Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
113. Mereka terlihat sangat dekat


__ADS_3

Evan yang juga melihat dari kejauhan, sontak terbelalak. Dia sama terkejutnya dan dengan refleks menyentuh pipi kiri. Tempat dimana Gisel menyium Gugun.


'Kok pakai dicium segala Pak Gugunnya? Buat aku iri saja,' batinnya kesal. Mengingat jika dirinya sudah cukup lama menduda dan sekarang belum memiliki calon. 'Tapi masa sih, mereka pacaran.' Meski sudah melihat semua itu, nyatanya Evan masih meragukan hubungan di antara keduanya.


Sementara itu, Gugun masih terpaku di tempat, tapi sorotan matanya tak lepas memandangi Gisel yang melangkah pergi sambil melambaikan tangan. Kemudian gadis itu pun masuk ke dalam mobil taksi yang baru saja diberhentikan.


Untuk pertama kalinya, Gugun dicium perempuan selain adiknya sendiri dan tentunya hal tersebut membuatnya terkesima.


Sebetulnya perempuan pertama itu adalah Tuti tomboi, tapi sayangnya Gugun tak menganggap dia adalah perempuan. Jadi yang dianggap orang pertama setelah adiknya adalah Gisel.


'Apa Nona Gisel benar-benar suka padaku? Tapi masa sih, bisa cepat ini? Kita 'kan baru kenal,' batin Gugun heran. Tapi dilihat kini wajahnya langsung merona.


Drrrtt ... Drrrtt ... Drrrtt.


Getaran ponsel Gugun yang berada disaku celana seketika membuyarkan semua lamunannya. Pria berkumis lele itu segera merogohnya ke dalam, ternyata ada sebuah panggilan masuk nomor tak dikenal.


Sembari masuk ke dalam kantor, Gugun pun mengangkat panggilan itu.


"Siang Pak Gugun. Eh, assalamualaikum," ralatnya. Itu suara seorang perempuan.


"Siang juga, walaikum salam. Ini dengan siapa?" tanya Gugun, lantas masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


"Aku Tuti, Pak, maaf aku menganggu Bapak. Soalnya aku chat Bapak nggak dibalas-balas daritadi."


"Oh benarkah Nona chat saya?" Gugun menarik ponselnya yang sejak tadi berada ditelinga, lalu mengecek ponselnya.


Ternyata benar, ada dua chat masuk yang isinya sapaan selamat siang dan maaf kalau menganggu, serta meminta nomor bengkel.


Gugun langsung membalas pesan tersebut, kemudian mengirimkan nomor bengkel. Setelah itu dia menempelkan benda pipih itu kembali ke telinga kanan.


"Maaf ya, Nona, saya nggak tau Nona chat. Tapi sudah dikirim kok nomor bengkelnya," ucap Gugun dengan perasaan tak enak.


"Terima kasih, Pak. Ya sudah, aku tutup teleponnya selamat siang."


"Sama-sama. Selamat siang juga." Gugun tersenyum lalu mematikan panggilannya. Nomor Tuti pun langsung dia save dengan nama 'Nona Manis Berkerudung'


***

__ADS_1


'Pasti Mas Gugun langsung jatuh cinta sama aku karena habis kucium tadi,' batin Gisel dengan penuh percaya diri.


Apa yang dilakukannya tadi memang seperti sebuah pancingan, demi meluluhkan hati Gugun.


Namun tanpa sadar, dia pun menyentuh bibirnya sendiri. Rasa-rasanya pipi Gugun yang terasa lembut masih membekas di bibirnya. Selain itu, dia juga sempat mencium aroma wangi.


'Ternyata meskipun pria berkumis ... Mas Gugun ini orangnya sangat bersih juga, ya. Terbukti karena wangi juga.'


"Nona!"


Seseorang dari belakang menyeru hingga mengagetkannya. Gisel yang hendak membuka pintu apartemen langsung urung dilakukan, lantas dirinya berbalik badan.


"Ada apa?!" tanya Gise dengan ketus. Tangannya pun bersedekap. Di depannya adalah Evan, lagi-lagi pria itu seperti hantu yang selalu saja tiba-tiba ada dan membuatnya kaget.


