Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
140. 10 Minggu


__ADS_3

"Lho, Bapak memangnya lupa, ya?" Evan perlahan berdiri, begitu pun dengan Rama. "Katanya saya akan mendapatkan bonus mobil baru, kalau Pak Rama jadi seorang Ayah. Iya, kan?"


"Iya, sih, tapi kamu 'kan masih diminta untuk mengawasi Gisel."


"Tentang Nona Gisel sih gampang, Pak. Semuanya serahkan kepada saya, " ujar Evan penuh percaya diri, kemudian menepuk dadanya. "Tapi minimal ya Bapak kasih saya bonusnya dulu dong. Itung-itung merayakan hari dimana Bapak memiliki cucu baru."


"Ya sudah, besok aku belikan."


"Yeay!!" Evan melompat-lompat bagaikan anak kecil. Ini merupakan rezeki nomplok untuknya, kapan lagi dia bisa mempunyai mobil baru. 'Kalau aku sudah punya mobil baru, nanti yang lama aku jual deh ... buat tabungan nikah. Nggak mungkin juga, kan, aku terus hidup menduda? Nggak ganti-ganti oli dong, kasihan si Joni,' batinnya.


"Apa aku boleh menemui istriku sekarang, Dok? Apa dia baik-baik saja sekarang?" tanya Rama.


"Istri Bapak baik-baik saja. Tapi sebelum menemuinya, saya ingin memberitahu dulu tentang kehamilannya."


"Kenapa dengan kehamilannya? Dan apa cucuku berjenis kelamin laki-laki?" tanya Mbah Yahya penasaran.


"Kandungan menantu Bapak baru 10 Minggu, terhitung dari terakhir Nona Sisil datang bulan. Jadi belum bisa terlihat jenis kelaminnya, Pak," jelas Dokter itu.


"Tentang kehamilannya tadi gimana, Dok? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Rama penasaran.


"Nona Sisil sedang dimasa morning sickness, Pak. Tidak ada larangan untuk ibu hamil yang ingin berpuasa, tapi kalau dirinya tidak kuat ... tolong jangan dipaksa. Karena kasihan pada janinnya," jelas Dokter itu.


"Morning sickness itu apa memangnya, Dok? Aku kurang mengerti?" tanya Rama.


"Morning sickness adalah salah satu gejala kehamilan berupa mual dan muntah yang paling sering dialami oleh wanita hamil, Pak. Morning sickness biasanya muncul di pagi hari, meski tak menutup kemungkinan bahwa wanita hamil merasa mual di siang, sore, dan malam hari," jelas Dokter panjang lebar.


"Oh gitu. Baiklah, Dok." Rama menganggukkan kepalanya.


"Silahkan Bapak berdua masuk, untuk menemui Nona Sisil." Dokter itu membukakan pintu untuk mereka. "Kebetulan Nona Sisil juga nggak perlu dirawat, boleh langsung pulang. Nanti Bapak ambil obat saja ke apotek untuknya, ya?" Dia menyerahkan selembar kertas berisi resep obat kepada Rama. Dan Mbah Yahya pun mengambilnya, lalu memberikan kepada Evan. Biar dia saja yang mengambilkannya.

__ADS_1


Barulah setelah itu, mereka masuk ke dalam sana. Menghampiri Sisil yang berbaring di tempat pemeriksaan sambil menyentuh perutnya, pandangan matanya itu mengarah pada plafon.


"Dek ...," panggil Rama yang melangkah dengan bahagianya, begitu pun dengan Mbah Yahya yang berada di belakang.


Sisil perlahan menoleh, dan sontak saja matanya terbelalak kala melihat kehadiran Mbah Yahya.


"Om Rama kok ... ah maksudku Aa Rama," ralat Sisil cepat. Dia menarik cepat tubuhnya untuk duduk, wajahnya tampak begitu panik dan juga ketakutan. "Kok Aa sama Daddy ada di sini?"


"Iya, kamu pingsan awalnya dan Daddy yang menyelamatkanmu." Rama langsung memeluk tubuh Sisil, lalu menciumi rambutnya.


"Daddy menyelamatkanku? Apa maksudnya?" Dengan takut-takut, Sisil memandang wajah Mbah Yahya dan pria itu langsung mengulas senyum yang seperti ditunjukkan untuknya.


"Kamu masa lupa, pas naik mobil taksi muntah-muntah terus pingsan. Itu pas banget Daddy datang dan membawamu ke rumah sakit." Mbah Yahya menjelaskan supaya Sisil paham.


"Pingsan? Benarkah?" Sisil sendiri tidak ingat jelas jika memang benar dia sempat pingsan, yang diingat hanya dirinya muntah-muntah.


