
"Ini roti sama bingkisannya taruh di mana ya, Pak?" tanya seorang pria yang memegang beberapa seserahan di tangannya.
"Tolong diterima ya, Gun. Itu aku yang membelinya dadakan lho, spesial untuk Sisil," ucap Yenny menatap calon besannya.
"Tentu diterima dong, Bu," jawab Gugun sambil tersenyum manis. "Sisil pasti senang dan aku sangat berterima kasih. Ibu sampai repot-repot beli seserahan segala."
"Nggak apa-apa, namanya untuk calon menantu perempuan satu-satunya." Yenny menatap ke arah Sisil yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi dan dua cangkir teh. Dia pun langsung menyajikannya di atas meja.
"Taruh di kamar Sisil saja, Pak." Gugun melebarkan pintu kamar Sisil yang sudah terbuka sedikit, kemudian kedua pria itu meletakkannya di atas kasur.
"Sudah selesai ya, Bu. Kalau begitu kami pamit," ucap pria itu sembari membungkuk ke depan Yenny. Wanita tua itu pun mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih, ya?"
"Sama-sama."
Setelah dua pria itu melangkah pergi, Gugun langsung duduk pada sofa single. Dia juga menarik lengan Sisil untuk duduk di sofa single yang satunya, yang kebetulan berada di sampingnya.
"Kak, aku belum menambal make up," bisik Sisil pelan ke telinga kanan Gugun, akan tetapi Rama dapat mendengarnya. Dia langsung tersenyum.
'Kenapa musti ditambal segala, Sil? Memang wajahmu ban? Kamu sudah cantik, bahkan meskipun belum mandi,' batin Rama. Dia merasa ge'er, mengira kalau apa yang dilakukan Sisil pasti untuk dirinya.
__ADS_1
"Nggak usah deh, begini saja kamu sudah cantik." Gugun menjawabnya dengan lirih, lalu mengusap rambut Sisil. "Sekali lagi terima kasih atas kedatangannya, mari diminum dulu," ucap Gugun sambil tersenyum menatap orang tua Rama. Dia pun menggerakkan tangannya ke arah meja.
"Masih panas kali, Gun, kamu mau buat lidah kami kebakar?" omel Mbah Yahya. Baru memegang cangkir saja rasanya sudah panas. Apalagi menyeruputnya? Pikirnya dalam hati.
Namun, Rama justru menyeruputnya sedikit demi menghargai permintaan Gugun dan dia juga tak sabar ingin merasakan kopi buatan calon istri. "Eemm ... kopinya enak sekali, Sil. Kamu pintar buatnya," pujinya lalu meletakkan kembali cangkir di tangannya. "Terima kasih, ya, manis juga rasanya, kayak kamu."
"Nggak usah lebay, orang—"
"Ah, jadi apa kalian sudah menentukan tanggalnya?" Gugun langsung menyela ucapan adiknya dengan cepat. Sebab dia tak mau Sisil bicara tidak sopan kepada Rama. Akan tetapi matanya melirik ke arah Sisil dengan tajam, mengisyaratkan sesuatu. Gadis itu pun langsung mengangguk dan seolah mengerti maksudnya.
'Ah lagian Om Tua lebay banget. Kayak baru minum kopi saja bilang enak segala. Itu 'kan kopi instan yang aku buat,' batin Sisil dongkol.
"Lusa, Gun," sahut Mbah Yahya.
"Iya, Dad, harusnya besok saja." Rama menimpali.
"Itu sudah masuk perhitungan Daddy, yang bagus adalah lusa," jawab Mbah Yahya. "Rencana hari ini juga mau cetak undangan dan langsung disebar. Tapi sebelumnya ...." Mbah Yahya menoleh ke arah Gugun. "Aku ingin tahu nama orang tua kalian dulu, biar enak nanti pas ada di undangannya."
"Oh, nama Papa kami Adiguna Zulkifli, Pak," jawab Gugun. "Tapi sudah almarhum. Kalau Mama namanya Arumi."
"Kalian hanya dua bersaudara? Apa ada lagi?" tanya Yenny penasaran.
__ADS_1
"Kalau dari Papa, hanya aku dan Sisil. Tapi kalau dari Mama ... aku sendiri nggak tahu, soalnya Mama nggak ada di sini dan sudah menikah lagi," jelas Gugun.
"Tinggal di mana memangnya?" tanya Yenny.
"Di Arab, awalnya jadi TKW. Tapi kayaknya Mama kepincut sama orang sana, jadi menikah."
"Oh, sama orang Arab?" tebak Yenny.
"Iya. Aku sendiri nggak tahu Mama sudah punya anak lagi atau nggak dengan suami barunya, soalnya sudah lama nomornya nggak aktif, Bu," jelas Gugun.
"Memangnya dia sudah berapa lama kerja di Arab? Dan apa sudah pernah pulang?"
"Belum." Gugun menggeleng. "Semenjak Papa meninggal 9 tahun yang lalu, Mama langsung berangkat ke Saudi, terus nggak pulang-pulang sampai sekarang. Terakhir menghubungi mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Iya, kan, Sil?" Menoleh ke arah adiknya. Sisil hanya mengangguk sebagai jawaban. "Itu juga susah banget, Bu, dari pagi sampai malam aku telepon ... baru dia angkat."
"Oh, berarti dari Sisil umur 10 tahun dong, kalian tinggal hanya berdua. Kamu sendiri sudah menikah?" tanya Yenny.
"Belum." Gugun menggeleng samar.
Sisil hanya menjadi pendengar dengan apa yang mereka bahas. Akan tetapi, seketika merasa seperti dejavu. Teringat dengan pembahasan mengenai keluarganya di rumah Arya.
Hanya saja yang berbeda, orang tua Rama sama sekali tidak menyinggung masalah harta yang mereka miliki, berbeda jauh dengan orang tua Arya.
__ADS_1
'Semoga saja orang tua Om Tua dua-duanya memang benar-benar baik, nggak suka merendahkan aku dan Kakak dalam urusan harta yang kita punya. Kasihan Kakak,' batin Sisil lalu menatap Gugun sambil tersenyum.
...Memang baik kok mereka, Sil. Kamunya aja yang suka berpikir negatif 😆...