
"Hush! Jangan ngomong kayak gitu!" tegur Rama. Dia mengecup pipi kiri Sisil dengan singkat tapi gadis itu langsung mengusapnya. "Siapa yang nggak setia? Aku setia kok."
"Kalau setia, kenapa Om genit sama perempuan lain? Mana dua perempuan lagi!" omel Sisil dengan kedua tangan yang meremmas seprei. Dia masih berusaha menutupi tubuh polosnya.
"Dua perempuan?!" Kening Rama mengernyit heran. "Dua perempuan yang mana?"
"Yang tadi meluk Om sama yang tadi siang salaman itu."
"Tadi siang yang salaman itu yang mana?" tanya Rama. Mau diingat-ingat pun rasanya bingung, sebab hari ini banyak sekali tamu wanita yang bersalaman dengannya dengan tujuan untuk mengucapkan kata selamat.
"Yang pakai dress brokat warna putih, modelnya sabrina!" seru Sisil memberitahu.
"Perasaan ... banyak yang pakai dress brokat model sabrina deh, Dek. Yang mana, sih? bagaimana ciri-cirinya?" Rama garuk-garuk kepala. Mendadak dia terasa pusing, apalagi ditambah dia tengah menahan birahinya yang masih menggebu.
Rama masih berusaha untuk menahan diri meskipun sejujurnya sangat tersiksa. Akan tetapi, dia juga tak mungkin memaksa Sisil yang tengah marah seperti itu. Baru akan memulai pemanasan saja sudah ditolak, apa lagi kalau langsung masuk?
Pasti Sisil akan memberontak dan lagian—Rama sangat tidak mau jika dirinya berhasil mendapatkan haknya dari jalur memaksa. Sebab yang dia mau bukan hanya Rama saja yang menikmati, tapi Sisil juga.
"Ck!" Sisil berdecak sebal mendengar jawaban Rama yang tidak memuaskan. Pikiran negatifnya makin menjadi-jadi. "Belum sehari padahal, tapi sudah lupa. Kayaknya sih pura-pura lupa."
"Bukan lupa, tapi banyak wanita yang salaman sama aku, jadi aku nggak tahu yang mana yang kamu maksud, Dek," jelas Rama.
"Oh, ternyata banyak, ya? Aku kira hanya dua. Dasar ganjen! Om sama saja seperti mantan Om itu! Ganjen!" geram Sisil. Dia menatap tajam Rama penuh amarah. Jika bisa Rama dia makan, mungkin sudah Sisil lakukan sejak tadi.
"Masya Allah nggak, Dek. Aku nggak ganjen atau mata keranjang. Kamu salah paham itu," jelas Rama dengan lembut. Dia mengelus rambut kepala Sisil meskipun gadis itu masih mencoba menghindar. "Dan siapa mantan yang kamu maksud? Perasaan nggak ada mantanku yang datang dan nggak kuundang juga."
"Tuh 'kan alesan lagi. Padahal baru tadi kalian pelukan, tapi lagi-lagi Om berpura-pura! Om memang nyebelin!" Sisil beringsut hingga tubuhnya berbaring, lalu membelakangi Rama.
"Oh wanita itu, dia bukan mantanku, Dek. Namanya Gisel."
"Aku nggak tanya namanya!" ketus Sisil.
"Tapi aku jujur, dia bukan mantanku. Kami hanya sebatas kenal doang."
"Hanya kenal kok sampai meluk dan ngomong cinta segala? Bohong banget."
__ADS_1
"Dia memang dari dulu suka sama aku. Mangkanya kayak gitu," jelas Rama. Dia naik ke atas kasur, lalu berbaring di samping Sisil dengan menjaga jarak. Punggung putih sang istri terekspos jelas dan membuat Rama menelan saliva.
"Kenapa nggak Om nikahin dia?"
"Nggak suka aku sama dia," jawab Rama.
"Kenapa nggak suka? Dia 'kan cantik." Sisil masih merengut kesal. Akan tetapi mendadak dia merasakan tubuhnya panas dan meremang tak karuan.
"Masih cantikan kamu, Dek," sahut Rama. "Ya sudah begini saja, biar masalah ini nggak panjang ... aku mau minta maaf sama kamu. Maafin aku, ya? Kalau dari pagi buat kamu kesal." Rama mendekat, lengan kanannya terulur lalu meraih tangan Sisil yang terasa hangat. "Kamu mau maafin aku, nggak nih?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung Om mengulanginya lagi atau nggak, kalau seperti itu aku nggak mau maafin."
