Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
55. Udah jadi ratu kamu hari ini


__ADS_3

Pria itu terbelalak, dan dia tak pingsan. Itu disebabkan jampi Mbah Yahya yang disebutkan memang Berbeda. Hanya saja sekarang, wajah Ganjar menjadi gatal dan agak panas.


"Ini peringatan pertama dan terakhir, jangan coba-coba kamu merendahkan Sisil di depanku atau di depan semua orang!" bentaknya sampai muncrat-muncrat. Air liurnya menyemprot ke wajah merah Ganjar. Dia seolah tahu akan apa yang telah dilakukan pria itu terhadap Sisil. "Kalau sampai kamu melakukannya lagi, nyawamu akan habis di tanganku!" imbuhnya mengancam.


Sorotan mata yang begitu tajam seketika membuat mata pria itu memanas, lehernya juga terasa seperti tercekik padahal Mbah Yahya hanya meremmat kerah kemejanya.


"Ma-maafkan aku, Pak," pintanya dengan terbata. Jantung Ganjar berdebar kencang dan seluruh bulu kuduknya tampak berdiri. Dia tentu merasa takut diancam oleh orang yang menurutnya sakti itu. "Aku mengatakan hal itu karena aku kasihan sama Rama. Rama adalah anak yang baik, rugi kayaknya kalau dia sampai menikah dengan Sisil, Pak."


"Aku yang lebih tau tentang Sisil. Dan asal kau tau saja, alasan Rama menikah dengannya karena ingin tanggung jawab! Di dalam perut gadis itu ada cucuku!" pekiknya penuh amarah. Sengaja Mbah Yahya berkata demikian demi menekankan kalau Rama dan Sisil memang diwajibkan untuk bersama. Mungkin dengan begitu, Ganjar akan tutup mulut.


'Apa katanya? Sisil hamil anak Rama?! Bukannya Rama itu impoten, ya?' batin Ganjar yang tampak bingung.


"Rama itu bukan pria impoten!" tekan Mbah Yahya. Amarahnya yang membabi buta itu membuat seluruh pengunjung cafe ikut heboh, mereka ikut menyaksikan bahkan ada pula yang mengabadikannya lewat video. "Burung Rama normal seperti burung pria pada umumnya, Jar! Sekali lagi kau berpikir Rama impoten, akan kubuat burungmu mati selamanya!" ancamnya.


"Jangan ribut di cafe, Pak!"


Dua orang satpam dari luar tiba-tiba masuk ke dalam, lalu memisahkan mereka berdua. Dilihat wajah Ganjar tampak tertekan. Napasnya tersendat dan perutnya begitu mual.


Bukan hanya air kumur-kumur Mbah Yahya saja yang bau pete, tapi napasnya juga.


"Kurang ajar!" Mbah Yahya perlahan melepaskan kerah kemeja Ganjar, lalu berdiri. "Kau hanya buang-buang waktuku saja. Lebih baik kau urusi cucu laki-lakimu untuk tidak menganggu Sisil lagi!"


Setelah itu, Mbah Yahya melangkahkan kakinya berlalu pergi dari cafe. Sedangkan Ganjar langsung berlari mencari toilet.


Dia ingin cepat-cepat membasuh wajahnya sebab sangat panas dan begitu gatal. Bahkan kedua tangannya tanpa sadar sudah menggaruknya


"Ah sial! Gatal sekali wajahku!" umpatnya di depan cermin wastafel. Ganjar sampai membelalakkan matanya kala menatap wajahnya yang merah seperti udang rebus, juga banyak goresan dipipi akibat lecet terkena kuku.


Namun, dia seolah tak peduli. Dia terus menggaruk sebab makin parah gatalnya.


***


Keesokan harinya di sebuah gedung hotel berbintang lima yang ada di kota Jakarta.

__ADS_1


Tepat jam 7 pagi, Rama sudah bersiap. Dia memakai stelan jas berwarna putih dan dasi kupu-kupu berwarna putih juga.


Tampak begitu tampan dan rupawan. Wajahnya juga begitu fresh dan ceria. Tentunya, momen ini adalah momen yang paling ditunggu yakni hari pernikahannya.


Dalam undangan tertera kalau dia akan melangsungkan proses ijab kabul sekitar jam 8, lalu selanjutnya langsung mengadakan resepsi.


"Dad, di mana Sisil? Kok belum datang?" tanya Rama seraya menghampiri Mbah Yahya.


Pria tua itu tengah duduk di kursi sambil mengelus batu akik berwarna merah, pada jari manis sebelah kiri. Dia juga memakai stelan jas berwarna putih.


