Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
165. Kebutaan


__ADS_3

"Gelap?! Gelap gimana, Ram?" tanya Yenny yang tampak bingung sekaligus terkejut. Dia sampai mendongak menatap langit-langit kamar inap itu, untuk melihat cahaya lampu. Tapi terlihat jelas jika cahayanya begitu terang benderang.


"Kenapa Aa bilang gelap? Ini terang kok, A." Sisil langsung mengibaskan kelima jari tangannya ke wajah Rama. Tapi pria itu sama sekali tak berkedip, bahkan masih memandang kosong. "Kakak! Panggilkan Dokter sekarang, Kak!" teriaknya panik.


Gugun yang mendengarnya pun langsung berlonjak dari sofa, kemudian berlari keluar dari sana untuk memanggil dokter.


Hanya dalam hitungan detik saja, Gugun pun kembali dengan Dokternya Rama dan suster yang membuntut di belakang. Sebab kebetulan, Dokter itu memang hendak menuju kamar Rama. Berniat ingin mengecek kondisinya.


"Dokter! Rama bilang gelap katanya! Cepat periksa kondisi dia, Dok!" perintah Gugun.


"Kalian semua kecuali suster diharapkan keluar dulu," pinta Dokter itu.


"Aa ... hiks!" Sisil sudah menangis histeris, karena merasa takut dengan apa yang terjadi pada diri Rama. Segera, Gugun pun menarik tangannya dan tangan Yenny, untuk sama-sama keluar dari sana.


"Kamu yang tenang, Sil. Rama pasti baik-baik saja." Tibanya diluar, tepat di depan pintu, Gugun langsung memeluk tubuh adiknya. Perempuan itu sudah menangis tersedu-sedu.


"Aku takut Kakak ... dengan mata Aa. Kenapa pas bangun Aa langsung bilang gelap? Sedangkan Kakak 'kan tau, bagaimana terangnya ruangan itu, hiks ...."


"Kita sekarang berdo'a saja, Nak! Kita harus berpikir positif." Yenny langsung menarik Sisil untuk duduk di kursi panjang bersamanya.


Selain mencemaskan keadaan Rama, dia juga begitu mencemaskan keadaan Sisil yang terus terguncang. Apalagi menantunya itu dalam keadaan hamil. Beresiko sekali bagi janinnya.


"Bu Yenny benar, Sil. Yang harus kita lakukan hanya mendoakan Rama, dan berpikir positif," ucap Gugun.


'Ya Allah ... aku sudah senang melihat Aa bangun. Tapi tolong ... jangan biarkan hal lain terjadi pada Aa. Aku ingin Aa segera pulih dan beraktivitas seperti biasanya,' batin Sisil penuh harap, sembari mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipi.


Beberapa menit kemudian, Dokter di dalam tadi kini keluar. Menemui mereka semua yang baru saja berdiri.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Sisil cepat dengan masih menangis.

__ADS_1


"Saya minta Nona dan keluarga tenang dulu. Saya akan menceritakan kondisi Pak Rama."


"Iya, Dok." Yenny mengangguk, kemudian mengusap puncak rambut Sisil. "Jadi bagaimana, Dok?"


"Setelah saya periksa ... kemungkinan besar Pak Rama mengalami kebutaan akibat cidera pada kepalanya. Kasus seperti ini sudah sering sekali terjadi dan bukan hanya Pak Rama saja yang mengalami. Tapi saya harap ini hanya bersifat sementara, karena biasanya semua akan pulih kembali setelah beberapa detik atau menit kemudian. Tapi ... kalau dalam waktu lebih dari 12 jam Pak Rama masih belum bisa melihat apa pun ... saya akan membawanya kembali ke ruang operasi dan melakukan tindakan," papar Dokter itu menjelaskan.


"Apa nanti kita juga butuh pendonor mata, Dok? Buat Rama?" tanya Yenny.


"Tidak perlu, Bu." Dokter menggeleng. "Untuk sementara, Pak Rama akan mengkonsumsi obat yang akan saya resepkan. Khusus untuk matanya. Dan saya harap ... istri serta keluarga Pak Rama jangan terlalu larut dalam kesedihan. Karena ini akan berefek kepada pasien. Kalian harus tegar dan memberikan support kepadanya, karena itu bagus untuk kesehatannya."