"Judes amat sih, nanti cantiknya hilang lho," kekeh Evan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Gisel memutar bola matanya dengan malas, dia lantas meraih gagang pintu hendak dibuka, tapi tangan Evan langsung menahannya.


"Saya ingin tanya sesuatu dulu sama Nona, sebentar," pintanya.


"Nanya apa?! Tapi nggak perlu pegang-pegang lah!" berangnya marah, lalu menepis kasar tangan Evan demi tak menghalangi jalan.


"Bukan urusanmu!" tegasnya. Cepat-cepat Gisel pun masuk ke dalam apartemen, lalu menutup pintu dengan sekali hentakan dan mengunci dengan rapat.


Brakk!!


Tangan Evan mengepal diudara hendak mengetuk pintu tersebut, akan tetapi dia pun mengurungkan niat sebab pastinya gadis itu tak akan mau membukakan pintu.


"Cih! Sombongnya!" Evan berdecih sebal dengan bibir yang menggeriting. "Giliran sama Pak Gugun nyosor, tapi ditanyain aku baik-baik malah ketus. Kupelet mampus kau, Sel!" geramnya.


Evan pun memilih pergi dari sana, kemudian menunggangi mobilnya menuju rumah praktek Mbah Yahya. Dia akan melaporkan semua yang telah dilihatnya tadi kepada sang bos.


*


*


Di depan pintu kamar praktek, Evan berdiri dan menunggu pasien yang belum keluar. Sebab tak mungkin juga dia menganggu bosnya, bisa-bisa kena sembur.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, pintu itu pun dibuka dan keluarlah seorang pria berbadan gendut, lalu tersenyum menatapnya.


"Sudah selesai, Pak?" tanya Evan dengan ramah.


"Sudah. Mari, Pak." Dia mengangguk, lalu berlari pergi.


"Assalamualaikum, Pak, ini Evan!" seru Evan seraya mengetuk pintu.


"Masuk, Van!" Mbah Yahya menyeru dari dalam.


Perlahan Evan meraih handle pintu, lalu menurunkannya. Setelah itu dia mendorong seraya melangkah masuk, kemudian menutup pintunya kembali.


"Van, belikan aku bakso setan gih sana! Aku laper!" perintah Mbah Yahya seraya mengusap perutnya.


Pria tua berjenggot itu tengah duduk bersila di atas tikar, dia memakai pakaian prakteknya yakni jubah hitam.


"Memangnya setan bisa jualan, Pak?" tanya Evan bingung.


"Dih, bukan baksonya setan. Tapi namanya bakso setan, Van," jelas Mbah Yahya. "Itu hanya nama, tapi pasti ada kok yang jual kalau kamu cari keliling."


"Oke, saya akan belikan. Tapi sebelumnya saya ingin laporan tentang Nona Gisel kepada Bapak."


"Kenapa dengannya?"


"Dari pagi saya mengikuti dia, sampai tadi, Pak. Eh, ternyata Nona Gisel ketemu sama Pak Gugun," tutur Evan memberitahu. Raut wajahnya terlihat begitu kesal mengingat dengan respon Gisel yang begitu ketus menjawab pertanyaannya.


"Gugun siapa?"


"Gugun Kakaknya Nona Sisil, masa Bapak lupa?"


"Oh. Tapi 'kan nama Gugun banyak, Van. Terus ... kenapa dengan dia ketemu Gugun? Aku baru tau Gisel dan Gugun saling mengenal."


"Saya juga baru tau. Tapi mereka terlihat sangat dekat, Pak, sampai-sampai Nona Gisel sempat mencium Pak Gugun," jelasnya lagi.


Mbah Yahya sontak melebarkan matanya dengan sempurna. "Masa, sih? Serius, kamu, Van?" tanyanya tak menyangka.


"Iya." Evan mengangguk cepat. "Saya sudah tanya Nona Gisel, ada hubungan apa antara dia dan Pak Gugun, tapi dia nggak menjawabnya, Pak."

__ADS_1


"Itu pas dicium ... respon Gugun seperti apa? Apa dia marah?" tanya Mbah Yahya penasaran. Dia juga menjadi teringat saat dimana Tuti dan Gugun berciuman, tapi setelah itu Gugun justru marah-marah.


...Seneng lah, Mbah, secara Gisel kan cantik 🤣...


__ADS_2