"Aku nggak akan mengulanginya lagi, Dek, aku janji." Rama mengenggam tangan Sisil dengan lembut.
"Awas, ya, kalau bohong. Aku akan laporkan Om ke Kakakku, biar Om dihajar Kakak!" ancam Sisil.
"Mulai apanya?" Sisil membalik tubuhnya. Sontak dia terbelalak kala dirinya dan Rama begitu dekat. Perlahan tubuhnya dia geser mundur, supaya ada jarak di antara mereka.
"Mulai bercinta dong, tapi kita pemanasan dulu biar kamunya nggak kaget kayak tadi." Rama mengelus pipi Sisil yang tampak merona. Dada bidang pria terbuka sedikit akibat kerah handuk yang melorot, dan entah mengapa Sisil menjadi resah saat melihatnya. Susah payah dia menelan saliva.
"Aku nggak mau bercinta sama Om." Sisil menepis tangan Rama yang sejak tadi mengelus pipinya.
"Lho kenapa? Dosa lho, Dek, kalau nolak. Itu 'kan kewajiban istri."
"Aku tau. Tapi aku belum siap, aku juga takut." Sisil menatap ke arah lain, lebih tepatnya ke langit-langit kamar.
"Belum siap dan takutnya kenapa?"
"Ya intinya aku nggak bisa kalau malam ini, aku juga cepek banget. Kepengen istirahat, Om."
Rama perlahan memijat dahinya. Kepala atas dan bawahnya sama-sama sakit. Pelan-pelan pun mengatur napasnya, lalu mengusap dada. Berusaha untuk bersabar. "Padahal aku sudah minum obat kuat tau, Dek. Masa kamu tega, sih, sama aku?"
__ADS_1
"Obat kuat untuk apa, sih?"
"Supaya kuat bercinta. Supaya kamu puas, aku puas dan kamu juga bisa mengingat percintaan kita dimobil. Enak banget tahu rasanya."
Tanpa sepengetahuan Rama, Sisil mulai meraba miliknya sendiri dengan tangan dari dalam selimut. Entah mengapa birahinya menjadi menggebu, apa karena pembahasan Rama atau justru efek obat perangsang?
Ya, susu coklat hangat yang Sisil konsumsi sudah tercampur dengan obat dari Mbah Yahya. Bisa jadi efeknya sudah muncul jika benar obat itu mujarab.
'Aku kenapa, sih? Tapi kok dielus-elus begini enak, ya?' batin Sisil heran.
"Ah ya sudah deh kalau kamu nggak mau mah, aku nggak akan maksa, Dek," ucap Rama dengan wajah kecewa. Perlahan dia menarik tubuhnya untuk berdiri, kemudian turun dari kasur.
"Om mau ke mana?" tanya Sisil pelan sambil mengatur napas, tangannya masih sibuk mengelus di bawah sana dan melebarkan kedua paha.
Rama tengah membuka lemari, lalu mengambil setelan kaos pendek berwarna merah maroon dan pria itu tiba-tiba melepaskan handuknya begitu saja.
Punggung putih dan bokong putihnya itu sontak membuat Sisil terkejut, dia segera menutup kedua matanya dengan masih sibuk sendiri.
"Aku nggak ke mana-mana, cuma mau pakai baju," jawab Rama lalu memakai pakaiannya.
"Aahh ...!"
Degh!
Rama langsung membelalakkan matanya kala mendengar suara desaahan yang keluar dari mulut Sisil. Pria tampan itu langsung berbalik badan. Keningnya tampak mengernyit sebab melihat wajah Sisil yang berkeringat dan merah, juga selimut yang dia pakai bergerak-gerak.
"Kamu kenapa, Dek? Dan ngapain?" Merasa penasaran, Rama lantas mendekat ke arah kasur dan menyibakkan selimut.
Sontak, kembali dia terbelalak lantaran terkejut melihat pemandangan yang Sisil lakukan.
Gerakan tangan gadis itu yang sejak tadi mengelus-elus langsung terhenti, meskipun sesuatu di dalam sana belum berhasil keluar. Sisil terperangah mendapati dia ketahuan, cepat-cepat dia menutup inti tubuh dan juga kedua pahanya sebab merasa malu sendiri.
"Lho, katanya kamu nggak kepengen bercinta? Kok malah main sendiri? Mana sudah basah lagi?" kekeh Rama. Cepat-cepat dia melepaskan celananya yang baru saja dipakai tadi. Lantas dia naik ke atas kasur, kemudian menindih tubuh gadis itu.
...Malu-malu tapi mau dia, Om 😆...
__ADS_1