pingsan, Daddy nggak sengaja ketemu dengannya di jalan. Jadi Daddy berinsiatif membawanya ke rumah sakit," jelas Mbah Yahya, lalu memerhatikan wajah menantunya yang terlihat pucat.


"Astaghfirullah! Serius, Dad??" Suara Rama terdengar begitu nyaring. "Tapi kenapa Sisil bisa pingsan? Gimana ceritanya?"


"Nanti saja kalau kamu sampai rumah sakit, baru Daddy cerita. Wajah Sisil juga terlihat pucat, Ram."


"Ya Allah kasihan sekali istriku, Dad. Aku akan menyusul ke sana," kata Rama kemudian menutup panggilan.

__ADS_1


Mbah Yahya pun langsung menjauhkan ponselnya dari pipi. Kemudian dia mengganti nama Om Rama pada ponsel Sisil, dengan nama 'Aa Sayang'


"Nah, begini baru bagus," gumam Mbah Yahya sambil tersenyum menatap layar pipih itu.


***


Sementara itu di tempat berbeda.


Tepat jam 3 sore, Gugun tiba di apartemen Tuti dengan menggunakan mobilnya. Dia lantas turun sambil memegang sebuah buket bunga mawar berukuran sedang, yang sempat dibeli tadi saat perjalanan menuju ke sini.


Gugun terlihat sudah mandi sore. Selain wajahnya tampak begitu fresh dan tampan, dia juga wangi, serta tak lupa dengan mengganti pakaiannya.


Bukan dengan memakai stelan jas lain, tapi dengan model pakaian lain. Yakni celana jeans berwarna hitam, jaket kulit berwarna hitam, kaos putih dan sepatu tali berwarna putih.



Kedatangannya di sini karena ingin mengajak Tuti ngabuburit. Sebetulnya janjian mereka jam 4 atau jam 5, tapi berhubung ponsel Gugun mendadak hilang entah ke mana sejak pagi—jadilah dia berinisiatif mengajaknya sekarang.


Selain itu, Gugun juga bekerja dengan tidak tenang hari ini. Pikirannya tidak pokus, karena terus melihat jam. Dia ingin buru-buru sore. Bukan karena ingin cepat buka puasa, tapi karena ingin cepat ketemu Tuti.


"Eh, Pak!" panggil Gugun dengan tangan yang melambai, ketika baru saja melihat pria berseragam hitam keluar dari pos satpam. Memang kalau bukan orang yang tinggal di sana, pasti tidak boleh sembarang asal masuk. Itu sebabnya gerbang tersebut selalu tertutup.


"Ada apa, ya, Pak? Bapak cari siapa?" tanya sang satpam yang melangkah mendekat.


"Apa Nona Tuti ada di apartemennya? Aku ingin menemuinya, Pak?"


"Nona Astuti, yang Bapak maksud?" Satpam itu berbalik tanya dengan memperjelas.


"Iya."


"Belum pulang dari kantor dia, Pak, kalau jam segini." Satpam itu menatap tangannya. "Biasanya jam 4 atau 5," tambahnya kemudian.


"Oh, ternyata Nona Tuti kerja di kantor ya, Pak."


"Betul, Pak." Satpam itu mengangguk.

__ADS_1


"Udah cantik ... baik, pinter lagi. Banyak banget kelebihannya dia itu," puji Gugun sambil tersenyum membayangkan wajah Tuti yang juga tersenyum kepadanya. Jantung pun seketika berdebar kencang, rasanya dia seperti sedang jatuh cinta. Sebab hanya membayangkan saja hatinya sudah senang.


"Iya, Nona Tuti memang terlihat sempurna saat sudah berhijab, Pak," jawab sang satpam, kemudian kembali berkata, "Sekarang lebih baik Bapak pulang saja, nanti ke sini lagi pas dia sudah pulang dari kantor."


"Aku mau nungguin dia saja deh, Pak, sampai pulang di sini."


"Tapi mobil Bapak nggak boleh masuk, soalnya Nona Tuti 'kan belum pulang. Saya nggak bisa membuka gerbangnya sembarangan."


"Nggak masalah, aku tunggu di dalam mobil, Pak." Gugun tersenyum, kemudian melangkah menuju mobil.


Baru saja dia hendak masuk, tiba-tiba seorang gadis turun dari mobil taksi lalu memanggil namanya.


"Mas Gugun kok ada di sini?" tanyanya yang mana membuat Gugun langsung menoleh.


"Nona Tuti," lirihnya dan jantungnya kian berdebar saja sekarang.


"Mas kok ada di sini? Bukannya kita janjiannya jam 4 atau jam 5, ya?" tanya Tuti heran.


Beberapa detik berlalu, tapi Gugun tak kunjung menjawab apa yang ditanyakannya. Malah terlihat, sejak tadi dia terus terbengong memandangi wajah.


Segera, Tuti mendekat, lalu menepuk pelan pundak kiri Gugun. "Mas!"


"Ah ya?" Gugun tersentak dan membuyarkan isi di dalam otaknya. "Nona sangat cantik sekali."


Wajah Tuti seketika bersemu merah. "Kenapa Mas tiba-tiba memujiku? Aku 'kan tadi tanya."


"Karena kamu memang cantik. Eemm ... memangnya kamu tanya, apa, Nona? Dan ini untukmu." Gugun menyerahkan buket bunga di tangannya dan gadis itu pun segera mengambilnya.


"Terima kasih, Mas. Tapi aku tanya kenapa Mas ada di sini? Kan kita ngabuburitnya jam 4 atau jam 5."


"Nggak sabar akunya, pengen cepat ketemu kamu. Bagaimana kalau kita jalan sekarang saja, ya?" pinta Gugun sambil membuka telapak tangannya, seolah meminta gadis itu menggenggamnya dan ikut bersamanya.


"Tapi aku belum mandi, Mas, aku mandi dulu sebentar apa boleh?"


"Nggak perlu mandi juga kamu sudah cantik, Nona, jadi buat apa mandi?" tanya Gugun. "Langsung berangkat saja, yuk!" ajaknya sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


...Gombalnya bisa aja 🤣...


__ADS_2