
"Dia kenapa?" tanya Arya penasaran.
"Dia overdosis obat, Ar. Dia mengkonsumsi obat tidur dengan dosis banyak," jelas Gugun seraya duduk kembali di kursi tunggu. Arya langsung ikut duduk di sampingnya. Tubuh lelaki itu seketika bergetar mendengar apa yang Gugun katakan.
"Kok bisa, Sisil overdosis? Memangnya dia nggak baca aturan pemakaian obatnya dulu?"
"Dokter bilang sih dia seperti berencana ingin bunuh diri."
"Bunuh diri?!" Arya membulatkan matanya dengan lebar. "Kok bisa, Kak? Ada apa sebenarnya? Apa dia punya masalah?"
Gugun terdiam. Dia tampak bingung untuk menjelaskannya. Tetapi disisi lain, orang yang memperkosa Sisil belum berhasil dia temukan. Masih dalam proses pencarian.
Sedangkan keadaan adiknya terlihat tidak baik-baik saja. Jelas sekali karena gadis itu berniat bunuh diri.
"Ada masalah apa?" Arya mengenggam tangan kiri Gugun. Sebetulnya hubungan mereka tidak sedekat itu, hanya saja Arya selalu berusaha mendekatkan diri kepada Gugun. "Coba cerita sama aku, Kak. Barang kali aku bisa membantu."
"Ini tentang masa depan Sisil, Arya."
"Masa depan Sisil?! Maksudnya?"
"Sisil sebenarnya habis ...." Ucapan Gugun terhenti lantaran ruang IGD itu dibuka oleh dua perawat. Kemudian dari dalam keluarlah tiga perawat yang mendorong tempat tidur berisi Sisil yang tengah berbaring dengan mata terpejam.
Gugun dan Arya langsung berdiri. Kemudian mengikuti langkah kaki mereka. Sepertinya mereka akan memindahkan Sisil pada ruang perawatan.
*
*
Tengah malam.
Sisil mengerjapkan matanya secara perlahan. Tetapi dia langsung terbelalak kala melihat Arya tengah duduk di samping Gugun pada sofa panjang. Sekarang dia ada di salah satu kamar inap VIP.
'Kak Arya?! Kok dia bisa ada di sini? Apa Kakak yang memberitahunya dan apa dia sudah tahu aku nggak suci lagi?' batin Sisil dengan hati terenyuh.
"Eh, Sil. Alhamdulillah kamu sudah bangun," ucap Arya yang baru saja menoleh kepadanya. Gugun juga ikut menatap Sisil sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Kakak mau ngapain ke sini?"
__ADS_1
Pertanyaan Sisil membuat langkah kaki Arya yang hendak menghampirinya terhenti sejenak. Tetapi dia meneruskan sampai akhirnya duduk di kursi kecil di dekat ranjang.
"Kok mau ngapain? Justru harusnya aku tanya, kenapa kata Kak Gugun kamu mengalami overdosis obat? Apa benar, kamu berencana bunuh diri? Tapi apa alasannya?" Wajah Arya tampak mencemaskannya. Lengan kanannya terulur untuk menyentuh punggung tangan Sisil, lalu mengelusnya dengan lembut.
Sisil menatap ke arah Gugun. "Aku ingin bicara sama Kakakku. Kakak pulang saja, aku juga lagi nggak kepengen ketemu siapa-siapa." Menggeleng pelan dan menarik tangannya yang bersentuhan dengan tangan Arya.
"Lho, kenapa?" Arya tampak bingung. Selain wajahnya pucat dan lesu, Sisil juga muram seperti tak ada gairah. "Apa aku punya salah sama kamu, Sil? Dan kenapa kamu dari kemarin nggak masuk kuliah?"
Bukannya menjawab, Sisil justru memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Arya, kamu pulang saja dulu, udah malam juga." Gugun mendekati Arya, kemudian mengusap bahunya dengan lembut. "Biarkan Sisil istirahat."
"Ya sudah kalau begitu. Besok biar aku datang lagi ya, Kak?" Walau masih penasaran dan heran dengan sikap aneh pacarnya, tetapi Arya tak mau egois. Kesehatan pacarnya sekarang jauh lebih penting, dia tak mau membuat kesehatannya memburuk. "Tapi bubur dan buah dariku jangan lupa dimakan ya, Sil? Kamu jaga kesehatan dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh." Arya berdiri, lalu mengusap rambut kepala gadis itu seraya berbisik, "Aku mencintaimu."
Bisikan itu bukan hanya didengar oleh Sisil, tetapi Gugun juga mampu mendengarnya.