"Baik, Dok. Terima kasih." Yenny mengangguk.


"Sama-sama, Bu."


Tak lama seorang suster keluar dari sana, kemudian memberikan selembar kertas kepada Yenny.


"Itu resep obatnya, Bu," ucap Dokter. "Silahkan ambil dan langsung berikan kepada Pak Rama. Tapi diminumnya sesudah makan, ya?"


"Biar aku yang ambil obatnya, Bu." Gugun langsung mengambil selembar resep obat dari tangan Yenny, kemudian berlari pergi dari sana menuju bagian farmasi.


Sisil sendiri memilih untuk masuk lagi ke dalam kamar inap Rama. Dan langsung berlari memeluk tubuhnya yang masih berbaring di atas ranjang.


"Aa!!" serunya dengan menahan tangis.


"Iya, Dek?" Rama menyahut, lalu meraba wajah Sisil sambil mengerjap beberapa kali, terasa basah sekali. Meskipun sudah menahannya, nyatanya air mata Sisil tetap saja terjatuh. "Apa kamu menangis, Dek?"


"Enggak kok, A," kilahnya dengan gelengan kepala. "Aku malah senang, lihat Aa sudah sadar. Aku sempat takut ... kalau Aa kenapa-kenapa. Aku nggak mau kehilangan Aa."


"Apa tadi Dokter bicara sesuatu tentang kondisiku, Dek?"

__ADS_1


"Iya." Sisil mengangguk, lalu mencium telapak tangan Rama. Sangking dekatnya tubuh keduanya—Sisil sampai sudah berbaring di sampingnya sekarang. "Tapi Aa nggak perlu khawatir ... kata Dokter ini hanya bersifat sementara. Sebentar lagi pasti Aa bisa melihat. Aku yakin itu, A."


"Iya, Dek. Mudah-mudahan saja." Rama mengangguk dengan tatapan yang masih kosong. "Tapi, Dek ... kalau misalkan aku buta permanen, apa kamu akan meninggalkanku?"


"Aa nggak boleh ngomong kayak gitu!" tegas Sisil dan bahkan dia langsung membungkam bibir Rama dengan tangannya. "Aa akan baik-baik saja, ingat itu! Dan selamanya aku nggak akan meninggalkan Aa."


"Serius?" Rama menarik tangan Sisil dari bibirnya.


"Serius, A."


"Tapi, Dek, kenapa aku nggak pakai baju dan celana? Apakah Dokter memang melarangnya?" tanya Rama yang baru sadar dengan tubuhnya yang terasa sejuk. Dia juga sekarang tengah meraba dadanya sendiri.


"Oh itu, itu karena aku yang sengaja membukanya, A."


"Kenapa dibuka?"


"Aa berkeringat. Mangkanya aku buka." Sisil gengsi berkata jujur.


"Oh gitu." Rama mengangguk percaya. "Tapi kamu sekarang bisa bantu nggak, pakaikan aku pakaian, Dek?"


"Kenapa pakai pakaian, A? Begini saja udah. Lagian Aa juga 'kan pakai selimut." Sisil membereskan kembali selimut Rama yang turun. Dia letakkan sebatas leher.


"Malu aku, Dek. Apalagi tadi aku dengar ada Kak Gugun."


"Kenapa dengan Kakak? Nggak apa-apa. Kakak 'kan laki-laki juga, sama kayak Aa. Dan dia normal kok." Sisil tampaknya enggan memakaikan Rama pakaian. Karena dirinya lebih senang melihat dada suaminya yang terekspos dengan gamblang.


"Iya, tau. Tapi tetap saja aku malu, Dek. Lagian aku juga kepengen kencing. Masa aku sempaakkan doang, ke kamar mandi?"


"Sebentar ... aku akan bantu Aa turun. Aku ambil kursi roda dulu." Sisil langsung turun dari ranjang, lantas berlari keluar dari kamar inap itu. 'Lumayan ... bisa lihat Aa pipis. Masih bangun nggak, ya, kira-kira burungnya?' batinnya.

__ADS_1


...Yang masih setia baca kasih vote dan hadiahnya dong, Guys. Kalian mau, kan, Author rutin buat up?...


__ADS_2