"Iya, Dek, Daddy benar." Rama merelai pelukannya, lalu duduk di samping Sisil dan mengecup pipi kanannya dengan lembut. "Tapi sekarang kamu baik-baik saja, bahkan kamu membawa kabar baik untuk aku dan Daddy."


"Kamu hamil, Dek. Kita akan menjadi orang tua."


"Apa? Hamil?!" Sisil memekik dengan kedua mata yang melebar sempurna. Dia pun langsung menyentuh perutnya. "Masa, sih, A, aku hamil?" Wajahnya tampak tak percaya.


"Seriusan, masa aku bohong?"


"Daddy harap ... kamu hamil anak laki-laki. Karena Daddy sangat menginginkannya," ucap Mbah Yahya menatap Sisil.


"Laki-laki atau perempuan nggak masalah, Dad, yang penting dia normal dan sehat," tegur Rama. Dia sendiri tidak mempermasalahkan dengan jenis kelamin bayinya, yang terpenting ya itu tadi. Sehat dan normal.


"Tapi Daddy maunya laki-laki. Pokoknya anakmu musti laki-laki, Ram!" tegasnya.

__ADS_1


"Memangnya ... kenapa Daddy kepengen cucu laki-laki?" Sisil memberanikan dirinya untuk bertanya. Aslinya dia merasa takut, sebab ucapan Arya kembali terbayang di dalam otaknya. 'Apa jangan-jangan ... anakku juga akan dijadikan tumbal nantinya? Ah nggak, jangan. Aku nggak mau,' batinnya sambil menelan saliva.


"Kan kamu tau, Daddy belum punya cucu laki-laki. Jadi wajarlah kalau Daddy kepengen cucu laki-laki," ketus Mbah Yahya yang tampak marah, kemudian melangkah menuju pintu keluar. "Ayok pulang, Daddy musti mencari cendol lagi sama Evan," ajaknya lalu menghilang dari balik pintu.


"Cendol?! Cendol buat apaan, A?" tanya Sisil bingung.


"Kok buat apaan? Cendol 'kan, es, Dek, ya buat diminum," jawab Rama. Kemudian membantu Sisil untuk turun dari tempat tidur. "Kata Dokter ... kamu nggak kenapa-kenapa, jadi boleh langsung pulang."


"Kita pulangnya ke apartemen Kakakku, kan, A? Bukan di rumah Daddy?"


"Ke rumah Daddy, Dek. Kamu mau aku gendong atau gimana? Takutnya lemas," tawar Rama penuh perhatian. Dia juga kembali mencium pipi istrinya.


"Aku bisa jalan sendiri. Tapi aku nggak mau pulang ke rumah Daddy, A." Sisil menggelengkan kepalanya.


"Lho kenapa? Bukannya kamu sudah ngomong sama Mommy, ya, kalau mulai malam ini kita tinggal di sana? Mommy bilang ... dia ingin kamu dan dia lebih dekat, Dek."


"Tapi aku takut, A." Sisil menurunkan pandangan dengan penuh kegelisahan, manik matanya pun tampak bergerak-gerak.


"Takutnya kenapa?"


"Takut kalau nantinya aku meninggal. Aku meninggal bersama anakku," jawab Sisil lalu menyentuh perutnya. Dia juga menepis tangan Rama pada bahu serta mundur beberapa langkah.


"Lho, kenapa bisa meninggal? Dan apa hubungannya meninggal dengan tinggal di rumah Daddy?" tanya Rama bingung.


"Aa ini memang nggak tau, apa sengaja berpura-pura nggak tau?" Sisil mengangkat wajahnya, lalu menatap Rama dengan tajam. "Dan apakah ada alasan lain, kenapa Aa mau menikahiku?"


"Lho, Dek, kamu ini bicara apa, sih??" Rama makin bingung dengan arah pembicaraan Sisil. Sikap gadis itu juga mendadak menjadi aneh menurutnya. "Aku menikahimu ya karena aku ingin bertanggung jawab. Masa iya, aku memperko*sa seorang gadis tapi pergi begitu saja? Aku nggak sebre*ngsek itu, Dek!" tambah Rama menegaskan.


"Aa bohong!" teriak Sisil tak percaya.

__ADS_1


"Aku bersumpah, demi Allah," jawab Rama dengan jujur. "Ngapain aku berbohong. Ini bulan puasa. Dan kamu juga perlu tau ... jika burungku nggak akan bisa berdiri kalau bukan karena kamu, Dek."


...Apa belum jelas, juga, Sil?😌 perlu disembur kayaknya si Sisil ini...


__ADS_2