'Aku juga mencintai Kakak. Maafin aku karena secara nggak langsung telah mengkhianati Kakak. Tapi apakah Kakak bisa menerimaku?' batin Sisil.
Arya tersenyum pada Gugun. Kemudian melangkah keluar dari kamar. Sekarang, Gugun yang berganti duduk di kursi kecil di samping Sisil.
Perlahan dia pun membuang napasnya dengan gusar. Lantas meraih mangkuk di atas nakas yang berisi bubur ayam. Itu Arya yang membelikan tadi.
"Siapa yang mau bunuh diri? Nggak kok," elak Sisil sambil menggeleng.
"Nggak usah bohong kamu, Sil. Kakak tahu itu. Kakak benar-benar kecewa padamu. Kakak kira ... kamu menyayangi Kakak, tapi nyatanya nggak."
Sisil menoleh. Wajahnya sudah basah terkena air mata. Rupanya dia tadi sempat menangis. "Aku sangat menyayangi Kakak. Malah, apa yang aku lakukan supaya Kakak bahagia."
"Bahagia apanya? Mana ada seorang Kakak bahagia melihat adiknya mati bunuh diri. Ngaco kamu!" berangnya marah. "Kakak tahu, mungkin saat ini adalah hal yang terburuk dalam hidupmu. Tapi bunuh diri bukanlah jalan terbaik, Sil. Yang ada kamu nanti masuk neraka. Mau kamu? Katanya kamu mau kita masuk surga bersama, gimana, sih?" Gugun mendengkus.
Perlahan dia pun mengulurkan tangan yang sudah memegang sendok berisi bubur ke arah bibir Sisil. Gadis itu langsung membuka mulut dan mengunyahnya pelan-pelan kemudian menyeka bekas air mata di pipi.
"Maafin aku, Kak," lirih Sisil dengan sendu.
Tadi dia benar-benar merasa frustasi sampai nekat bunuh diri. Dia juga berpikir kalau hidupnya sudah sia-sia. Selama ini, setiap masalah atau hal apa pun selalu Sisil curahkan kepada Gugun.
Pria itu bukan hanya menjadi sosok Kakak yang baik, tetapi juga bisa menggantikan vigur orang tua untuknya. Yang Sisil lakukan hanya menjadi beban, jadi dia berpikir kalau dengan bunuh diri—bukan hanya beban di hidupnya saja yang akan hilang, tetapi beban di hidup Gugun juga
__ADS_1
Memang pendek sekali pikirannya itu.
"Hanya maaf? Apa alasanmu melakukan hal itu?" tanya Gugun dengan suara tegas.
"Aku merasa frustasi, Kak," jawabnya dan langsung menangis. "Aku takut Kak Arya meninggalkanku dan aku juga takut hamil." Menyentuh perutnya yang berbunyi suara cacing.
"Kenapa tadi kamu nggak bicara sama Arya tentang hal yang kamu alami? Kenapa kamu justru mengusirnya?"
"Aku nggak berani bilang." Sisil menggeleng cepat. "Aku malu dan takut."
"Ya sudah. Nanti biar Kakak saja yang bilang padanya, bagaimana?" tawar Gugun.
"Kalau nanti Kak Aryanya langsung minta putus terus bagaimana?"
"Ya sudah tinggal putus, ribet amat?" omel Gugun kesal.
"Dih, katanya Kakak bilang takut kalau aku hamil?"
"Kan masih ada pria yang memperkosamu itu, biarkan dia saja ...." Ucapan Gugun menggantung kala terdengar suara ponselnya berdering begitulah kencang.
Pria itu merogoh saku jasnya. Ternyata itu adalah sebuah panggilan masuk dari Hersa, teman sekaligus tetangga apartemennya. Lantas, Gugun pun segera mengangkat dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.
"Halo," ucap Gugun.
"Halo, Gun. Kamu di mana?" tanya Hersa.
"Ada di rumah sakit. Kenapa emang?"
"Di depan pintu apartemenmu ada dua orang pria nggak tahu siapa, Gun. Kamu pulang deh."
"Adikku dirawat, Sa. Memang mereka siapa?"
"Kan aku sudah kasih tahu kamu, aku juga nggak tahu."
"Coba kamu tanya saja ada keperluan apa. Aku nggak punya hutang apa-apa sama orang soalnya." Gugun berpikir kalau mungkin dua orang yang Hersa maksud datang dengan tujuan menagih hutang. Kalau benar, berarti mereka salah alamat.
"Masalahnya mereka tidur, mana yang aki-aki ngorok dengan mulut menganga lagi. Udah gitu wajahnya serem banget, Gun."
__ADS_1
...Kasihan banget yang mau ngelamar 🤣 Ampe ketiduran 🤭...