
Sayangnya, Gugun di sana tengah melaksanakan sholat. Otomatis, ilmu ghaib tak akan bisa masuk jika targetnya tengah melakukan ibadah.
Jadi, Mbah Yahya mengirim pelet melalui jalan alternatif lain, yaitu mengirimkan beberapa paku payung pada sudut ruangan apartemennya.
Kalau sampai Gugun berhasil menginjak salah satunya, bukan luka yang dia dapatkan. Melainkan masuknya pelet ke dalam tubuh.
Namun perlu diingat, berkhasiat atau tidaknya pelet itu tergantung bawaan tubuh masing-masing. Tidak ada jaminan, seperti layaknya kita meminum obat.
Setelah itu, barulah Mbah Yahya berpindah kepada Tuti. Dia meraba foto Gugun, lalu berkomat-kamit dan menenggak air pada kendi. Berkumur-kumur sebentar lalu menyembur wajah Tuti tanpa permisi. Dan pelet itu berhasil masuk ke dalam tubuhnya.
Byur!!
Tuti terbelalak. Dia jelas kaget sebab apa yang dilakukan Mbah Yahya begitu tiba-tiba. Padahal dia sempat melamun tadi.
'Kok aku disembur? Apa ini artinya santetnya sudah berhasil dikirim?' batin Tuti. Dia tersenyum tipis saat Mbah Yahya membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Sekarang kamu keluar, ini sudah selesai," ucap Mbah Yahya lalu mengusap bibirnya sisa air.
"Santetnya sudah dikirim, Pak?" tanya Tuti memastikan, lalu meraup wajahnya. Tidak tercium aroma jigong, malah wangi seperti bunga melati.
"Sudah." Mbah Yahya mengangguk.
"Tapi kok ... fotonya Pak Gugun nggak diapa-apain?!" Kening Tuti mengernyit. Dia menatap heran foto yang hanya diraba-raba saja tadi.
"Memangnya harus diapain?!" Mbah Yahya berbalik tanya, berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Setahu saya ... orang santet itu 'kan ngirim sesuatu yang ghaib, yang akan menyakiti si target. Jadi fotonya harus ditusuk-tusuk, Pak," jelas Tuti.
"Tahu dari mana kamu kalau santet pakai tusuk-tusuk foto segala?"
"Aku lihat di adegan film yang pernah aku tonton, Pak."
"Itu hanya adegan film. Film 'kan bohongan berikut dengan dukunnya. Ini 'kan dunia nyata, Tut, dan aku adalah dukun sakti," jelas Mbah Yahya memberitahu.
"Iya juga sih, Pak." Tuti mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba mempercayai apa yang dikatakan pria tua di depannya.
"Ya sudah, sekarang kamu keluar. Aku mau siap-siap dulu biar kita bisa pulang bareng," titah Mbah Yahya.
"Iya, Pak." Tuti pun berdiri, kemudian membungkuk dan melangkah keluar dari sana lalu menutup pintu.
Mbah Yahya menghela napasnya dengan berat, lalu mematikan menyan yang masih menyala. 'Semoga saja ada satu paku yang Gugun injak, biar peletku berhasil,' batin Mbah Yahya penuh harap.
^^^Keesokan harinya di Seoul, Korea Selatan.^^^
Sisil mengerjapkan-ngerjapkan matanya secara perlahan. Lalu meringis sambil menyentuh miliknya sendiri yang terasa perih.
Kemarin, hampir seharian aktifitasnya hanya bercinta. Bahkan makan pun hanya buah strawberry saja.
Sekarang, yang tersisa hanya rasa sakitnya. Entah dari miliknya, perut hingga sekujur tubuh. Tapi, Sisil tak memungkiri jika ada kepuasan tersendiri saat dirinya dan Rama selesai melakukan adegan percintaan. Meskipun terkadang gengsi untuk mengutarakan.
Sisil lantas menggeserkan kepalanya ke arah samping, di mana dia yakini Rama ada di sana seperti kemarin. Akan tetapi, pria itu justru tidak ada.
__ADS_1
"Lho, Om Rama ke mana? Apa sudah bangun?!" gumamnya. Sisil langsung beralih menatap ke arah jam weker, di sana terlihat pukul 6 pagi.
"Om Rama!" panggil Sisil berteriak. Pelan-pelan dia menarik tubuhnya untuk duduk, lalu melilitkan selimut sebatas dada.
Kedua kaki itu dia turunkan untuk menyentuh lantai, lalu perlahan berdiri sambil memegang dipan ranjang supaya tak jatuh. Sebab kepalanya sempat terasa berkunang-kunang.
Hal pertama yang Sisil lakukan adalah ke kamar mandi, mengecek pria itu ke dalam sana. Mungkin sedang mandi.
"Om Rama!" Namun saat pintunya dibuka, ternyata kosong. Tak ada Rama.
Dengan langkah tertatih-tatih, Sisil keluar dari kamarnya. Dan entah mengapa, mendadak ada perasaan takut yang menyelimuti diri kalau sampai suaminya itu bertemu lagi dengan Fuji. Sungguh, dia sangat tidak mau jika hal itu sampai terjadi.
"Om Rama!" pekiknya lagi.
Dari lantai atas, Sisil melihat ke bawah, tepat di mana ruang tamu itu berada. Sayangnya lagi, tak ada juga Rama di sana.
"Ke mana Om Rama?! Jangan bilang dia menemui Fuji tanpa sepengetahuanku?!" Pikiran negatif mulai mengisi otak Sisil. Dia langsung menyentuh dadanya yang sontak berdenyut. Baru membayangkan saja sudah terasa sakitnya, apa lagi jika beneran?
"Nggak!" Sisil menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku nggak rela Om Rama ketemu sama wanita ganjen itu, apalagi kalau sampai Fuji mengelus pundaknya lagi. Om Ram 'kan suamiku, jadi dia hanya milikku, kan?"
Dengan rasa cemas dan debaran di dalam dada, Sisil pun berlari cepat turun dari anak tangga.
Hingga dirinya tak sadar, jika apa yang dilakukannya membuat kedua kakinya membelit selimut. Alhasil, belum juga sampai tapi tubuhnya sudah tumbang.
"Aakkhh!" jerit Sisil dengan keterkejutannya.
__ADS_1
...Aduh, mana ini Om Ramanya sih 😤...