
"Dek! Jangan lari-lari!" tegur Rama. Dia langsung berlari mengejar, khawatir kalau gadis itu terpleset lalu jatuh.
Ceklek~
Pintu villa itu dibuka oleh Sisil. Dan ternyata benar dugaannya, Fujilah yang datang.
"Ah ... selamat pagi, Sil, Rama." Fuji menyapa mereka berdua, tapi hanya Rama yang dia lihat.
Pria itu tersenyum, bibirnya sudah menganga ingin membalas sapaan. Akan tetapi kalah cepat oleh Sisil yang tiba-tiba menyeru.
"Mau apa?!" Suara Sisil terdengar begitu ketus namun agak nyaring.
Rama perlahan mendekat, akan tetapi Sisil cepat-cepat meraih lengan kanannya dan mengempitnya pada ketiak. Seolah melarang jika pria itu jauh-jauh darinya.
"Aku bawakan jus tauge untuk kamu dan Rama, Sil. Ini bagus sekali untuk kesuburan, biar kalian cepat punya anak." Fuji mengulurkan tangannya memberikan kantong plastik putih yang berisi jus yang dia maksud.
Namun kali ini, Sisil menerimanya. Tapi meski begitu, wajahnya tak dapat berbohong sebab terlihat jelas jika dia seperti tidak suka dengan kehadiran wanita di depannya
"Terima kasih. Aku sama Om Rama juga sekalian mau pamit, kalau kami mau pergi dari villa ini," ucapnya memberitahu. Kemudian menarik Rama untuk melangkah.
"Pergi?" Kening Fuji tampak mengernyit. Dia langsung melangkah mengejar mereka yang hendak menaiki anak tangga. Tangan Rama terus ditarik-tarik oleh Sisil. "Tunggu dulu Sil, Ram!" cegahnya. Kemudian mencekal lengan Rama.
Sisil yang melihatnya langsung menepis. Tentu hal tersebut mengundang emosi dan kegaduhan di dalam hatinya. "Nggak usah pegang-pegang Om Rama bisa nggak, sih?! Kok gatel banget jadi cewek!" berangnya marah. Matanya agak melotot ke arah Fuji.
__ADS_1
"Dih, siapa yang gatal?! Aku nggak gatal, Sil!" tampik Fuji tak terima.
"Kalau nggak gatal terus apa? Dan sekarang mau apa pakai nahan-nahan segala?! Mbak 'kan tahu ... Om Rama itu sudah punya istri. Kok begitu, sih, sikap Embak? Kita 'kan sama-sama perempuan!" geram Sisil penuh emosi.
"Kamu ini apaan sih, Sil. Kayak anak kecil tahu nggak!" berang Fuji. Dia jadinya ikut-ikutan marah. Dan sejujurnya, sejak kemarin dia menyimpan rasa seba kepada Sisil. Akan tetapi dia masih mencoba bersikap biasa saja karena menghargai Rama. "Siapa juga yang mau nahan?! Aku hanya ingin tanya kenapa kalian ingin pindah dari sini? Apa mau pulang ke Indonesia?" tanyanya penasaran. Tak ikhlas rasanya jika Rama pergi.
"Mau kami pulang kek, mau nggak kek, itu 'kan urusan kami, Mbak! Mbak nggak berhak tanya apa pun itu!" tegas Sisil, dadanya terlihat naik turun.
Dari awal bertemu dan memperhatikan cara bagaimana Fuji menatap Rama, Sisil dapat menangkap sinyal kalau wanita itu pasti menyukai suaminya.
Selain itu, rasanya sangat tidak etis sekali jika dia terus datang ke villa ini. Padahal sudah jelas disewakan dan pastinya dia juga tahu, alasan Rama menyewa adalah untuk honeymoon.
Pasangan suami istri yang tengah berbulan madu tak sepantasnya diganggu, meskipun hanya sekedar mengirim makanan. Kalau memang niat memberi, bisa lewat kurir pengantar, tak perlu ada basa-basi sampai bertamu segala.
Ditambah Sisil benar-benar anti dengan perselingkuhan. Menurutnya, itu adalah kasta paling atas kesalahan sebuah hubungan yang tidak bisa termaafkan.
Fuji mengerang dalam hati dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Tubuhnya membeku di tempat, tapi matanya terus menyalang ke arah Sisil dan Rama yang sudah berlalu dari hadapannya. 'Songgong banget si Sisil! Baru jadi istri Rama belum lama saja sudah belagu! Padahal ... ada banyak yang musti aku ceritakan sama Rama. Aku kangen ngobrol berdua dengannya.'
"Om sudah bayar sewa villa ini belum?!" tanya Sisil yang tengah memakai koas kaki dan sepatu di sofa kamar. Rama yang berada di sebelahnya juga tengah melakukan hal yang sama.
"Sudah, Dek," jawab Rama.
"Bagus kalau begitu. Sekarang pesan taksi online, Om. Supaya pas kita pergi dari sini ... kita nggak capek-capek nyari taksi," sarannya.
__ADS_1
Sisil benar-benar sudah risih dengan kehadiran Fuji. Dia ingin wanita itu benar-benar lenyap di kehidupannya dan kehidupan Rama.
"Iya," jawab Rama lalu mengetik-ngetik ponselnya.
*
*
"Sudah siap belum, Dek?" Rama yang sudah bersiap duluan lantas berdiri, kemudian meraih koper.
"Sudah, Om." Sisil mengangguk. Dia lantas berdiri dan menggandeng tangan kanan Rama lalu keluar dari kamar. Pria itu juga sudah mendorong koper.
Keduanya melangkah turun bersama-sama dari anak tangga. Akan tetapi, setelah di lantai bawah keduanya seketika menghentikan langkah. Sebab mendapati Fuji tengah berbaring tak sadarkan diri di lantai.
"Astaga Fuji!" Rama sontak terkejut dengan mata yang membelalak. "Kenapa kamu ...." Dia yang hendak membungkuk demi bisa meraih tubuh Fuji langsung dicegah oleh Sisil. Gadis itu menahan tangan kanannya.
"Om mau apa?" tanya Sisil kesal. Jemarinya meremmas lengan kekar sang suami.
"Mau gendong dia, Dek."
"Enak saja gendong-gendong! Janganlah!" berang Sisil tak terima.
...Lha pe'a banget si Om 🤣 udah tau bininya turunan banteng, malah segala mau gendong cewek lain 😆...
__ADS_1