Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
166. Bisa-bisa dia meruqiah


__ADS_3

Sepeninggalan Sisil, Yenny pun datang bersama seorang suster yang mendorong meja troli berisi makanan. Kemudian disusul Gugun yang datang membawa obat.


"Ayok buru, Dek! Udah nggak kuat aku!" ucap Rama yang mengira yang datang adalah Sisil.


"Nggak kuat kenapa, Ram? Ini Mommy," sahut Yenny kemudian duduk di kursi kecil. "Mommy datang sama suster yang membawa makanan untukmu. Ayok makan dulu, biar Mommy suapi." Lantas dia langsung meraih mangkuk bubur.


"Ini Kak Gugun, Ram." Gugun mendekat, lalu mengusap bahu kanan adik iparnya dan menaruh plastik putih di atas nakas. "Kakak habis ambil obat. Kamu makan dulu, biar nanti langsung minum obat, ya!"


"Kak!" Rama langsung memegang tangan Gugun, sambil meringis menahan perutnya.


"Kenapa kamu, Ram? Sakit perut?" tanyanya cemas. Yenny bahkan sudah berdiri dan hendak berlari, berniat memanggil dokter lagi.


"Kebelet kencing aku, Kak! Antar aku cepat ke kamar mandi ... sebelum aku ngompol!" pintanya dengan keringat panas dingin. Jika menunggu Sisil, rasanya lama sekali. Sudah diujung tanduk masalahnya.


"Oh ... ayok!" Gugun langsung meraih tangan Rama dan meletakkan ke atas pundaknya.


Sedangkan Yenny sudah membantu pria itu untuk beranjak dari kasur sambil memegangi selang. Tak lupa melilitkan sebuah selimut juga di pinggangnya, supaya pria itu tak terlalu terlihat seksi.


"Pelan-pelan, Ram. Pusing nggak kepalamu?" tanya Yenny.


"Enggak, Mom." Rama menggeleng.


*


Ceklek~


Beberapa menit kemudian Sisil pun masuk dengan tergesa-gesa sambil mendorong kursi roda.


Namun, langkah kakinya seketika terhenti kala melihat sang suami sudah memakai kembali pakaiannya. Juga saat ini tengah duduk selonjoran sembari mengunyah bubur yang Yenny berikan.


"Kamu habis dari mana, Nak? Kok bawa kursi roda?" tanya Yenny menatap heran menantunya.


Bukannya menjawab, Sisil justru masih fokus menatap Rama yang terlihat segar seperti habis cuci muka.


"Lho, kok Aa udah pakai baju? Kan kubilang biarkan saja. Nggak usah dipakai. Dan ayok ... katanya mau pipis. Aku antar, A." Sisil pun lantas melanjutkan langkahnya sampai mendekati Rama, lalu meraih tangannya.


"Aku udah pipis tadi, Dek."

__ADS_1


"Kok udah pipis? Kan aku baru bawa kursi roda, A." Raut wajah Sisil seketika kecewa. Jelas, padahal dia ingin sekali melihat asetnya Rama.


"Nggak kuat aku tadi, Dek. Rasanya udah diujung. Untung ada Kak Gugun, jadi aku minta tolong padanya."


"Jadi sia-sia dong ... aku bawa kursi roda? Mana carinya susah lagi." Sisil merengut kesal menatap kursi roda. Dia pun terduduk dengan lesu di atas ranjangnya Rama.


"Maafin aku ya, Dek."


'Ah ini semua gara-gara Kakak. Padahal biarin saja kalau Aa ngompol. Malah lebih bagus, biar nanti sekalian kubantu dia mengganti pakaian,' batin Sisil yang jadi kesal kepada Gugun, dia juga menatap sang Kakak yang kini berjalan keluar kamar.


"Udah mending kamu sarapan saja, Nak," usul Yenny mencairkan suasana. Lalu mengelus pipi kanan menantunya. "Mommy suapi, ya? Katanya kamu kepengen makan bareng sama Rama."


"Memang Sisil belum makan, Mom?" tanya Rama.


"Belum, Ram. Dia bilang kepengen makan bareng sama kamu."


"Ya udah makan, Dek, bareng sama aku," ajak Rama.


"Aku maunya makan bubur yang sama dengan bubur yang Aa makan, Mom." Sisil menunjuk mangkuk bubur di tangan Yenny. "Boleh, kan?"


"Boleh dong." Yenny tersenyum, kemudian menyendokkan bubur untuk menantunya. Dan perempuan itu pun langsung melahapnya dengan senang hati. "Makan semangkuk berdua memang yang paling enak, kan?"


"Sama-sama."


***


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Evan pun akhirnya berhenti di sebuah masjid yang tertutup gerbang besi. Ukuran masjid itu terbilang sedang, namun tampak begitu indah dan bersih.


"Serius, Pak, ini masjidnya?" tanya Evan memastikan, lalu memutar kepala ke belakang untuk menatap Mbah Yahya.


"Iya. Ayok turun, Van," ajak Mbah Yahya kemudian membuka pintu mobil.