"Mungkin belum selesai dandan, Ram," sahut Mbah Yahya.


Berbeda dengan Rama yang memakai pakaian untuk ijab kabulnya di hotel, Sisil justru memakai kebayanya di apartemen. Itu dilakukan atas suruhan Yenny, dia bahkan saat ini berada di apartemen untuk melihat tukang rias yang mendandani menantunya.


Yang Yenny mau, saat Sisil bertemu Rama, gadis itu sudah tampak seperti bidadari. Sebab kemarin, hampir seharian mereka tak bertemu akibat dipingit.


Pasti keduanya nanti akan sama-sama terpesona melihat diri masing-masing dan kemungkinan, benih cinta di hati keduanya akan segera tumbuh.


"Harusnya dandannya di sini saja, Dad, biar aku bisa melihatnya. Kan kalau begini aku jadi khawatir." Rama mengerucutkan bibirnya, lalu duduk di kursi kosong sebelah Mbah Yahya.


"Nggak usah lebay deh, Ram. Di sana 'kan ada Mommy juga, ada Gugun dan asisten Daddy."


"Tapi harusnya aku saja yang jemput Sisil," keluh Rama. Mendadak perasaannya jadi enak, sebab terus memikirkan Sisil yang belum sampai.


"Daripada ngoceh, mending kamu hafalin ijab kabul deh. Jangan bilang nanti lupa," saran Mbah Yahya.


"Inget dong, masa lupa. Dari semalam aku sudah menghafalnya dan sudah hafal."


***


Sementara itu di apartemen Gugun tepat di kamar Sisil, wajah Yenny terlihat begitu merona dan bahagia. Saat dimana menantunya itu telah selesai didandani.


Cantik sekali gadis itu dengan memakai kebaya putih, juga beberapa riasan di atas kepalanya.

__ADS_1


"Kamu cantik dan manis sekali, Nak, Rama pasti sangat tergila-gila pas melihatmu nanti," puji Yenny. Dia juga memakai kebaya berwarna putih.


"Terima kasih, Mom. Tapi ini karena kebayaku yang bagus, mangkanya aku terlihat cantik." Dari pantulan cermin meja riasnya, Sisil dapat melihat wajahnya sendiri yang dia akui kecantikannya jadi bertambah. Ada rona kemerahan yang tampak jelas pada kedua pipinya. 'Aku jadi nggak sabar ingin cepat-cepat malam, mau pakai gaun. Pasti cantik juga sama kayak kebaya ini.'


"Kamunya juga sudah cantik kok, Sayang." Yenny menggandeng Sisil yang baru saja berdiri, kemudian mengajaknya untuk keluar kamar.


Gugun yang tengah duduk langsung berdiri, lalu mengulas senyum dan memperhatikan wajah sang adik.


"Aku cantik nggak, Kak? Udah kayak ratu belum?" tanya Sisil. Dia ingin sekali mendapatkan pujian dari orang yang paling dia sayang.


"Cantik banget, udah jadi ratu kamu hari ini," puji Gugun seraya mengelus lembut pundak adiknya. "Sudah siap ke gedung hotel, Bu?" Menatap ke arah Yenny.


"Iya, ayok berangkat," ajak Yenny mengangguk.


Tiga orang perias lebih dulu keluar dari apartemen, barulah setelah itu mereka bertiga sebab sekalian untuk Gugun mengunci pintu.


Mereka pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai dasar. Saat sudah sampai ketiganya keluar lalu melangkah menuju mobil putih mewah yang terparkir di depan apartemen. Mobil itu dihiasi beberapa bunga mawar pada atapnya.


Seorang pria bernama Evan membukakan pintu mobil pada kursi belakang, untuk mereka. Dia adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Mbah Yahya. Evan yang akan mengantarkan mereka atas permintaan Mbah Yahya.


"Ibu mau duduk sama Sisil?" tanya Gugun setelah Sisil masuk lebih dulu.


"Iya, kamu didepan saja, ya, Gun," pinta Yenny.


Gugun mengangguk, lalu mempersilahkan Yenny masuk. Setelah itu barulah dia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk pada kursi depan.


Mobil itu pun melaju pergi, keluar dari gerbang dan melintasi jalan raya.


Tak lama, sebuah mobil hitam yang berisi dua orang pria berbadan besar langsung melaju. Akan tetapi ia sengaja di belakang.


"Bener, kan, tadi mobilnya, Met?" tanya pria yang mengemudi kepada temannya. Yang duduk di sampingnya.


Temannya itu mengangguk. "Iya, bener."

__ADS_1


...Wah, siapa mereka kira-kira, Guys? 🤔...


__ADS_2