"Tunggu dulu, Pak!" cegah Evan.


"Kenapa?" Mbah Yahya baru saja mengeluarkan kakinya, tapi langsung terhenti.


"Bapak saja sendiri yang turun, ya! Saya tunggu dimobil."

__ADS_1


"Lho, kenapa gitu, Van? Aku tadinya sekalian mau minta tolong kamu buat bantu cariin laki-laki yang memakai jam tangan inisial huruf Y. Karena aku yakin ... dia yang akan menemukan cincinku. Kalau nyari berdua 'kan cepat ketemu."


"Iya, Pak. Tapi maaf banget ... masalahnya saya takut."


"Takut?" Kening Mbah Yahya seketika mengerenyit. Dia tampak tak paham dengan maksud Evan. "Takut kenapa?"


"Takut ketemu Abang saya, Pak."


"Di mana Abangmu?" Mbah Yahya menatap sekeliling, mencari-cari seseorang yang bisa jadi adalah Abangnya Evan. Sebab dia sendiri tidak tahu yang mana orangnya.


"Dia kerja di masjid itu masalahnya. Jadi saya takut ketemu."


"Kenapa memangnya, sih? Ketemu ya tinggal ketemu. Apa masalahnya? Nggak jelas banget kamu, Van." Mbah Yahya mendengkus, kemudian turun lebih dulu dari mobil. Sedangkan Evan masih ada di dalam sana. Hanya saja kaca jendelanya dia turunkan supaya bisa menatap sang bos.


"Abang saya itu seorang Ustad, Pak. Bisa-bisa dia meruqiah saya kalau tau saya jadi asisten dukun. Soalnya selama saya kerja dengan Bapak, baik dia atau keluarga saya ... nggak ada satu pun yang tau."


"Baru tau aku selama ini, ternyata Abangmu seorang Ustad. Tapi kok bisa kamu sesat, Van?"


"Saya sesat 'kan karena ikut Bapak. Bapak jangan bilang kayak gitu. Nanti yang ada saya tobat dan ninggalin Bapak. Memang Bapak mau ... saya berhenti kerja dengan Bapak?"


"Enggak sih. Ya sudah deh ... biar aku sendiri yang mencarinya. Kamu tunggu di sini." Akhirnya Mbah Yahya yang mengalah. Karena ini juga untuk kebaikan bersama. Mencari seorang asisten yang patuh dan sehati dengannya tentu tidaklah mudah, apalagi Mbah Yahya ada niat untuk mewarisi ilmunya kepada Evan. Jadi jangan sampai pria itu berhenti kerja dengannya.


"Bapak cari siapa?" Seorang pria tua berpeci hitam menyapa Mbah Yahya, saat pria berjenggot putih itu masuk ke dalam gerbang tanpa mengucapkan salam.


"Eh! Maaf, Pak." Mbah Yahya terjingkat dan langsung mundur beberapa langkah, sebab terlalu dekat dengan masjid membuat tubuhnya mendadak panas. "Ini ... saya mencari cincin saya yang hilang." Dia pun mengulas senyum, lalu memegang jari manisnya yang kosong tanpa cincin. Dia juga memerhatikan kedua tangan pria di depannya, tapi ternyata dia tak memakai jam tangan.


"Seperti apa memangnya cincin Bapak? Dan hilangnya kapan?"


"Hilangnya udah cukup lama, Pak. Tapi saya yakin jatuhnya di sini. Ciri-cirinya itu cincin batu akik, Pak. Warnanya merah terang," jelas Mbah Yahya memberitahu.


"Ada apa Ustad?" tanya seorang pria yang baru saja keluar dari masjid lalu memakai alas sendal. Dia pun berjalan menghampiri Mbah Yahya dan pria berpeci hitam itu sambil tersenyum.


"Ini, Ustad ... Bapak ini cari cincin batu akik. Katanya hilang," ucapnya memberitahu.


"Ustad?!" Kening Mbah Yahya mengerenyit. Ternyata dia berada di antara dua Ustad. Lantas dia pun menatap pria yang baru menghampirinya, seraya memandangi wajahnya yang tampan. 'Dia seperti pria yang ada di dalam penerawanganku. Tapi ....' Mbah Yahya membatin, lalu sorotan matanya terjatuh pada kedua pergelangan tangan pria itu. Nihil! Ternyata dia tak memakai jam tangan.


"Sebentar ... sepertinya beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah cincin, Pak." Pria itu berujar demikian, kemudian melangkah masuk kembali ke dalam masjid.

__ADS_1


Bola mata Mbah Yahya seketika berbinar bahagia, mendengar apa yang dikatakan pria tadi. 'Semoga saja benar, pria tadi yang menemukan cincinku. Aku sudah nggak sabar banget ... ingin menerawang pelaku yang menyebab Rama kecelakaan. Akan kubuat dia menderita seumur hidupnya ... karena dengan berani mencelakai anak Mbah Dukun!' batinnya mengerang, sampai-sampai kedua tangannya tampak mengepal kuat.


^^^Bersambung.....^^^


__ADS_2